Direvisi 5 Kali, Anggaran Covid-19 di Banjarmasin Kembali Membengkak! Kanalisasi Sepeda Motor di Banjarmasin Mencuat, Ahli Beri Catatan Plus Minus Catat, Banjarmasin Belum Akan Buka Sekolah Saat Ajaran Baru Nasib Pengemudi Bodong, Penabrak Mobil Ketua DPRD Kotabaru Motif Pembunuhan di Belitung Darat, Pelaku Tak Terima Istri Dimarahi




Home Ekbis

Senin, 29 Juni 2020 - 11:02 WIB

Luhut Ungkap IMF Komentari Utang Indonesia Akan Meningkat

Redaksi - Apahabar.com

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Foto-Kemenko Kemaritiman dan Investasi via Antara

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Foto-Kemenko Kemaritiman dan Investasi via Antara

apahabar.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan, Dana Moneter Internasional (IMF) turut berkomentar soal rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang mencapai sekitar 38 persen pada 2023.

Dalam webinar bertajuk ‘Tantangan Investasi dan Dunia usaha, serta Dinamika Ketenagakerjaan Dimasa Pandemi Covid-19, Kebijakan dan Strategi’ pada Minggu (28/6) malam WIB, Luhut mengatakan, pemerintah punya ketentuan untuk membatasi rasio utang terhadap PDB sebesar 60 persen sesuai dengan Undang-Undang Keuangan Negara.

“Kemarin dengan IMF dikomentari bahwa kita masih sangat, hmm, tidak terlalu seperti negara lain yang terlalu generous (murah hati). Karena kita melihat COVID-19 ini apa betul bisa selesai tahun ini? Kalau tidak kita harus ada contigency (cadangan). Jadi kita siapkan semua dengan baik sekali,” ujarnya.

Baca juga :  Tokopedia Laporkan Kasus Kebocoran Data Pengguna

Luhut menjelaskan selama ini rasio utang terhadap PDB Indonesia dipertahankan di bawah 30 persen. Namun, akibat wabah Covid-19, dengan terpaksa rasio utang harus dinaikkan dalam beberapa waktu ke depan.

Demikian pula defisit terhadap PDB yang biasanya dipertahankan di bawah 3 persen diperkirakan naik menjadi hingga 6,3 persen pada tahun ini.

Menurut Luhut, hal itu perlu dilakukan sebagai upaya pemerintah melakukan pemulihan ekonomi sebagai imbas dari dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan pandemik COVID-19 tahun 2020.

“Tapi pada 2023 kita coba akan bawa lagi ke 2,7 persen. Jadi defisitnya bisa kembali di bawah 3 persen pada 2023,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan rasio utang akan tetap dipertahankan agar tidak melampaui batas maksimal yang ditetapkan UU Nomor 17 Tahun 2003 maupun UU Nomor 2 Tahun 2020 yaitu 60 persen terhadap PDB.

Baca juga :  Kunci Bisnis Bisa Tahan Corona Ala Sri Mulyani

Dalam dokumen Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2021, pemerintah memproyeksikan defisit anggaran sebesar 3,21-4,17 persen dari PDB.

Sementara itu, rasio utang diperkirakan berada dalam kisaran 36,67 sampai 37,97 persen terhadap PDB.

Sebagai gambaran, Kementerian Keuangan mencatat jumlah utang pemerintah per akhir Mei 2020 mencapai Rp5.258,57 triliun atau mencapai 32,09 persen terhadap PDB.

Meningkatnya utang pemerintah itu karena adanya kebutuhan pembiayaan untuk mengatasi pandemik Covid-19 bagi sektor kesehatan, jaring pengaman sosial dan pemulihan ekonomi.(Ant)

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Kembali Naik, Harga Emas Antam Jadi Rp 851.000 per Gram
apahabar.com

Ekbis

Garuda Buka Penerbangan Manado–Davao
Melihat Rencana Erick Thohir Kelola Hotel BUMN di Satu Atap?

Ekbis

Melihat Rencana Erick Thohir Kelola Hotel BUMN di Satu Atap?
apahabar.com

Ekbis

Banjarmasin Nambah Tempat Nongkrong, Cafe Rumah The Panasdalam Resmi Dibuka
apahabar.com

Ekbis

Sri Mulyani soal Kesuksesan RI Raih 51% Saham Freeport: Bebas Kepentingan Pribadi
apahabar.com

Ekbis

New Normal Bikin Rupiah Menguat Pagi Ini
apahabar.com

Ekbis

April, Volume Kontainer di Trisakti Banjarmasin Naik Tipis
apahabar.com

Ekbis

Jelang Akhir Tahun, Harga Telur dan Bawang Mulai Naik di Banjarbaru
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com