ga('send', 'pageview');
Cerita Sukses Pemuda Kotabaru di Jepang dan Gaet Wanita Mualaf Ribuan Gram Sabu Gagal Edar, BNN Kalsel Diapresiasi Pusat Banjir di Pelaihari, Warga Diminta Waspada Hujan Susulan Dulu Bugar, ‘Kai Api’ Kini Ringkih di RS Ansari Saleh Lagi, Covid-19 Renggut Nyawa Nakes di Puskesmas Banjarmasin




Home Sport

Selasa, 26 Mei 2020 - 07:00 WIB

Rahasia Dibalik Keajaiban Liverpool Raih Liga Champions di Turki

Redaksi - Apahabar.com

Skuat Liverpool sukses membuat keajaiban di final Liga Champions 2005 dengan mengalahkan AC Milan lewat adu penalti, usai bermain imbang 3-3. Foto-net

Skuat Liverpool sukses membuat keajaiban di final Liga Champions 2005 dengan mengalahkan AC Milan lewat adu penalti, usai bermain imbang 3-3. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Mei, 15 tahun silam, Liverpool berhasil menjuarai Liga Champions di Istambul, Turki.

Di final, pasukan Rafael Benitez tersebut sukses mempecundangi raksasa Italia, AC Milan.

Pada hari ini, 25 Mei 2005, The Reds menang 3-2 lewat adu penalti di Stadion Ataturk.

Jamie Carragher dan kawan-kawan tidak saja juara. Tapi juga menciptakan keajaiban pada malam itu.

Pasalnya, Liverpool yang sudah tertinggal 0-3 di babak pertama. Namun, sanggup menyamakan kedudukan di babak kedua.

Dan hingga akhirnya menang lewat adu penalti.

Di situs resmi Liverpool, Benitez ingin menyebutkan rahasia dibalik keajaiban itu.

Terutama dalam kesuksesan taktik serta kemampuan timnya dalam memberikan perlawanan sampai bisa menumbangkan Milan.

Benitez mengaku, Liverpool kala itu tidak diunggulkan.

Berbanding terbalik dengan Milan yang juara Liga Champions dua musim sebelumnya sekaligus juara bertahan Liga Italia.

Meski tidak diunggulkan, Benitez merasa timnya cukup percaya diri berada di final.
Masalahnya hanya saja, kesalahan membuat mereka tertinggal 0-3 lebih dulu di babak pertama.

Masing-masing lewat gol Paolo Maldini di menit pertama dan dua gol Hernan Crespo (39′ serta 44′).

Baca juga :  Klasemen Sementara Serie A Usai Ronaldo Selamatkan Juve dari Kekalahan

“Saya mencoba menjaga semangat kompetitif di dalam tim, dan saya pikir dengan sedikit keberuntungan kami bisa jadi tim yang lebih baik,” kata Benitez dikutip dari situs Liverpool.

Lantas, Benitez memasukkan gelandang Dietmar Hammann di awal babak kedua menggantikan bek kanan Steve Finnan.
Liverpool pun memainkan tiga bek tengah di 45 menit babak kedua dengan menumpuk pemain di lini tengah.

Dengan strategi tersebut, Steven Gerrard (54′), Vladimir Smicer (56′) dan Xabi Alonso (60′) sukses menyamakan kedudukan.

“Kami membaik ketika beralih dengan tiga pemain di belakang, yang memberi kami lebih banyak kontrol di lini tengah,” tutur pelatih asal Spanyol itu.

Mantan pelatih Napoli itu tahu, Carlo Ancelotti yang pada masa tersebut melatih Milan, masih memiliki senjata lain guna menggempur pertahanan lawan.

Ancelotti memainkan winger lincah, Serginho, di menit-menit akhir.

Namun, Liverpool yang kehabisan stok pemain pengganti tidak kehilangan akal.

Caranya, Benitez menarik Gerrard turun ke belakang menjadi bek kanan.

Baca juga :  Klasemen Sementara Serie A Usai Ronaldo Selamatkan Juve dari Kekalahan

Langkah tersebut cukup efektif menghambat serangan Rossoneri dari Serginho.

Tak hanya itu sekaligus membuat Liverpool tidak lagi kebobolan untuk keempat kalinya.

“Anda harus tahu pemain Anda. Dialah [Gerrard] yang memiliki lebih banyak energi,” ucap Benitez.

Final itu dipersiapkan secara detail oleh Benitez, termasuk rencana adu penalti.

Tim pelatih Liverpool memiliki informasi dan statistik tentang eksekutor-eksekutor penalti dari Milan.

Hasilnya, kiper Jerzy Dudek sukses mementahkan dua penalti dari Andrea Pirlo dan Andriy Shevchenko, sedangkan sepakan Serginho melayang di atas mistar.

Sementara itu, pencetak gol Liverpool dalam adu penalti adalah: Hamann, Djibril Cisse, dan Smicer. Tendangan John Arne Riise diblok Dida.

“Ketika menuju penalti, itu adalah hasil dari keberuntungan dan kerja keras karena lima penendang penalti Milan. Kami tahu empat di antaranya sangat baik dan di mana biasanya mereka menembak,” tutur Benitez.

Gelar Liga Champions tersebut jadi yang pertama bagi Liverpool setelah 21 tahun. Kali terakhir Liverpool juara Liga Champions sebelum itu pada musim 1983/1984.(cnni)

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sport

Jenazah Istri Spaso Dibawa Siang Ini
apahabar.com

Sport

Resmi Tangani Persipura, Jacksen Hadapi Barito Bulan Agustus
apahabar.com

Sport

Asa Penembak Banua di Pelatnas
apahabar.com

Sport

Ambisi Yunan Membalas Kekalahan, Berikut Link Live Streaming Borneo FC vs Barito
apahabar.com

Sport

Memori 1983, Sengitnya Duel Legendaris Icuk Sugiarto vs Liem Swie King
apahabar.com

Sport

Resmi Rekrut Rafael da Silva, Barito Berharap Bisa Juara
apahabar.com

Sport

Link Live Streaming Barito vs Bhayangkara, Awas Kehilangan Fokus !
apahabar.com

Sport

Hadapi Thailand, Rizky Pora: ’’Kami Harus Optimistis’’
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com