Blak-blakan Walhi Soal Biang Kerok Banjir Kalsel BREAKING NEWS: Usai Pasukan Katak, Giliran Paskhas Mendarat di Kalsel Meletus! Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer Edan! 2 Pria Pembawa Sabu 11 Kg Tertangkap di Duta Mall Licin, Bos Travelindo Terduga Penipu Jemaah DPO Sejak Tahun Lalu

Embrio Munculnya Kotabaru: Konsesi Batu Bara Belanda Era Pangeran Amin Husin

- Apahabar.com Minggu, 7 Juni 2020 - 16:09 WIB

Embrio Munculnya Kotabaru: Konsesi Batu Bara Belanda Era Pangeran Amin Husin

Foto zaman kolonial sebagai ilusrasi. Foto KITLV & Koleksi Andi Ida Fitria Kesuma

apahabar.com, BANJARMASIN – Tepatnya 1 Juni 2020, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotabaru merayakan Hari Jadi yang ke-70 tahun.

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 memang tidak ada acara khusus seperti tahun sebelumnya.

Hanya gelaran salat hajad dan syukuran sederhana di kediaman Bupati Kotabaru, Sayed Jafar AL-Idrus.

Lantas, bagaimana sejarah Kotabaru sendiri?

“Bulan Juni menandai pembubaran Dewan Kalimantan Tenggara dan dimasukkan ke wilayah Republik Indonesia (Yogyakarta) serta pembentukan wilayah-wilayah pemerintah berupa daerah Swapraja di Provinsi Kalimantan,” ucap Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial & Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur, Minggu (7/6) siang.

Dalam nuansa peringatan hari jadi ini, tentunya menjadi momentum menolak lupa torehan sejarah masa lalu.

Tujuannya agar masyarakat tidak lupa asal usul dan identitasnya. Satu diantaranya tentang embrio nama Kotabaru.

“Puluhan buku sejarah tentang daerah ini ternyata masih minim deskripsi tentang embrio nama Kotabaru. Hal yang simpel memang, tetapi luput dari pengamatan,” kata Dosen PSP Sejarah FKIP ULM ini.

Perlu diingat, kata dia, wilayah Kotabaru tidak hanya menjadi nama wilayah di Kalsel.

Namun Kotabaru juga menjadi nama kelurahan di Kecamatan Gondokusuman, DI Jogjakarta yang dibangun Karsten tahun 1917 bergaya arsitektur Inggris.

“Selain itu, terdapat beberapa nama wilayah Kotabaru “lainnya” yang tersebar di wilayah Hindia Belanda (sekarang Indonesia),” ungkap Mansyur.

Berdasarkan kajian historis, sambung dia, di kawasan Borneo bagian tenggara itu, sebenarnya nama Pulau Laut sudah lebih dahulu ada dibandingkan Kotabaru.

Dokumen historis mencatat pada tahun 1660, berdasarkan pendapat Goh Yoon Fong, Pulau Laut sudah menjadi tanah apanage/apanaze Pangeran Purabaya dari Kesultanan Banjar.

Kemudian dalam sumber kolonial, nama Pulau Laut tahun 1843, dicatat penjelajah Jerman CALM Schwaner (1853) bertitel Historische, Geograpische en Statistieke Aanteekeningen Betreffende Tanah Boemboe.

Pulau Laut menjadi nama Kerajaan ketika Pangeran Jaya Sumitra (Raja Kusan keempat) antara tahun 1845-1861 memindahkan pusat kerajaan dari Kusan ke Pulau Laut.

“Pangeran Jaya Sumitra menjadi raja Pulau Laut pertama di Kerajaan Pulau Laut yang beribukota di Salinoe/Salino, seberang muara Pagatan,” tambah Mansyur.

Sementara itu, belum ada catatan sejarah resmi yang menuliskan pada era tahun berapa nama Kotabaru muncul.

Berdasarkan perbandingan beberapa sumber kolonial, dalam dinamika politik Kerajaan Pulau Laut, nama Kotabaru diperkirakan mulai mengemuka ketika pemerintahan Pangeran Amir Husin, raja Pulau Laut keempat pada tahun 1881-1900.

Pada era tahun 1873-1881, Kotta Baroe/Kotabaru awalnya sebuah wilayah kampung yang memiliki kandungan sumber daya alam, batu bara.

Kampung ini terletak di antara Sungai Sigam dan Taip.

Di mana, Paman dari Pangeran Amir Husin, Pangeran Ardi Kusuma memiliki satu tambang di wilayah sisi utara Kampung Kota Baru (Kotta Baroe).

