7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Positif Sabu, Oknum Anggota DPRD Tala Terancam Dipecat! Hasil Visum: 2 Anak yang Diduga Dibunuh Ibu di Benawa HST Mati Lemas! Orbawati Buron, Nasdem Tanah Laut Fokus Menangkan BirinMu Detik-Detik Akhir Kampanye, Bawaslu RI Turun ke Banjarmasin

Menakar Program Food Estate di Kalimantan Tengah

- Apahabar.com Selasa, 30 Juni 2020 - 09:11 WIB

Menakar Program Food Estate di Kalimantan Tengah

Ilustrasi. Foto-Merdeka.com

Oleh: Rahimullah

PEMERINTAH pusat nampaknya serius akan menerapkan kebijakan dengan membuat program food estate yang terletak di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas yang merupakan bagian dari Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.

Hal itu terlihat dari beberapa Menteri yang sudah melakukan kunjungan ke Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas. Pemerintah juga sudah menganggarkan tahap awal sebesar 30.000 hektare lahan di dua kecamatan dengan lokasi Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas yang akan menjadi kawasan food estate dan pertanian modern (kompas.com).

Sebagaimana yang diketahui food estate sendiri merupakan suatu daerah yang ditetapkan sebagai lumbung pangan baru di Indonesia. Pemerintah yang berencana mengembangkan kawasan food estate di wilayah Kalimantan Tengah ini yang merupakan kawasan bekas pengembangan lahan gambut demi ketahanan pangan. Selain itu juga dilakukan agar Indonesia memiliki lahan tetap guna mempersiapkan kekuatan pangan tersebut.

Pemerintah dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan food estate juga mengajak sejumlah investor/korporasi untuk mempersiapkan wilayah tersebut menjadi kawasan ekonomi khusus agar bisa berhasil dijalankan.

Namun, pemerintah dengan ambisinya menjadikan food estate di wilayah Kalimantan Tengah ini dengan dalihnya meningkatkan kesejahteraan petani, pencipataan lapangan kerja bagi penduduk lokal serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produksi tidak secara otomatis dapat terjamin dalam implememtasinya. Hal ini diperkuat dengan pengalaman proyek food estate yang telah terjadi di daerah lain.

Sebagaimana riset yang telah dilakukan Kamim & Altamaha (2019) menyatakan bahwa proyek food estate yang dilakukan secara masif di Bulungan, Kalimantan Utara dan Merauke, Papua mengalami masalah serius sebagai dampak modernisasi pertanian dalam skala besar, yaitu yang mulanya dengan dalih memperbaiki kesejahteraan petani, sebaliknya kondisi mereka justru semakin termarginalkan.

Pemanfaatan teknologi dalam program food estate yang berupaya dilakukan untuk menggenjot produksi pangan realitasnya justru memunculkan kerawanan pangan yang harus diderita petani transmigran dan penduduk lokal.
Selain itu juga proses mekanisasi dan ekstensifikasi pertanian yang dilakukan oleh korporasi dan difasilitasi negara ternyata hanya memanfaatkan para petani transmigran untuk menjadi tenaga kerja dalam proyek food estate serta merusak kondisi lingkungan.

Temuan adanya permasalahan tenaga kerja dalam program estate selaras juga dengan temuan Savitri & Prawirosusanto (2015) yang berdasarkan risetnya dalam program food estate di Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat membuktikan anggapan salah yang menjelaskan akan terciptanya lapangan kerja secara langsung pasca dibukanya proyek food estate.

Sehingga beradasarkan temuan dan pengalaman proyek food estate yang sudah pernah dilakukan di daerah lain sepatutnya pemerintah mempertimbangkan kembali penerapan food estate di wilayah Kalimantan Tengah.

Kalaupun pemerintah tetap bersikeras melaksanakan program estate yang berlokasi di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah, maka pemerintah harus memberikan jaminan berupa pernyataan “hitam di atas putih” yang setidaknya memuat jaminan pemberdayaan penduduk lokal yang sekaligus peningkatan kesejahteraan serta meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan.

*
Penulis adalah Alumni FISIP Universitas Lambung Mangkurat dan Mahasiswa Pascasarjana FISIP Universitas Airlangga

===================================================================================

Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim.

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Menuding Yahudi, Meludahi Wajah Sendiri
apahabar.com

Opini

Menjajal Tuah Balangan1
apahabar.com

Opini

Indonesia Lockdown: Melawan Virus Covid-19 dan RUU Omnibus Law
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada
apahabar.com

Opini

Menjadi Guru yang Bersahabat Menuju Prestasi Hebat
apahabar.com

Opini

Poin Angka Kredit, Ketidakadilan Guru, dan Munculnya Penulis Bayaran
apahabar.com

Opini

Mengamalkan Wiridan Tanpa Ijazah; Menyikapi Fenomena Kitab Imdad Abah Guru Sekumpul
apahabar.com

Opini

#DiRumahAja dan Kita yang Sebentar Lagi Menjadi Gila
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com