Ditangkap di Tabalong, Janda asal Ampah Kalteng Sudah Teler dari Amuntai Guru Danau Imbau Ulama Kalsel Tidak Berpolitik Praktis Puncak Pandemi, Berapa Limbah Infeksius Covid-19 di Kalsel? Amankan Pilgub Kalsel 2020, Polres Tapin Siapkan 258 Personel Akhir 2024, Agropolitan Anjir Pasar Batola Ditarget Berdaya Saing

Kompromi dengan Pancasila: Benang Merah Orasi Soekarno di Amuntai

- Apahabar.com Senin, 1 Juni 2020 - 14:35 WIB

Kompromi dengan Pancasila: Benang Merah Orasi Soekarno di Amuntai

Kunjungan Presiden RI pertama Ir Soekarno ke Amuntai Kalimantan Selatan. Foto-Koleksi Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara

apahabar.com, BANJARMASIN – Gerakan Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT), pimpinan Ibnu Hadjar semakin meningkatkan kegiatannya, pada awal tahun 1953 silam. Gerakan ini oleh pemerintah pusat dicap sebagai pemberontak yang beroperasi antara wilayah Kandangan dan Barabai.

Markas besar gerakan ini bertempat di Gunung Hantu, sekitar Desa Datar Laga, Barabai. Tidak jauh dari Kandangan.

“Pada mulanya gerakan bersenjata ini mengaku sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo yang dimulai pada Oktober 1950,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur kepada apahabar.com, Senin ,(1/6) siang.

Dalam kondisi tengah berkecamuknya aktivitas KRyT dan upaya Gubernur Kalimantan dr. Moerdjani melakukan aksi militer, pada akhir Januari 1953, Presiden Soekarno pun memilih berkunjung ke Kalimantan.

C. Van Dijk, dalam tulisannya “Darul Islam Sebuah Pemberontakan”, kata Mansyur, mengungkapkan tujuan Soekarno dalam rangka pemeriksaan daerah-daerah “pusat kekacauan” di Indonesia.
Adapun wilayah yang dikunjungi mulai Banjarmasin, Martapura, Kandangan, Nagara, Barabai hingga Amuntai.

Agenda utama adalah menanggapi kedudukan Islam dalam masyarakat dan masalah hangat apakah Indonesia akan menjadi negara Islam atau tidak.

“Beserta kondisi keamanan yang merupakan tema utama pidato Soekarno dalam lawatannya,” katanya.
Saat melakukan perjalanan dari Martapura ke Kandangan, Presiden Soekarno melihat dengan mata sendiri imbas dari pemberontakan KRYT.

apahabar.com

Kunjungan Presiden RI pertama Ir Soekarno ke Amuntai Kalimantan Selatan. Foto-Koleksi Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara

Bahkan di daerah Kandangan, beberapa pemberontak menghentikan sebuah truk tentara. Kemudian membakarnya, tak lama sebelum kedatangan Soekarno.

“Kerangka truk yang hangus itu belum dapat dipindahkan ketika Soekarno melintas,” tegas Mansyur.

Dalam pidatonya, berulang-ulang Soekarno menekankan perlunya pemulihan keamanan dan persatuan.
Seperti di Kandangan, sang Putera Fajar ini mengemukakan bahwa membunuh dan membakari rumah maupun mengacau ketertiban jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Pro-kontra muncul ketika isu sensitif disinggung Soekarno dalam pidatonya di Lapangan Merdeka Amuntai, 27 Januari 1953.

“Ini mengenai masalah agama dan dasar ideologi negara,” ungkap Mansyur.

Menurut Van Dijk, tambah Mansyur, sebagian golongan Muslim di Kalsel menentang sikap Soekarno tentang peranan Islam dan penyebaran “marhaenisme”.

“Ini terbukti ketika Soekarno tiba di Hulu Sungai,” terangnya.

Dalam sebuah pidato tanpa persiapan, Soekarno melihat slogan-slogan yang diperlihatkan massa dengan bunyi “Harap jelaskan: Negara Nasional atau Negara Islam?” dan “Bung Karno, apakah arti Marhaenisme?.”

Bagian pidatonya terkenal mengenai pendapat Soekarno tentang negara Islam sempat menggusarkan kaum Muslim di Indonesia.