Kemudian, terdapat lokasi tambang lainnya yang dimiliki Pemerintah Hindia Belanda di area kampung ini.

Penambangan batubara Kotta Baroe awalnya dikelolai perusahaan G.B. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1890 dialihkan kepada perusahaan investor Belanda, TP. van Dijk dan G. Boissevain.

Diperkirakan dari kampung Kotta Baroe inilah yang kemudian berkembang menjadi wilayah kota yang dikenal masyarakat dalam dekade awal Abad 20 sebagai “Kotabaru”.

“Apabila dibandingkan dengan sejarah nama Kotabaru di wilayah Jogjakarta, pada masa Hindia Belanda bernama Nieuwe Wijk yang dalam Bahasa Belanda secara harfiah berarti kota baru,” cetusnya.

Mengapa dinamakan Kotta Baroe atau Kota Baru?

Diperkirakan pada awal abad ke-20 industri pertambangan Hindia Belanda di wilayah Pulau Laut tumbuh bagai jamur di musim hujan. Cukup banyak. Mulai pertambangan batu bara Sembelimbingan, pertambangan batu bara Gunung Batu Besar, dan tambang lainnya.

Pertumbuhan ini berdampak dengan semakin banyaknya orang Eropa yang hadir ke Borneo.

Dengan demikian wilayah kotabaru yang sebelumnya hanya menjadi kampung, di mana terdapat konsesi tambang batubara Belanda, dikembangkan menjadi Nieuwe Wijk.

“Dibangun di lahan yang baru dibuka dan fasilitas yang ada sehingga membuat tempat itu menjelma seperti sebuah kota yang baru,” kata Mansyur.

Menurut Nagtegaal (1939), kutip Mansyur, Pangeran Amir Hoesin (Amir Husin) secara resmi menjabat kepala wilayah Pulau Laut selama sembilan tahun yakni 1881-1900.

Walaupun demikian, secara defenitif menjabat berdasarkan Besluit Pemerintah Hindia Belanda, baru terbit tanggal 5 Juni 1889.

Pada tahun 1889, barulah nama Kotabaru secara resmi dipakai dalam Lembaran Negara.

Seperti termaktub dalam Staatblaad tahun 1898 No. 178, wilayah Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe, dituliskan beribukota di Kotta Baroe (Kota Baru).

Menurut Staatblaad ini, wilayah Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe, terdiri dari daerah-daerah leenplichtige landschappen atau daerah landschap yang langsung diperintah kepala bumi puteranya dalam Karesidenan Zuider en Oosterafdeeling van Borneo.

Selain Kepala Wilayah, Pangeran Amir Husin, terdapat Asisten Residen yang jua berdomisili di Kota Baroe.

Pada masa pemerintahan Pangeran Amir Husin, untuk menunjang operasional Kerajaan Pulau Laut, ia memiliki tambang batu bara yang berlokasi di Sungai Salak.

Kemudian terdapat tambang lain di Tandjong Kemoening (Tanjung Kemuning) yang sebelumnya dikelola kepala Kampung Sigam, Raden Soetil.

“Berikutnya, dua tambang yang terletak di Sungai Pramoean besar milik Ratu Brangta, ibunda Pangeran Amir Husin,” pungkasnya.

apahabar.com

Salah satu wilayah di Kotabaru yang terpotret dari atas saat zaman kolonial. Foto-Foto KITLV & Koleksi Andi Ida Fitria Kesuma

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Reporter: Muhammad Robby - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Ibnu Sina Akan Ambil Langkah Tegas Terkait Pembangunan Gedung Parkir Duta Mall

Kalsel

Ada Meja Makan di Tengah Sungai Pariangan, Wisata Instagramable Baru di HSS
apahabar.com

Kalsel

Tunggakan Gaji Pekerja di Tala dan Batola, Intip Langkah Pemerintah
apahabar.com

Kalsel

Disdik: Anak Berkebutuhan Khusus Masuk Sekolah Reguler
Niat Antar Makanan ke Suami, Wanita 60 Tahun di Mataraman Ditemukan Tak Bernyawa

Kalsel

Niat Antar Makanan ke Suami, Wanita 60 Tahun di Mataraman Ditemukan Tak Bernyawa
apahabar.com

Kalsel

Korban Pencabulan Minim Pendampingan, Dinsos PPKB-PPA HST Perlu Restrukturisasi
Polisi

Kalsel

Polisi Berjibaku Bantu Warga Tala yang Terjebak Banjir
apahabar.com

Kalsel

Damri Beroperasi di Marabahan, Pelajar Diberi Tarif Gratis
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com