Istri Polisi Korban Penyerangan Mapolsek Daha: NKRI Harga Mati! PDP-Tracking GTPP Tambah Daftar Warga Kalsel Terjangkit Covid-19 Operasi Anti-Teror di Kalsel, Jumlah Pelaku Kemungkinan Bertambah 5 Terduga Teroris Ditangkap, MUI: Kalsel Bukan Zona Aman PSBB Berakhir, THM-Bioskop di Banjarmasin Terancam Mati Suri




Home Nasional

Kamis, 21 Mei 2020 - 19:23 WIB

Tembus 5 Juta Kasus, Kasus Covid-19 Dunia Capai Rekor Harian Tertinggi

rifad - Apahabar.com

apahabar.com, JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keprihatinannya, pada Rabu (20/05) tentang meningkatnya jumlah kasus infeksi Covid-19 di negara-negara miskin, bahkan ketika banyak negara kaya mulai melonggarkan aturan kuncian (lockdown).

WHO mengatakan 106.000 kasus baru infeksi Covid-19 telah dicatat dalam 24 jam terakhir, dan menjadi kasus harian terbesar.

“Jalan kita masih panjang untuk menghadapi pandemi ini,” kata direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers. “Kami sangat prihatin dengan meningkatnya kasus di negara berpenghasilan rendah dan menengah.”

Tembus 5 juta kasus

Pada Rabu (20/05), kasus COVID-19 dunia telah melampaui angka lima juta, dengan Amerika Latin melaporkan jumlah terbesar dalam kasus harian baru secara global.

Amerika Latin menyumbang sekitar sepertiga dari 91.000 kasus yang dilaporkan awal minggu ini. Eropa dan Amerika Serikat masing-masing menyumbang lebih dari 20% kasus.

Sejumlah besar kasus-kasus baru itu berasal dari Brasil, yang baru-baru ini melampaui Jerman, Prancis, dan Inggris. Brasil kini menjadi negara dengan kasus terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Rusia.

WHO akan lakukan evaluasi

Baca juga :  Hari Ini Karangan Bunga Hiasi Halaman Istana

Sebelumnya, WHO mendapat kecaman dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump menuduh badan kesehatan global ini telah salah menangani wabah dan mendukung Cina, tempat virus itu diyakini pertama kali muncul akhir tahun lalu. Pekan ini Trump telah mengancam akan menarik diri dari WHO dan secara permanen menahan pendanaan.

Tedros mengakui telah menerima surat dari Trump, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut.

Tedros mengatakan dia berkomitmen untuk melakukan akuntabilitas dan evaluasi atas respons terhadap pandemi. Evaluasi tersebut diserukan oleh negara-negara anggota, dalam resolusi yang disahkan pada sidang World Health Assembly (WHA) ke-73 pekan ini, meskipun Amerika Serikat menyatakan keberatan tentang beberapa elemen di dalamnya.

“Saya mengatakan berulang kali bahwa WHO menyerukan akuntabilitas lebih dari siapa pun. Itu harus dilakukan dan ketika dilakukan harus komprehensif,” kata Tedros tentang resolusi itu, namun menolak mengatakan kapan akuntabilitas akan dimulai.

Direktur eksekutif program kedaruratan WHO, Mike Ryan, mengatakan evaluasi atau penilaian seperti itu biasanya dilakukan setelah keadaan darurat selesai.

“Saya pribadi lebih suka, sekarang, kita melanjutkan pekerjaan respons darurat, pengendalian epidemi, mengembangkan dan mendistribusikan vaksin, meningkatkan pengawasan, mendistribusikan APD esensial untuk pekerja, menyediakan oksigen medis (ventilator) bagi orang-orang di lingkungan yang rapuh, dan mengurangi dampak penyakit ini pada pengungsi dan migran, “katanya.

Baca juga :  Berikan Santunan WBP Asimilasi, Bapas Banjarmasin Tunjukkan Empati di Tengah Covid-19

Tedros mengatakan dia telah lama mencari sumber pendanaan lain untuk WHO. Menurutnya, untuk sebuah badan global, anggaran sebesar US $ 2,3 miliar atau Rp 33 triliun adalah “sangat, sangat kecil”, hampir sama dengan anggaran untuk rumah sakit berukuran sedang di negara maju.

Di sisi lain, Ryan menambahkan bahwa orang harus menghindari penggunaan obat malaria hidroksiklorokuin untuk mengobati atau mencegah infeksi COVID-19, kecuali memang digunakan dalam uji klinis untuk mempelajarinya.

Komentar ini mungkin akan mengganggu Trump, karena ia sedang menggunakan hidroksiklorokuin untuk mencegah infeksi coronavirus.

“Pada tahap ini, (baik) hidroksiklorokuin atau klorokuin belum terbukti efektif dalam pengobatan Covid-19 atau dalam profilaksis untuk tidak terserang penyakit ini,” kata Ryan.

“Sebenarnya, justru kebalikannya, ada peringatan yang dikeluarkan oleh banyak pihak berwenang mengenai potensi efek samping dari obat tersebut.”((pkp/gtp/rts)

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

KPU Janji Jawab Gugatan Pilpres 12 Juni
apahabar.com

Nasional

Api Diduga dari Ruang Kebugaran
apahabar.com

Nasional

MPR sosialisasi Empat Pilar di Festival Budaya Gorontalo
apahabar.com

Nasional

Pesawat Cargo Trigana Tergelincir di Bandara Sentani
apahabar.com

Nasional

Jelang Pengumuman Kabinet, Mahfud MD Dipanggil ke Istana Presiden
apahabar.com

Nasional

Update Covid-19 di Indonesia: 790 Positif, 58 Meninggal, 31 Sembuh
apahabar.com

Nasional

Ketinggian Banjir di Bekasi Capai 2 Meter
apahabar.com

Nasional

Baca Jadwal Tentatif Seleksi CPNS 2019