Ketum HIPMI Pusat Bakal Jadi Pembicara di HUT JMSI ke-2 di Sulteng Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta Waspada, Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Ancam 3 Kabupaten Kalsel Tok! KPU-Kemendagri Sepakat Jadwal Pemilu 14 Februari 2024 Cuaca Kalsel Hari Ini: Sebagian Wilayah Diprediksi Cerah Berawan

Sabar! Kemendikbud Belum Umumkan Kegiatan Belajar Mengajar

- Apahabar.com     Jumat, 29 Mei 2020 - 21:16 WITA

Sabar! Kemendikbud Belum Umumkan Kegiatan Belajar Mengajar

Kapan kegiatan belajar mengajar normal lagi?. Foto-Grid Health

apahabar.com, JAKARTA – Indonesia masih dilanda Covid-19. Makanya kegiatan belajar mengajar pun hingga kini belum ada kepastian.

Bahkan Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah belum siap dilaksanakan hingga Juli mendatang dengan pertimbangan infrastruktur. Begini tanggapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)?

“Siapa bilang sekolah mau dibuka di daerah yang pandeminya masih tinggi?” kata Plt Dirjen PAUD-Dikdasmen, Hamid Muhammad, Kamis (28/5).

Hamid tidak menjawab saat dipertegas apakah Kemendikbud merencanakan untuk menggelar kembali KBM di sekolah pada Juni mendatang. Terkait KBM di sekolah saat pandemi Covid-19, dia meminta publik menunggu pengumuman dari Kemendikbud.

FAGI menilai, kalau KBM dipaksakan Juli pada umumnya sekolah belum siap. Alasannya persyaratannya yang diajukan tiap ruangan harus disemprot tiap hari dua kali dengan disinfektan.

“Terus juga yang agak berat itu tentang jaga jarak. Biasanya satu bangku itu dua orang, sekarang satu bangku, satu siswa,” kata Ketua FAGI Iwan Hermawan.

Alternatif lainnya, sekolah bisa membagi shift siswa menjadi pagi dan siang. Namun, hal itu tidak memungkinkan juga karena tenaga pendidik akan sangat terkuras habis. “Itu tidak memungkinkan karena gurunya jadi double kerja, paling selang-seling hari pertama, hari kedua,” ujar Iwan.

Selain itu, agar penularan virus bisa diminimalisir, sekolah wajib memberikan pemeriksaan rapid test bagi siswa, tenaga pendidik, dan staf sekolah.

“Bila ada siswa atau guru yang reaktif atau ODP saja itu tidak boleh masuk, karena ada satu saja yang reaktif satu sekolah rentan menjadi satu klaster, itu yang paling berat, kita tidak bisa menyeleksi mana yang reaktif karena belum ada rapid,” kata Iwan.

“Sekolah mau mengadakan rapid test juga mahal kan, apalagi kalau sampai dibebankan ke orang tua ini akan berat. Agak berat kalau di bulan Juli, kalau melihat kurva pandemik masih naik dan tidak bisa terjun payung dalam satu bulan,” imbuhnya. (dtk)

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Bansos

Nasional

Ketahui Enam Jenis Bansos yang Digelontorkan Era PPKM Level 4
Biang Kerok

Nasional

Link Live Streaming Metro TV Kupas Biang Kerok Banjir Kalsel

Nasional

WN Iran Produksi Sabu Kualitas Super di Rumah Mewah Tangerang
apahabar.com

Nasional

Selepas Kerja Bakti, Belasan Warga Ponorogo Keracunan Makanan
Terpisah dari Rombongan, Gajah Sumatera Dibantai hingga Tewas

Nasional

Terpisah dari Rombongan, Gajah Sumatera Dibantai hingga Tewas

Nasional

Jual Sabu ke Bandar Narkoba, 11 Polisi di Asahan Ditahan
apahabar.com

Nasional

Polri: Aparat Bekerja Tak Sesuai SOP Akan Ditindak Tegas
Tentara Siber MUI

Nasional

Mempertanyakan Tentara Siber MUI DKI, Kenapa Hanya Menangkal Berita Hoaks Terkait Anies?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com