Mahasiswanya Positif Covid-19, Kampus FISIP ULM Banjarmasin Lockdown Selama Sepekan Larang Anggota Fraksi ke Luar Daerah, Golkar Targetkan Kemenangan BirinMu 70 Persen Sembuh dari Covid-19, Sugianto Hadir di Kampanye Penutup Jelang Pencoblosan, Ratusan Anggota Fraksi Golkar Se-Kalsel Siap Awasi Money Politics Aduuuuuuuuuh ai, Viral Bocah di Tapin Ngamuk-Buang Motor Saat Ditilang Polisi

Orang-orang yang Memperebutkan Kebenaran

- Apahabar.com Minggu, 28 Juni 2020 - 19:33 WIB

Orang-orang yang Memperebutkan Kebenaran

Ilustrasi-Zulfikar/apahabar.com

Oleh Puja Mandela

“Kami adalah satu-satunya kelompok yang dalam setiap kegiatan gowes selalu membersihkan lingkungan, membuang sampah di tempatnya, dan mengedukasi masyarakat agar menjadikan olahraga sebagai budaya.”

Klaim seperti itu saya dengar di tengah budaya bersepeda yang belakangan sangat digilai masyarakat kita.

Seorang kawan yang menjadi bagian dari komunitas itu bersikukuh bahwa hanya kelompok mereka yang selalu mengisi kegiatan dengan pesan-pesan lingkungan yang menonjol. Di sisi lain, dia menganggap tak ada komunitas sepeda yang sama seperti itu. Yang ada hanya kumpulan orang bersepeda karena ikut trend dan atau karena gengsi, takut dibilang nggak kekinian.

Saya tak tahu sejak kapan kawan saya menjadi anggota komunitas goweser. Saya juga tidak tahu sejak kapan dia menjadi sosok konservatif seperti itu. Biasanya, dia memiliki cara pandang yang lebih luas dan lebih mudah menerima sesuatu yang datang dari luar, terutama ketika obrolan kami sudah mengarah ke satu topik: agama.

Kawan saya yang satu ini adalah pengkritik utama sebagian kelompok agama yang dinilainya kolot, takfiri, dan selalu merasa benar sendiri. Tapi tanpa ia sadari, ia juga sudah terjebak dalam ruang konservatif yang lain.

Beberapa tahun lalu, saya pernah terseret dalam sebuah komunitas masyarakat yang memiliki spirit membebaskan pikiran anggotanya dan membuat manusia berpikir luas sekaligus luwes. Sepintas mereka memang terlihat begitu terbuka, bebas, dan merdeka. Tapi di sisi yang lain mereka bisa menjadi sosok yang sebaliknya, tertutup, terkungkung, dan terjajah oleh diri sendiri. Pada akhirnya mereka sangat sulit menerima pandangan atau pemikiran di luar dari kelompoknya.

Barangkali itulah cerminan kita hari ini. Di satu sisi kita bisa menjadi sosok yang sangat terbuka, tapi di sisi lain kita bisa menjadi sangat tertutup. Kita seperti anak punk yang menganggap hanya musik punk yang mampu memberikan perlawanan kepada kekuasaan. Padahal, kalau anak-anak punk itu mau keluar sedikit saja, mereka akan bertemu dengan Bob Dylan yang menyuarakan protes dengan gaya menyanyi yang santai ditemani gitar akustik. Atau bahkan untuk melakukan protes kita tak butuh musik punk atau gitar akustik sama sekali, kita cukup rebahan di kasur seperti John Lennon dan Yoko Ono.

Hari ini sikap merasa paling unggul, paling oke, dan paling benar sendiri bisa kita saksikan di mana-mana. Stasiun TV A akan mengklaim mereka yang pemberitaannya paling akurat, media online B menyebut diri mereka sebagai yang tercepat, ormas C menyebut mereka yang paling getol memerangi maksiat, perguruan pencak silat D mengklaim sebagai kumpulan orang-orang paling sakti, kelompok E mengklaim dirinyalah yang paling berhak atas surga, dan partai politik Z mengklaim dirinya sebagai kelompok paling nasionalis sekaligus pancasilais.

