Kronologi Lengkap 2 Bocah asal Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi Belum Tentu Dibekap Sang Ibu, Biang Kematian 2 Bocah Benawa HST Jadi Misteri 16 Hari Anti-Kekerasan, Aktivis Perempuan Kampanyekan Kesetaraan Gender di Banjarmasin Suhu Tubuh Tinggi, Wali Kota Samarinda Positif Covid-19 Inalillahi, 2 Bocah di Batu Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi

Update Covid-19 Batola: Kapan Pasien Lain Menyusul Btl-01 dan 05?

- Apahabar.com Rabu, 20 Mei 2020 - 16:55 WIB

Update Covid-19 Batola: Kapan Pasien Lain Menyusul Btl-01 dan 05?

Proses pemulangan Btl-01 dari RSUD Abdul Aziz Marabahan, setelah dirawat selama 26 hari. Foto-Humpro Setda Batola

apahabar.com, MARABAHAN – Sudah hampir sebulan sejak Btl-01 dan 05 sembuh dari Covid-19. Lantas kapan pasien lain dari Barito Kuala bisa mengikuti jejak mereka?

Btl-01 dan 05 dinyatakan sembuh sejak 25 April 2020, setelah dirawat di tempat berbeda.

Btl-01 di RSUD Abdul Aziz Marabahan, sedangkan Btl-05 di RS Ansari Saleh Banjarmasin.

Namun pasca-kesembuhan mereka, belum seorang pun pasien yang negatif Covid-19.

Situasi yang terjadi malah jumlah pasien positif terus bergerak naik hingga 52 orang atau 49 orang dirawat.

Dari 49 pasien yang mayoritas tanpa gejala, 25 di antaranya dirawat di Abdul Aziz, 3 di Ansari Saleh dan 7 pasien dikarantina di SKB Batola.

Sedangkan 14 pasien lagi dirujuk ke karantina provinsi di Balai Pendidikan dan Pelatihan Diklat (BPPD) dan Bapelkes Banjarbaru.

“Pasien yang sudah satu bulan dirawat bukan kegagalan pengobatan. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi seperti imunitas, usia, dan komorbid atau penyakit penyerta,” sahut Direktur RSUD Abdul Aziz, dr Faturrahman, Rabu (20/5).

“Faktor psikologi juga banyak memengaruhi. Rata-rata psikologi pasien positif terganggu, sehingga ikut memengaruhi cepat atau lambat penyembuhan,” imbuhnya.

Namun untuk menunjang kesehatan psikologis pasien, diyakini sulit dilakukan di Abdul Aziz yang menerapkan sistem isolasi terkunci.

Dalam sistem ini, pasien diharuskan terus-menerus berada di ruangan tanpa kesempatan merasakan sinar matahari langsung maupun berolahraga di ruang terbuka.

“Idealnya pasien tanpa gejala dikarantina dengan ruang terbuka. Namun karena dikarantina di rumah sakit, mereka tak dimungkinkan berjemur atau berolahraga lantaran terdapat pasien lain,” tukas Faturrahman.

“Memang terdapat pasien yang sempat berontak, karena kejenuhan diisolasi. Untungnya setelah dijelaskan, mereka bisa menerima,” sambungnya.

Di samping faktor internal pasien, eksternal yang dapat memengaruhi kesembuhan adalah pengawasan kedisiplinan mengikuti terapi.

“Kami tak menutup mata tentang kepatuhan mengonsumsi obat. Tapi kami sudah mengevaluasi perawat jaga, terkait pemantauan minum obat. Sebisanya mereka langsung melihat pasien minum obat,” tegas Faturrahman.

Kendati penyembuhan terkesan lambat, diklaim belum seorang pun pasien yang memunculkan gejala sampai sekarang.

“Cuma karena prosedur tetap harus dua kali berturut-turut memperoleh swab negatif, kami tak bisa menyatakan mereka sembuh,” timpal dr Azizah Sri Widari, Kepala Dinas Kesehatan Batola.

“Insyaallah kalau melihat kondisi luar pasien, kami optimis semuanya dapat sembuh,” imbuh juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GGTP) Covid-19 Batola ini.

Selama dalam perawatan, semua pasien mengikuti teknis pengobatan sesuai protokol nasional berupa terapi antivirus dan suportif.

“Semua pasien menjalani pengobatan melalui oral, karena mereka hampir tanpa gejala sejak awal kedatangan. Aktivitas juga normal dan bisa mandiri,” tambah dr Mawardi, dokter spesialis paru RSUD Abdul Aziz.

“Sejumlah pasien sempat batuk dan diare, tetapi masih dalam kategori ringan. Bahkan hasil pemeriksaan lab dan rontgen beberapa pasien terlihat normal,” sambungnya.

Hanya mereka belum dapat dinyatakan terbebas dari Covid-19, karena tidak seorang pun negatif pasca-swab kedua berturut-turut.

“Setelah dikonfirmasi positif, pasien menjalani swab pertama setelah 10 atau 14 hari kemudian. Kalau dinyatakan negatif, tinggal menunggu 5 sampai 7 hari untuk swab kedua,” beber Mawardi.

Andai swab kedua negatif, pasien diperbolehkan pulang. Sebaliknya kalau swab kedua positif, berarti terapi diperpanjang 5 sampai 7 hari lagi hingga swab berikutnya.

Setelah dilakukan swab, hasil tidak dapat langsung dipastikan. Salah satunya disebabkan kapasitas pemeriksaan di Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Banjarbaru.

“Kalau sebelumnya hanya dua atau tiga hari, sekarang menunggu hasil swab bisa sampai seminggu. Ketika spesimen yang diperiksa semakin banyak, tapi kapasitas pemeriksaan tak bertambah,” beber Azizah.

Pun tingkat kesembuhan tidak bisa berkaca dari rumah sakit atau daerah lain. Oleh karena virus baru, belum banyak data yang bisa dikulik tentang Covid-19.

“Bisa saja strand virus berbeda-beda antardaerah. Kalau strand lemah, peluang cepat sembuh cukup besar,” ulas Mawardi.

“Tetapi kalau sudah bermutasi, penyembuhan berpotensi berjalan lambat. Kami tidak tahu strand virus ini, sehingga belum punya data yang mendalam,” tandasnya.

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Satpol PP Banjarbaru Sita Ratusan Botol Miras di Pembatuan
apahabar.com

Kalsel

Di Tengah Pandemi, Ratusan Kepsek di Batola Dilantik Via Online
apahabar.com

Kalsel

Hari Ini, Hujan Petir dan Kabut Mengintai Wilayah Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Gubernur Apresiasi Penghargaan Adipura Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Pernah Buat Paman Birin Berteriak, Pecatur Muda Asal HST Ini Kembali Tampil Maksimal
apahabar.com

Kalsel

Ikuti Tinju Amatir Piala Danrem 101/Antasari, HST Raih 8 Medali 

Kalsel

3 Rumah Hangus di Veteran Banjarmasin, Saksi Dengar Suara Ledakan
apahabar.com

Kalsel

Datang ke Kalsel, Sandiaga Uno Bawa Misi Khusus Gerindra
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com