Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0 Alasan Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin Terancam Batal Beredar Video 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah Saat Demo Anti UU Omnibus Law, Sosok Pelaku Terekam? Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’ Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura

Sejak Pandemi Covid-19, Anak-anak Lebih Sering Online

- Apahabar.com Kamis, 7 Mei 2020 - 05:30 WIB

Sejak Pandemi Covid-19, Anak-anak Lebih Sering Online

Ilustrasi - Lindungi anak dari "Predator Online". Foto-Antara/Ardika/am

apahabar.com, JAKARTA – International Telecommunications Union (ITU), Badan PBB yang mengurus teknologi dan jaringan, berpendapat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya sejak pandemi Covid-19.

Keadaan tersebut dinilai mengkhawatirkan, karena sejak pandemi, anak-anak mengakses internet di usia muda dan berisiko mengalami perundungan di dunia maya.

“Banyak anak yang terhubung dalam jaringan lebih awal dari keinginan orang tua mereka, dalam usia yang lebih muda dan tidak punya keterampilan yang dibutuhkan untuk melindungi diri mereka, apakah dari pelecehan daring atau perundungan,” kata salah seorang direktur ITU, Doreen Bogdan-Martin, dikutip dari Reuters, Rabu (06/05).

Lembaga yang berbasis di Jenewa, Swiss itu memperkirakan ada 1,5 miliar anak yang terpaksa tidak sekolah karena penutupan wilayah demi menghentikan penyebaran Virus Corona.

Sebagai ganti waktu bersekolah, mereka belajar secara daring, juga untuk bersosialisasi dan melakukan hobi mereka.

ITU juga menyoroti waktu yang dihabiskan anak-anak untuk online sehari-hari selain untuk belajar, misalnya bermain ‘game’ atau bersosialisasi.

ITU berencana mempercepat peluncuran panduan untuk melindungi anak-anak di dunia maya dalam waktu dekat.

Selain itu, lembaga tersebut juga menggarisbawahi pandemi ini menciptakan “kesenjangan digital”, yaitu ada orang-orang yang memiliki akses internet dan ada yang tidak.

Internet berpengaruh terhadap kegiatan belajar selama pandemi Covid-19. Jika tidak ada internet, kegiatan belajar anak akan terganggu.

Bogdan-Martin menyatakan ITU sedang bekerja dengan lembaga PBB untuk anak-anak agar bisa berkomunikasi lewat jaringan 2G.

ITU memperkirakan ada 3,6 miliar orang yang tidak punya akses ke internet, juga banyak orang yang harus mengeluarkan banyak uang untuk tersambung ke internet atau koneksi mereka tidak bagus.(Ant)

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Viral, Nama Anak Unik Panjang Capai 50 Huruf
apahabar.com

Gaya

Kuliah Sambil Kerja? Perhatikan Dulu Hal Ini
apahabar.com

Gaya

Pasang Anti Karat untuk Mobil, Berapa Biayanya?
Ini Alasan Kenapa Harus Pakai Masker

Gaya

Ini Alasan Kenapa Harus Pakai Masker
apahabar.com

Gaya

Bersaing dengan Samsung, Ini Hebat Ponsel 5G Realme
apahabar.com

Gaya

Simak Daftar Zodiak dan Peluang Jadi Miliarder
apahabar.com

Gaya

Tak Kalah dengan Herbal China, Jamu Indonesia Siap Diuji Klinis
apahabar.com

Gaya

Vivo Y20s, Punya Spesifikasi Mumpuni dengan Harga Terjangkau
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com