Keren! Al-Mazaya Islamic School Tetap Berprestasi di Tengah Pandemi Covid-19 POPULER SEPEKAN: Polisi Tewas Tenggelam di Sungai Martapura, hingga 2 Kasus Kriminalitas di Hulu Sungai Wakil Ketua DPRD HST Kecelakaan di Angkinang, Mobil Ringsek Parah! LSM Laporkan Denny Indrayana ke Bawaslu, Terindikasi Kampanye Jelang PSU Si Jago Merah Ngamuk di Cempaka 7 Banjarmasin, Jemaah Salat Tarawih Berhamburan

Teori Epidemiologi, Alasan Banjarmasin Perlu Perpanjang PSBB

- Apahabar.com Selasa, 5 Mei 2020 - 17:50 WIB

Teori Epidemiologi, Alasan Banjarmasin Perlu Perpanjang PSBB

Petugas gabungan melakukan patroli malam saat pembatasan sosial berskala besar di Banjarmasin. Foto-apahabar.com/Riyad Dafhi R

apahabar.com, BANJARMASIN – Semakin banyak jumlah pengidap virus Corona penyebab Covid-19 di Banjarmasin.

Pada Selasa (5/5) terdapat 69 pasien terkonfirmasi positif virus asal Wuhan, China itu.

Dari puluhan pasien itu 44 di antaranya menjalani isolasi di sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19.

Sisanya, 14 pasien dinyatakan sembuh dan 10 pasien meninggal dunia.

Dengan fakta demikian, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 merasa perlu perpanjangan masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB.

Kebijakan PSBB sudah diterapkan di Banjarmasin sejak 24 April, dan akan berakhir 7 Mei mendatang. PSBB dinilai belum berjalan maksimal.

“Kami merasa belum mencapai puncak capaian dari target yang kami tentukan, jadi kemungkinan bisa diperpanjang PSBB ini,” ujar Machli Riyadi Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Banjarmasin.

Berdasarkan teori epidemiologi, kata dia, jika ada dua pasien meninggal terpapar Covid-19 seharusnya ditemukan 100 orang pengidap. Perbandingannya 1 pasien meninggal sama dengan 50 kasus Corona.

“Dan yang sekarang 63 kasus positif jadinya bayangkan berapa jumlah warga yang harus kami temukan di lapangan,” tegasnya.

Namun dalam praktiknya, Gugus Tugas terkendala banyaknya warga yang masih berkeliaran di luar rumah selama PSBB.

Momentum di rumah, kata Machli, bagus untuk Gugus Tugas melakukan penelusuran atau tracking warga yang kontak erat dengan pasien Corona.

“Warga banyak menyampaikan alasan untuk mencari nafkah tetapi kan Pemerintah sudah mengelontorkan dana sosial,” pungkasnya.

Di satu sisi, Machli menyadari penegakkan sanksi yang diamanatkan dalam Perwali Nomor 33 Tahun 2020 sangat longgar.

Berdasarkan catatan kepolisian, banyak ditemukan warga yang tidak memakai makser saat di luar rumah selama pandemi.

“Warga banyak yang menganggap remeh, bisa jadi [karena] belum ada keluarga yang terpapar Corona,” tuturnya.

Adapun jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) di Banjarmasin sebanyak 20 kasus. 4 dalam kondisi ringan, 2 sedang dan 15 berat.

Sedang, orang dalam pemantauan (ODP) berjumlah 529 kasus. Sebaran per kelurahan Covid-19 sudah mencapai 57,6 persen atau mencapai 30 kelurahan di Banjarmasin.

Reporter: Bahaudin Qusairi
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Mengintip Sejarah Ngayau, Tradisi Penggal Kepala yang Berakhir di Tumbang Anoi
apahabar.com

Kalsel

Save Meratus, Pemkab HST Tagih Jawaban Menteri Jonan
apahabar.com

Kalsel

110 Warga Binaan Rutan Marabahan Dapat Remisi
apahabar.com

Kalsel

Meriahnya Hari Tari Dunia di Taman Budaya Banjarmasin
Penganiayaan Banjarmasin

Kalsel

VIRAL SEPEKAN: Macan Kalsel Ringkus Penganiaya Brutal ABG Banjarmasin, Kunjungan Jokowi, hingga Longsor Tanbu
Paman Birin

Kalsel

BREAKING NEWS: Bawaslu Panggil Paman Birin Gegara Tandon Air
Penyemprotan Massal Disinfektan di Balangan, Sasar Beberapa Kecamatan

Kalsel

Penyemprotan Massal Disinfektan di Balangan, Sasar Beberapa Kecamatan  
apahabar.com

Kalsel

Polres HST Ungkap Beragam Kasus Curanmor, 7 Tersangka Diamankan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com