Cari Keadilan untuk Rekannya, Ratusan Mahasiswa Geruduk Kejati Kalsel Akhirnya, Pelaku Pembunuhan Guru di RM Wong Solo Tanbu Tertangkap Ketum HIPMI Pusat Bakal Jadi Pembicara di HUT JMSI ke-2 di Sulteng Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta Waspada, Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Ancam 3 Kabupaten Kalsel

‘New Normal” Dinilai Mampu Pulihkan Daya Beli Masyarakat

- Apahabar.com     Rabu, 10 Juni 2020 - 13:45 WITA

‘New Normal” Dinilai Mampu Pulihkan Daya Beli Masyarakat

Ilustrasi-Salah satu objek wisata di Soloraya. Sektor pariwisata menjadi salah satu terdampak pandemi Covid-19. Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA – Kebijakan normal baru yang digulirkan pemerintah dinilai mampu memulihkan daya beli masyarakat.

“Dengan adanya normal baru maka aktivitas bisnis akan pulih, karyawan mulai masuk kerja dan kembali punya penghasilan. Itu bisa memulihkan daya beli masyarakat,” kata Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan, Rabu (10/6).

Meski demikian, ia memprediksi kenaikan daya beli tidak terjadi secara cepat tetapi bertahap. Menurut dia, pada triwulan ketiga tingkat konsumsi masyarakat masih akan negatif.

“Meski demikian, di triwulan terakhir harapannya sudah positif kembali dan ke arah pemulihan. Skenario terbaiknya Indonesia akan tumbuh sekitar 3 persen,” katanya.

Secara umum, dikatakannya, penerapan normal baru di tahap pertama ini lebih bertujuan untuk pemulihan ekonomi.

“Ternyata langkah pembatasaan sosial berskala besar (PSBB), serta social dan physical distancing dampaknya sangat dirasakan oleh pengusaha. Kalau ini dilakukan terus lama-kelamaan masyarakat kelas menengah juga akan terdampak. Bahkan saat ini sudah mulai terdampak,” katanya.

Menurut dia, beberapa sektor bisnis yang saat ini tumbuh negatif akibat pandemi Covid-19 di antaranya sektor jasa, pariwisata, dan perhotelan.

“Bahkan di Solo sektor-sektor ini tidak ada aktivitas, dampaknya adalah banyak karyawan yang sementara ini dirumahkan dan sebagian lagi terpaksa harus di-PHK. Saat ini okupansi hotel juga masih di bawah 5 persen,” katanya.

Sementara itu, untuk memastikan penerapan normal baru tidak memberikan dampak pada makin menyebarnya Covid-19, protokol kesehatan harus benar-benar diterapkan.

“Ketika ada ide ‘new normal’ ini yang perlu kita lihat memang aktivitas pemulihan bisnis. Beberapa mal dan perusahaan sudah menerapkan prosedur untuk kondisi ini. Pihak pengelola menerapkan SOP protokol kesehatan yang berlaku, dengan demikian proses itu akan terus berjalan,” katanya. (Ant)

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Uploader - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Harga Minyak

Ekbis

Pasokan Terganggu, Harga Minyak Melonjak
apahabar.com

Ekbis

Medsos Cs Picu Trafik Data Telkomsel Selama Lebaran
apahabar.com

Ekbis

Masih Dipengaruhi Euforia UU Cipta Kerja, IHSG Akhir Pekan Menguat
Apahabar.com

Ekbis

Selama Pandemi, Kominfo Siapkan 3 Program untuk Dukung UMKM
apahabar.com

Ekbis

3 Hal yang Harus Anda Pahami tentang Volatilitas Perdagangan
apahabar.com

Ekbis

Pagi Ini, Harga Emas Naik 9,4 Dolar AS
PaDi

Ekbis

Interaksi Kunjungan Tertinggi di PaDi UMKM Virtual Expo 2021, BPP HIPMI Raih Juara Umum
bank bjb

Ekbis

bank bjb Tawarkan Kemudahan Transaksi SR015 Secara Online
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com