Cerita Sukses Trader Forex Banjarmasin, Modal Rp 15 Juta Berangkatkan Umrah Keluarga 3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa?

Ramadan yang Sebentar Lagi Meninggalkan Kita

- Apahabar.com Rabu, 20 Mei 2020 - 16:46 WIB

Ramadan yang Sebentar Lagi Meninggalkan Kita

Ilustrasi. Foto-SuaraMuhammadiyah.id

Oleh Aditya Irfiandi

Sebentar lagi bulan yang agung dan penuh kemuliaan ini akan meninggalkan kita. Ada banyak cerita dan peristiwa yang begitu sulit dilupakan pada Ramadan kali ini, entah oleh generasi sekarang, dan juga untuk generasi anak cucu kita nanti.

Ramadan tahun ini memang sangat berbeda. Sebagian besar masjid dan musala ditutup. Lantunan selawat nyaris tak terdengar lagi. Tak ada orang yang melaksanakan tadarus Al-Qur’an. Lalu, di setiap tempat ibadah dipasangi spanduk berisi imbauan agar masyarakat bersama-sama mewaspadai dan melawan Covid-19.

Tahun lalu, kami masih bisa mengisi Ramadan dengan keceriaan. Kami bisa menggelar buka puasa bersama. Salat tarawih pun bisa dilakukan di banyak tempat. Dan biasanya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, saya dan keluarga bisa beri’tikaf di masjid dengan nyaman dan tenang seperti yang dicontohkan Rasulullah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

Sabda nabi yang lainnya dapat dilihat pada hadis Abu Sa’id Al Khudri, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari no. 2018 dan Muslim no. 1167).

Ramadan kali ini benar-benar berbeda. Tak ada suara kumandang penghormatan untuk khulafaur rasyidin; Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang disampaikan bilal dan disambut oleh para jemaah di sela-sela salat tarawih.

Juga tak ada penyambutan malam Nuzulul Qur’an. Kalau pun ada mereka melakukannya via virtual. Untungnya masih ada umat Islam yang masih bersedia membangunkan warga saat sahur. Rasanya, hanya ini suasana Ramadan yang masih tersisa.

Namun, di balik semua tentu ada hikmahnya.Di tengah banyaknya suasana yang hilang itu, Ramadan kali ini mengajarkan banyak sekali arti hidup. Ia menyadarkan kita bahwa kemewahan dan kekayaan yang kita bangga-banggakan selama ini tiada artinya. Misalnya, ada banyak orang yang memiliki mobil mewah, tapi tak bisa digunakan untuk jalan-jalan bebas seperti biasanya, karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Pelajaran lain yang bisa kita petik dari musibah ini yakni melatih kesabaran, keikhlasan, serta memberikan kesadaran untuk saling berempati dan berbagi. Kita bisa melihat ada begitu banyak posko pengamanan yang dibangun di gang-gang, di pinggir jalan protokol, dan di sejumlah lokasi lainnya yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Di sana, ada yang menyumbang makanan atau minuman untuk para penjaga posko. Hal itu membuat hubungan emosional antarmasyarakat makin erat.

Kemudian, Ramadan kali ini juga membuat kita makin dekat dengan keluarga. Sebab, nyaris semua hal dilakukan di rumah, termasuk salat lima waktu dan salat tarawih. Di rumah jualah kita bisa belajar menjadi imam salat. Sebuah tugas yang tidak mudah tentu saja. Ini juga sebenarnya menjadi kesempatan untuk para suami untuk terus melatih diri untuk menjadi imam untuk istri dan keluarganya.

Dalam hitungan hari, Ramadan akan pulang. Semoga ini bisa menjadi madrasah yang bisa mengajarkan kita akan banyak hal sampai berakhirnya wabah yang sudah membuat banyak orang resah, bahkan juga tak sedikit di antara mereka yang nyaris putus asa.

Semoga pada Ramadan ini dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT dan kita tidak menjadi orang-orang yang rugi seperti sabda Nabi Muhammad: sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadan, lalu Ramadan itu berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya diampuni. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim)

Di akhir tulisan ini, kami berharap semoga wabah ini segera berakhir dan kita bisa kembali hidup normal serta kita bisa bertemu kembali lagi dengan Ramadan tahun depan.

*
Penulis adalah Guru SMKN 1 Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu.

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Membully Manusia, Mengejek Tuhan
apahabar.com

Opini

Menyambut Ramadan di Kala Pandemi
apahabar.com

Opini

Mengamalkan Wiridan Tanpa Ijazah; Menyikapi Fenomena Kitab Imdad Abah Guru Sekumpul
apahabar.com

Opini

Jika Belajar Mengajar di Rumah Diperpanjang, Bagaimana Nasib Siswa Berkebutuhan Khusus?
apahabar.com

Opini

Polemik Agenda Kebijakan Haluan Ideologi Pancasila
apahabar.com

Opini

Tantangan Sang Sultan
apahabar.com

Opini

Corona Paksa Guru Melek Teknologi

Opini

Vivick Tjangkung  Luncurkan Buku “Melawan Teror Narkoba 8 Penjuru”
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com