Kronologi Lengkap 2 Bocah asal Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi Belum Tentu Dibekap Sang Ibu, Biang Kematian 2 Bocah Benawa HST Jadi Misteri 16 Hari Anti-Kekerasan, Aktivis Perempuan Kampanyekan Kesetaraan Gender di Banjarmasin Suhu Tubuh Tinggi, Wali Kota Samarinda Positif Covid-19 Inalillahi, 2 Bocah di Batu Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi

Terbang ke Jakarta dan Bali Wajib Sertakan Hasil Swab Negatif

- Apahabar.com Kamis, 28 Mei 2020 - 18:34 WIB

Terbang ke Jakarta dan Bali Wajib Sertakan Hasil Swab Negatif

Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin. Foto-apahabar.com/Nurul Mufidah

apahabar.com, BANJARBARU – Imbas pandemi Covid-19, penumpang tujuan Jakarta dan Bali wajib menunjukkan tes swab atau Polymerase Chain Reaction (PCR) negatif jika ingin terbang.

“Harus ada (hasil) PCR itu, khusus untuk yang ke Jakarta dan Bali, di DKI Jakarta itu sesuai pergubnya,” ujar General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor Indah Preastuty kepada apahabar.com, Rabu, (27/05).

Sehingga, bagi penumpang keberangkatan tujuan Jakarta dan Bali melalui Bandara Internasional Syamsudin Noor wajib menjalani tes swab tersebut.

apahabar.com

General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor Indah Preastuty. Foto-apahabar.com/Nurul Mufidah

Adapun syarat tersebut masuk dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta terkait Pembatasan Keluar Masuk DKI Jakarta Nomor 47 Tahun 2020.

Sementara, Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalsel Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Gugus Tugas Covid-19 Kalsel tidak mengkomersialkan tes swab diluar penanganan bencana non alam (Covid-19).

“Untuk bandara ada pengetatan standar masuk ke ibukota DKI sementara penerbangan kita kebanyakan DKI dan Surabaya di situ diminta bahwa semua penumpang yang dari Jakarta di swab nah di kita saya rasa swab itu tidak bisa kita laksanakan karena tempat swab kita hanya satu di BBTKLPP Banjarbaru,” ujarnya.

Selain itu, biaya sekali swab yang mahal juga menjadi kendala lainnya.

“Kemudian alatnya juga sedemikian mahal jadi satu proses ini hampir 1 juta sampai 1,5 juta untuk 1 uji sampel,” terangnya.

Berikutnya, lanjut Hanif juga belum ada perintah untuk mengkomersilkan itu.

“Jadi tidak ada perda, tidak ada hukum yang membolehkan mengkomersialkan itu, sementara jika digunakan utuk kegiatan itu kita tidak ada dananya, kita benar-benar untuk menagani bencana non alam ini, bukan untuk dikomersialkan,” ungkapnya.

Sehingga, untuk keluar masuk Kalsel sendiri dikatakannya masih cukup menggunakan hasil rapid test tanpa swab.

“Sementara Kalsel mungkin hanya menggunakan rapid test sebagai indikasi keluar atau masuk tidak perlu swab kita cukup rapid test saja,” pungkasnya.

Reporter: Nurul Mufidah
Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Baznas Banjarmasin Targetkan Bedah Rumah Dhuafa Tiap Tahun
apahabar.com

Kalsel

Penerimaan Calon Bintara Polri 2020, Kapolda Kalsel: Seleksi Berjalan dengan Clear and Clean
apahabar.com

Kalsel

2020 Jalan Bebas Hambatan Banjarbaru-Batulicin Bisa Dilewati, Dewan Pesimistis Gunakan APBN
apahabar.com

Kalsel

Organda Trisaksi Banjarmasin Gelisah, SK Tak Kunjung Terbit
apahabar.com

Kalsel

Perwali Atur Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Kobarkan Semangat Nasionalisme, PDIP Tapin Gelar Haul ke 50 Bung Karno
apahabar.com

Kalsel

Penyandang Disabilitas Menerima Bantuan Saat Natal
apahabar.com

Kalsel

Tampilkan Kain Sasirangan, Maulida Terpilih Jadi Putri Nusantara IPDN 2019
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com