Cuaca Kalsel Hari Ini, Hampir Seluruh Wilayah Cerah Berawan Dana BOS Gencar Disosialisasikan, Berikut Pesan Kadisdik Kapuas Pernah Cekcok, Warga LAS HST Nekat Bacok Rekan Sekampungnya Kakek di Banjarmasin Meninggal Misterius di Hotel, Polisi Lakukan Pemeriksaan Polisi Tewas di Sungai Martapura, Sudah 2×24 Jam Faisal Diperiksa Intens

Sejak Pandemi Covid-19, Anak-anak Lebih Sering Online

- Apahabar.com Kamis, 7 Mei 2020 - 05:30 WIB

Sejak Pandemi Covid-19, Anak-anak Lebih Sering Online

Ilustrasi - Lindungi anak dari "Predator Online". Foto-Antara/Ardika/am

apahabar.com, JAKARTA – International Telecommunications Union (ITU), Badan PBB yang mengurus teknologi dan jaringan, berpendapat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya sejak pandemi Covid-19.

Keadaan tersebut dinilai mengkhawatirkan, karena sejak pandemi, anak-anak mengakses internet di usia muda dan berisiko mengalami perundungan di dunia maya.

“Banyak anak yang terhubung dalam jaringan lebih awal dari keinginan orang tua mereka, dalam usia yang lebih muda dan tidak punya keterampilan yang dibutuhkan untuk melindungi diri mereka, apakah dari pelecehan daring atau perundungan,” kata salah seorang direktur ITU, Doreen Bogdan-Martin, dikutip dari Reuters, Rabu (06/05).

Lembaga yang berbasis di Jenewa, Swiss itu memperkirakan ada 1,5 miliar anak yang terpaksa tidak sekolah karena penutupan wilayah demi menghentikan penyebaran Virus Corona.

Sebagai ganti waktu bersekolah, mereka belajar secara daring, juga untuk bersosialisasi dan melakukan hobi mereka.

ITU juga menyoroti waktu yang dihabiskan anak-anak untuk online sehari-hari selain untuk belajar, misalnya bermain ‘game’ atau bersosialisasi.

ITU berencana mempercepat peluncuran panduan untuk melindungi anak-anak di dunia maya dalam waktu dekat.

Selain itu, lembaga tersebut juga menggarisbawahi pandemi ini menciptakan “kesenjangan digital”, yaitu ada orang-orang yang memiliki akses internet dan ada yang tidak.

Internet berpengaruh terhadap kegiatan belajar selama pandemi Covid-19. Jika tidak ada internet, kegiatan belajar anak akan terganggu.

Bogdan-Martin menyatakan ITU sedang bekerja dengan lembaga PBB untuk anak-anak agar bisa berkomunikasi lewat jaringan 2G.

ITU memperkirakan ada 3,6 miliar orang yang tidak punya akses ke internet, juga banyak orang yang harus mengeluarkan banyak uang untuk tersambung ke internet atau koneksi mereka tidak bagus.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Musim Rambutan Datang Nih, Yuk Intip Manfaat Buah Ini
apahabar.com

Gaya

Amankah Ibu Hamil Saat Pandemik Corona?
apahabar.com

Gaya

Miss Suriname Ngomong Bahasa Jawa, Ini Komentar Netizen Indonesia
apahabar.com

Gaya

Resep Putri Selat, Enaknya Kue Khas Banjarmasin IniĀ 
apahabar.com

Gaya

Ini yang Terjadi pada Tubuh Setelah Digigit Cobra
apahabar.com

Gaya

Ini Kiat Menurunkan Risiko Serangan Jantung pada Usia Produktif
apahabar.com

Gaya

Menahan Pipis saat Terjebak Macet Mudik Berbahaya
apahabar.com

Gaya

Instagram Blokir Konten “Terapi Konversi”, Elton John Mendukung
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com