Masalah yang sejak 1945 menarik perhatian politisi muslim maupun sekuler. Soekarno mengemukakan alasan, bila negara Islam dibentuk, banyak daerah yang penduduknya bukan Islam akan memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Sebagai contoh daerah Maluku, Bali, Flores, Timur, Kepulauan Kei dan bagian-bagian Sulawesi dengan menambahkan Irian Barat mungkin tidak mau masuk Indonesia.

apahabar.com

Kunjungan Presiden RI pertama Ir Soekarno ke Amuntai Kalimantan Selatan. Foto-Koleksi Arsip Kabupaten Hulu Sungai Utara

Dalam baboon Sejarah Banjar (2003) dituliskan pada mulanya pidato Soekarno yang disampaikan di Amuntai yang diistilahkannya sebagai sebuah pojok terpencil di Indonesia, tidak banyak menarik perhatian. Kemudian sesudah isinya diketahui lebih luas, timbul gelombang kontra.

Soekarno diserang bukan saja karena membela alasan konstitusional mendukung negara sekuler. Tetapi juga karena tidak membedakan antara mereka yang ingin negara Islam dengan cara damai dan mereka yang berusaha mencapai dengan cara-cara kekerasan.

Lagi pula, ada yang menuduhnya menyatakan dirinya menentang cita-cita Islam. Seperti Masyumi Kalimantan Selatan. Salah satu partai yang menyambutnya dengan gusar kata-kata Soekarno kala itu.

Pidato tersebut mereka menyatakan sebagai propaganda berat sebelah. Karena tidak dikemukakan pilihan alternatif suatu partai politik dengan ideologi Islam atau cita-cita mendirikan negara Islam.

Reaksi-reaksi jengkel juga muncul di Aceh. Ketika Soekarno harus memberikan penjelasan isi pidatonya di Amuntai, dalam kunjungannya di Sumatera Utara beberapa minggu kemudian.

Kemudian di Jakarta ketika muncul demonstrasi massa di Lapangan Banteng.

Protes dari Masyumi oleh M. Isa Anshary yang mencap pidato itu “tidak demokratis, tidak konstitusional dan bertentangan dengan ideologi Islam,” dan oleh organisasi-organisasi seperti Nahdlatul Ulama dan GPII.

Menurut Iqbal (2011), Soekarno memberikan jawaban tersendiri mengenai kontra ini.

Dalam suatu ceramah di Universitas Indonesia, dijelaskannya, “Ketika aku berdiri di Amuntai menghadapi pertanyaan: Bung Karno, kami inginkan penjelasan apakah kita harus mendirikan Negara Nasional atau Negara Islam,” ketika aku berdiri di sana ketika itu sebagai Presiden Republik Indonesia, sesaatpun tak ada terkandung maksud untuk melarang kaum Muslim memajukan atau mempropagandakan cita-cita Islam.”

Sebagai Presiden, Soekarno harus mempertahankan konstitusi. Dia pun harus menjawab : Indonesia adalah “Negara Nasional,” tetapi dengan demikian, ia tidak meremehkan hal warga negara untuk menyebarkan pandangan dan cita-citanya sendiri.

Benang merah dari pidato Soekarno, baik di Amuntai maupun di Jakarta, menekankan bahwa Pancasila merupakan kompromi yang harus disetujui bila orang ingin menghindari perpecahan.

Kemudian menegaskan, Indonesia adalah Negara Nasional (national state) yang berbentuk republik dengan sistem kesatuan. Menyatukan seluruh wilayah Nusantara, bukan persatuan atau pederasi.

Sejak awal 1950-an, Bung Karno memang gencar mewacanakan ideologi Pancasila dan paham kebangsaan. Hal ihwal itu dilakukannya sejak menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada 19 September 1951, atas jasanya sebagai “Pencipta Pancasila”.

Banyak hal hal yang patut diambil sebagai pelajaran dari pidato sukarno, terlepas dari pro dan kontra. Bahwa Indonesia satu kesatuan yang mengikat semua ideologi yang tumbuh di dalam diri jiwa bangsanya yang tidak bisa dimusnahkan atau diabaikan.

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Muhammad Robby - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Polda Kalsel Kirim 100 Personel Kawal Aksi Demonstrasi di Jakarta
apahabar.com

Kalsel

Momen HUT ke-2, Srikandi Kadin Tanah Bumbu Gelar Gowes Bareng
apahabar.com

Kalsel

Polisi: Kasus Pelecehan Anak di Banjarmasin Berpotensi Meningkat
apahabar.com

Kalsel

Hujan Lebat, Waspada Pohon Tumbang di Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

YLK Minta Gubernur Perjuangkan Penambahan Kuota Elpiji di Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Hasil Uji Petik, KSOP Kelas 1 Banjarmasin Temukan Dua Kapal Perlu Dicek Ulang
apahabar.com

Kalsel

Belanda Kembalikan Berlian 70 Karat Sultan Banjar, Sejarawan Pun Semringah
apahabar.com

Kalsel

Begini Urutan Surat Suara Pemilu untuk Pemilih
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com