Begal Sadis di Gunung Kayangan Ditembak Sebelum Beraksi di Bali Temui Pacar, Begal Sadis di Gunung Kayangan Pelaihari Ditembak Petugas Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos

Sabar! Kemendikbud Belum Umumkan Kegiatan Belajar Mengajar

- Apahabar.com Jumat, 29 Mei 2020 - 21:16 WIB

Sabar! Kemendikbud Belum Umumkan Kegiatan Belajar Mengajar

Kapan kegiatan belajar mengajar normal lagi?. Foto-Grid Health

apahabar.com, JAKARTA – Indonesia masih dilanda Covid-19. Makanya kegiatan belajar mengajar pun hingga kini belum ada kepastian.

Bahkan Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah belum siap dilaksanakan hingga Juli mendatang dengan pertimbangan infrastruktur. Begini tanggapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)?

“Siapa bilang sekolah mau dibuka di daerah yang pandeminya masih tinggi?” kata Plt Dirjen PAUD-Dikdasmen, Hamid Muhammad, Kamis (28/5).

Hamid tidak menjawab saat dipertegas apakah Kemendikbud merencanakan untuk menggelar kembali KBM di sekolah pada Juni mendatang. Terkait KBM di sekolah saat pandemi Covid-19, dia meminta publik menunggu pengumuman dari Kemendikbud.

FAGI menilai, kalau KBM dipaksakan Juli pada umumnya sekolah belum siap. Alasannya persyaratannya yang diajukan tiap ruangan harus disemprot tiap hari dua kali dengan disinfektan.

“Terus juga yang agak berat itu tentang jaga jarak. Biasanya satu bangku itu dua orang, sekarang satu bangku, satu siswa,” kata Ketua FAGI Iwan Hermawan.

Alternatif lainnya, sekolah bisa membagi shift siswa menjadi pagi dan siang. Namun, hal itu tidak memungkinkan juga karena tenaga pendidik akan sangat terkuras habis. “Itu tidak memungkinkan karena gurunya jadi double kerja, paling selang-seling hari pertama, hari kedua,” ujar Iwan.

Selain itu, agar penularan virus bisa diminimalisir, sekolah wajib memberikan pemeriksaan rapid test bagi siswa, tenaga pendidik, dan staf sekolah.

“Bila ada siswa atau guru yang reaktif atau ODP saja itu tidak boleh masuk, karena ada satu saja yang reaktif satu sekolah rentan menjadi satu klaster, itu yang paling berat, kita tidak bisa menyeleksi mana yang reaktif karena belum ada rapid,” kata Iwan.

“Sekolah mau mengadakan rapid test juga mahal kan, apalagi kalau sampai dibebankan ke orang tua ini akan berat. Agak berat kalau di bulan Juli, kalau melihat kurva pandemik masih naik dan tidak bisa terjun payung dalam satu bulan,” imbuhnya. (dtk)

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

BNPT Selidiki Penusuk Syekh Ali Jaber dengan Jaringan Teroris
apahabar.com

Nasional

Jelang Ramadan, UNHCR Luncurkan Dana Zakat untuk Populasi Pengungsi Dunia
apahabar.com

Nasional

Update Covid-19 di Indonesia: Pasien Sembuh 3.287, Positif 15.438
apahabar.com

Nasional

Jokowi Saksikan Penyuntikan Uji Klinis Calon Vaksin Covid-19
apahabar.com

Nasional

Waketum Gerindra: kepada Jokowi-Ma’ruf Selamat Terpilih Kembali
apahabar.com

Nasional

Wapres JK Sebut Alasan KTP-EL Belum Bisa Multifungsi
apahabar.com

Nasional

Jaga Gambut, BRG Gandeng Muhammadiyah Tingkatkan Kepedulian Masyarakat

Nasional

Gatot Nurmantyo – Din Syamsudin cs Mundur, Gagal Temui Kapolri dan 8 Anggota KAMI di Bareskrim
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com