ga('send', 'pageview');
Jadi Gubernur Butuh Rp100 Miliar, Rosehan: Saya Tak Punya Uang Horeee, Temuan Vaksin Bikin Rupiah Berpeluang Menguat Sidak ke HBI, Petugas Sindir Pengelola Nashville Pub Salip Pekapuran, Teluk Dalam Tertinggi Kasus Covid-19 di Banjarmasin SE Terbit, Sejumlah Sekolah di Banjarmasin Belum PLS Daring




Home Opini

Senin, 1 Juni 2020 - 19:51 WIB

Corona Mengubah Tradisi Komunikasi Langsung

Uploader - Apahabar.com

Ilustrasi. Foto-Arsitag

Ilustrasi. Foto-Arsitag

Oleh: Reno

Komunikasi menjadi keharusan bagi setiap orang. Dalam kondisi pamdemi ini, kita diharuskan menerapkan saluran komunikasi yang tepat agar tidak kehilangan momentum. Apalagi pandemi telah menimbulkan ketidakpastian dan menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tingkatannya, komunikasi memiliki perbedaan saluran yang digunakan, jumlah orang yang terlibat dalam komunikasi, kedekatan fisik, serta umpan balik yang diberikan penerima pesan. Tingkatan-tingkatan komunikasi tersebut dibedakan menjadi empat, yaitu komunikasi pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, serta komunikasi massa atau komunikasi publik.

Komunikasi personal atau komunikasi pribadi dibedakan menjadi komunikasi intrapribadi dan komunikasi antarpribadi. Komunikasi intrapribadi atau intrapersonal communication adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, dimana orang tersebut dapat bertindak sebagai sumber sekaligus penerima pesan. Komunikasi intrapribadi bentuk komunikasi seseorang dengan dirinya sendiri, baik sebagai komunikator sekaligus komunikan dari sebuah komunikasi itu. Komunikasi intrapribadi terjadi saat seseorang memahami kondisi fisiknya, emosional, kemampuan intelektual, kebiasaan maupun kesadaran.

Di tengah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), komunikasi intrapribadi merupakan salah satu komunikasi yang efektif, ketika menilai dan memahami diri sendiri apakah sudah mengikuti anjuran pemerintah? Terhadap kebiasaan menerapkan pola hidup sehat, menggunakan masker secara disiplin, menerapkan physical distancing, hingga social distancing atas kesadaran untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Nyatanya, komunikasi intrapribadi ini terkadang diabaikan. Seperti tidak mengindahkan anjuran pemerintah. Padahal mengetahui dampak yang ditimbulkan. Komunikasi ini penting. Untuk mengukur diri agar terhindar dari penularan wabah.

Sekarang ini, komunikasi kelompok diterapkan dalam sebuah sistem teknologi informasi. Komunikasi kelompok yang didefiniskan sebagai kegiatan komunikasi dengan sekelompok orang, misal dengan sanak keluarga, perusahaan, organisasi maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan lainnya. Di tengah pandemi ini juga, komunikasi kelompok memaksa kita untuk menggunakan komunikasi tidak langsung.

Pada umumnya, komunikasi langsung dan tidak langsung ini terjadi pada jenis komunikasi lisan yang dibicarakan atau membicarakan dengan bahasa verbal dan langsung dari mulut komunikator. Sebelum pandemic, kebiasaan komunikasi kelompok bertatap muka, bertemu dan berjabat tangan, membicarakan hal yang menjadi tujuan yang akan dibicarakan tanpa adanya perantara atau media komunikasi sebagai penghantar pesan atau informasi, bahkan sesekali saja berkomunikasi tidak langsung.

Adanyanya pandemi Covid-19, komunikasi tidak langsung seakan menjadi keharusan (must), bahkan tak jarang sekelompok orang menggelar komunikasi langsung yang sudah menjadi tradisi seperti, acara keluarga, reuni, resepsi pernikahan, berkumpul di cafe dipaksa dibubarkan. Tujuannya, untuk memutus mata rantai penularan virus. Alasannya setiap insan, harus memahami kondisi dan mengikuti komunikasi yang dianjurkan.

Sekelompok pekerja dalam sebuah perusahaan, sekarang ini mengharuskan untuk berbicara, menyampaikan materi meeting melalui komunikasi tidak langsung, memberdayakan daring. Begitu pula pegiat organisasi, mereka tak sesekali bertemu dalam dunia maya saja, untuk membahas materi dan kegiatan organisasinya.

Tidak lepas dari dampak pandemic Corona, perayaan Idulfitri 1441 H/2020 M beberapa waktu lalu, pemerintah menganjurkan seluruh umat muslim di negeri ini untuk berkomunikasi via jaringan dalam kegiatan halal bihalal dengan keluarganya, tanpa harus dapat berkomunikasi secara langsung. Padahal berjabat tangan sudah menjadi tradisi dalam momentum lebaran. Kondisi ini, corona telah mengubah komunikasi langsung menjadi komunikasi tidak langsung.

Memaknai Efektivitas Komunikasi Tidak Langsung—-BOLD

Dari sisi kelebihannya, komunikasi tidak langsung dapat menjangkau lebih luas, lebih mudah berkomunikasi dengan banyak orang karena menggunakan media telekomunikasi, bisa langsung sampai dalam komunikasi skala besar.

Sedangkan dari sisi kekuranganya, terkadang mengalami gangguan sinyal. Disinilah terkadang dapat menimbulkan kesalahpahaman komunikasi akibat keadaan yang tidak menguntungkan, sehingga informasi yang didengar kurang optimal, tidak terjaga dari segi rahasianya pesan atau informasi, berkurangnya nilai suasana momentum.

*
Penulis adalah Jurnalis dan Alumni Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi UNISKA MAB Banjarmasin.

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Tes Wawasan Kebangsaan, Aktor Baru dalam Seleksi Para Calon Abdi Negara
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada
apahabar.com

Opini

Menyoal Pelayanan RSUD
Medina untuk Corona

Opini

Medina untuk Corona
apahabar.com

Opini

Mencari Rumah Sastra
apahabar.com

Opini

Teori Impact Bias, Berdamai dengan Corona
apahabar.com

Opini

Ijtihad Politik Pemilih 2020
apahabar.com

Opini

Menyambut Ramadan di Kala Pandemi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com