7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Positif Sabu, Oknum Anggota DPRD Tala Terancam Dipecat! Hasil Visum: 2 Anak yang Diduga Dibunuh Ibu di Benawa HST Mati Lemas! Orbawati Buron, Nasdem Tanah Laut Fokus Menangkan BirinMu Detik-Detik Akhir Kampanye, Bawaslu RI Turun ke Banjarmasin

Jalan ‘Bubur’ di Lampeong, Perekonomian Warga Mati Suri

- Apahabar.com Selasa, 30 Juni 2020 - 13:51 WIB

Jalan ‘Bubur’ di Lampeong, Perekonomian Warga Mati Suri

Jalan ke Benangin Gunung Purei dan Lampeong Teweh Timur termasuk jalan provinsi, karenanya diharapkan pemerintah provinsi Kalimantan Tengah melalui dinas terkait PUPR untuk bisa lebih serius memperhatikan kebutuhan masyarakat. Foto-Istimewa

apahabar.com, MUARATEWEH – Sudah beberapa bulan belakangan warga Kecamatan Gunung Purei dan Teweh Timur mengeluhkan kondisi jalan rusak.

Puncaknya, dalam sepekan terakhir jalan tersebut sudah hampir tidak bisa dilewati lagi. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pantauan apahabar.com, saat ini ada sembilan titik terparah. Hampir tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda dua dan empat kala hujan mengguyur.

Praktis, hal itu membuat perekonomian lumpuh. Warga desa juga berpotensi terisolir karena jalan yang merupakan transportasi satu satunya lewat darat ini terputus.

Saat ini saja, kata Kepala Desa Lampeong II Kecamatan Teweh Timur Sutnadi, warganya tidak bisa memasarkan hasil pertanian atau perkebunan mereka karena kondisi jalan yang rusak.

“Jalan ke Benangin Gunung Purei dan Lampeong Teweh Timur termasuk jalan provinsi, karenanya diharapkan pemerintah provinsi Kalimantan Tengah melalui dinas terkait PUPR untuk bisa lebih serius memperhatikan kebutuhan masyarakat di sini,” kata Sutnadi kepada apahabar.com, Selasa (30/6).

Sebagai contoh, sejak Mei lalu mobil bus milik pemerintah daerah yang biasa mengantar warga hendak bepergian ke Muara Teweh atau kabupaten sudah tidak bisa lagi beroperasi.

“Hasil kebun dan pertanian, kalau sebelumnya bisa dipasarkan ke luar daerah atau ke dalam kota Muara Teweh, kini sudah tidak bisa lagi,” jelasnya.

Demikian juga hasil hutan seperti rotan. Sekarang sudah tidak ada lagi pembeli yang mau datang akibat biaya operasional yang besar juga risiko tinggi,

“Bisa dikatakan perekonomian warga kami mati suri alias lumpuh,” jelas dia.

Yang lebih parah lagi, meski ada perbaikan tapi bukan pada titik atau lokasi rusak.

“Malahan jalan yang sudah baik, sehingga ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat kami,” pungkasnya.

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Reporter: AHC17 - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalteng

Teliti Obat Diabetes, 3 Siswi MtsN Kotim Wakili Indonesia ke Turki
apahabar.com

Kalteng

Penuhi Permintaan Masyarakat, Pekerjaan Fisik TMMD di Pangkut Bertambah
Kasus Covid-19

Kalteng

Kasus Covid-19 di Kapuas Melonjak, Nafiah Ingatkan Masyarakat Disiplin Prokes

Kalteng

Jubir Satgas Covid-19 Kapuas Ingatkan Pelaku Usaha Taati Prokes
Data Corona Nasional dan Kalteng Berbeda, Begini Penjelasan Kadinkes

Kalteng

Data Corona Nasional dan Kalteng Berbeda, Begini Penjelasan Kadinkes
apahabar.com

Kalteng

Sudah Dapat Dua Buaya di Sungai Serangas, Masyarakat Minta Perangkap Tetap Dipasang
apahabar.com

Kalteng

Wali Kota Palangkaraya Usul Bandara Tjilik Riwut Ditutup  
apahabar.com

Kalteng

11 Orang di Kotawaringin Timur Dipantau Terkait Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com