Yang paling baru adalah tentang perseteruan dua kelompok karena masalah “bendera”. Kelompok pertama mengklaim benderanya memiliki simbol kebenaran. Sementara kelompok kedua juga menyatakan hal yang sama. Keduanya sama-sama kekeh mengklaim sebagai pihak yamg berada di jalan kebenaran. Dan pada akhirnya, konflik keduanya berujung pada aksi bakar-bakaran bendera.

Saya kira sikap merasa lebih unggul tidak akan jadi masalah jika hal seperti itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk memacu kreativitas sebuah kelompok agar bisa terus berkembang, bukan sebagai klaim kebenaran. Tapi hal ini tentu memiliki risiko. Apalagi dalam setiap kelompok masyarakat kita memang akan selalu berjumpa dengan manusia-manusia yang kelewat fanatik terhadap sesuatu hal. Fanatisme berlebihan itulah yang menjadi akar masalahnya.

Lantas, apakah salah jika kita merasa bahwa komunitas atau organisasi yang kita ikuti adalah yang terbaik?

Ya, sebenarnya tidak juga. Itu sifat yang sangat manusiawi. Tapi dengan catatan kita juga harus memiliki kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tak ada manusia awam seperti kita yang punya kebenaran mutlak. Maka, meski kita meyakini sesuatu itu adalah yang terbaik, kita tak perlu membuat klaim, apalagi sampai menuding kelompok lain salah dan bodoh.

Tempo hari, seorang pemimpin di salah satu komunitas mengumumkan kepada para jemaahnya agar jangan menganggap dirinya sebagai orang yang suci dan harus diikuti setiap ucapan dan tindakannya.

“Saya bukan ulama, ustaz, guru, atau apapun. Jadi Anda tidak berhak mengikuti kata-kata saya.”

Mendengar ucapan itu, para jemaah justru terkagum-kagum. Mereka menilai ucapan itu hanya sebagai wujud betapa rendah hatinya pemimpin mereka. Dan setelahnya, para jemaah justru menafsirkan sebaliknya. Seorang pemimpin komunitas masyarakat yang bahkan tidak pernah menimba ilmu di pesantren itu kini sudah dianggap sebagai ulama yang melampaui ulama-ulama lain di zaman ini.

“Dia adalah wali. Hanya dia yang mampu menyembuhkan Indonesia dari segala macam penyakit yang dideritanya,” begitu kata seorang jemaah.

Ya, sama seperti mereka. Pada akhirnya kita akan mudah terjebak dengan menganggap tokoh yang kita puja menjadi yang paling segala-galanya, sambil menganggap pihak lain berada di posisi yang jauh lebih rendah daripada kita.

Kita akan menuding orang-orang yang tak sepaham dengan pemikiran kita seperti katak di dalam tempurung. Tapi tanpa kita sadari kita juga sedang berada di dalam tempurung yang lain…

*
Penulis adalah redaktur apahabar.com

Editor: Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Indonesia Lockdown: Melawan Virus Covid-19 dan RUU Omnibus Law
apahabar.com

Opini

Poin Angka Kredit, Ketidakadilan Guru, dan Munculnya Penulis Bayaran
apahabar.com

Opini

Herd Immunity, New Normal, dan Hidup Berdampingan dengan Virus
apahabar.com

Opini

Karmila dalam Bayang-Bayang Politik Patronase Sang Ayah

Opini

Vivick Tjangkung  Luncurkan Buku “Melawan Teror Narkoba 8 Penjuru”
apahabar.com

Opini

Jurnalisme Profetik dan Misi Suci Firdaus
Medina untuk Corona

Opini

Medina untuk Corona
apahabar.com

Opini

Pentingnya Personal Branding Bagi Guru
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com