Sasar Mahasiswi Tanah Bumbu, Gembong Jambret Banjarmasin Bertekuk Lutut Banjarmasin Timur Tegang, Remaja Bersajam Kejar-kejaran di Kafe Arwana 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Sungai Hantakan Meluap, 12 Pondok di Pulau Mas HST Larut Terbawa Arus Libur Panjang di Marabahan, Kelotok Susur Sungai Barito Dibikin Kewalahan

Sinar Matahari Bunuh Virus Corona, Apa Iya?

- Apahabar.com Rabu, 6 Mei 2020 - 05:30 WIB

Sinar Matahari Bunuh Virus Corona, Apa Iya?

Ilustrasi. Foto-Medicalnewstoday

apahabar.com, JAKARTA – Saat pandemic Covid-19 semakin banyak masyarakat hobi berjemur. Salah satu alasannya agar mendapat manfaat vitamin D yang bagus untuk memperkuat sistem imunitas tubuh.

Isu berjemur ini pun berkembang ke arah pencegahan virus corona yang tengah menghantui. Tapi, apakah berjemur dapat menjamin Anda terbebas dari paparan virus itu?

Menurut hasil studi Departement of Homeland Security Lab ada harapan besar dari berjemur ini. Mereka menemukan fakta bahwa virus corona yang ditularkan lewat droplet, tumbuh subur dalam kondisi kering dan dapat memudar di bawah sinar matahari langsung.

Namun, dokter dan peneliti menilai terlalu dini untuk dapat menyimpulkan kalau berjemur di bawah sinar matahari, langsung benar-benar bisa membunuh virus corona.

“Itu hanya tes awal saja dan kami tidak menemukan data yang baik,” tegas Dr Purvi Parikh, seorang imunologi Alergi dan Jaringan Asama di Manhattan, menurut laporan New York Post.

“Informasi yang belum valid seperti itu membuat beberapa masyarakat akhirnya merasa aman palsu dan itu malah menyebabkan mereka tak ragu keluar rumah tanpa masker,” tambahnya.

Di sisi lain, Dokter Spesialis Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center Dr William Schaffner mengatakan bahwa hal ini serupa dengan teori negara yang cenderung berudara panas bebas dari virus corona.

“Jika saya terinfeksi virus corona, pernapasan saya mengandung jumlah mikroskospis dari virus yang hidup di udara lembap,” katanya. “Ketika kelembapan udara rendah, lingkaran lembap itu akan menguap dan melayang di udara,” tambahnya.

Sementara itu, di wilayah panas virus corona tidak menguap yang membuatnya lebih berat dan gravitasi menariknya ke bumi. Hal ini malah membuat wilayah tersebut punya risiko lebih besar mengandung virus corona.

Fakta yang bisa dilihat, sambung dr Parikh, pada kasus Tom Hanks. Ya, setelah ia mengunjungi Australia pada musim panas, ia malah terinfeksi virus corona. Kasus COVID-19 di wilayah seperti California Selatan dan Florida pun cenderung tinggi.

Studi sebelumnya pun telah mengingatkan untuk tidak serta merta percaya kalau sinar matahari benar-benar bisa membunuh virus corona. Dikatakan Qasim Bukhari, ketua peneliti MIT, 90% dari transmisi COVID-19 terjadi antara 37,4 hingga 62,6 derajat celsius.

“Menjadi kesalahan bagi masyarakat untuk percaya bahwa suhu hangat dan sinar matahari saja akan memberantas penyakit ini,” ungkapnya. (okz)

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Kumpulkan Dana Lebih Setengah Miliar, Warga Tegalrejo Gila-gilaan Percantik Goa Lowo
apahabar.com

Gaya

Tuai Perdebatan Daring, JK Rowling: Karakter yang Dikritik di Novel Troubled Blood Terinspirasi Fakta
apahabar.com

Gaya

Agar Tidak Cepat Rusak, Berikut Tips Merawat Batrei Ponsel
apahabar.com

Gaya

85 Warga Asing Positif HIV/AIDS
apahabar.com

Gaya

Makan Siang Tanpa Karbohidrat Turunkan Berat Badan, Benarkah?
apahabar.com

Gaya

Ini Waktu Olahraga yang Disarankan Saat Ramadan
apahabar.com

Gaya

Kenali Stroke dan Penanganan Sejak Dini
apahabar.com

Gaya

NH Dini Meninggal Dunia, Begini Kronologi Kecelakaan yang Menimpanya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com