Warga Eks Bioskop Cempaka Geger, Pria Tewas Bersimbah Darah 7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Positif Sabu, Oknum Anggota DPRD Tala Terancam Dipecat! Hasil Visum: 2 Anak yang Diduga Dibunuh Ibu di Benawa HST Mati Lemas! Orbawati Buron, Nasdem Tanah Laut Fokus Menangkan BirinMu

Pilu Keluarga Pasien Non-Reaktif di Banjarbaru, Jasad Dibungkus Plastik

- Apahabar.com Selasa, 9 Juni 2020 - 17:39 WIB

Pilu Keluarga Pasien Non-Reaktif di Banjarbaru, Jasad Dibungkus Plastik

Keluarga pasien non-reaktif yang dimakamkan sesuai protokol pencegahan Covid-19 di Banjarbaru. Foto-apahabar.com/Nurul Mufidah

apahabar.com, BANJARBARU – Seorang pengidap stroke di Banjarbaru meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Idaman. Meski hasil rapid tesnya reaktif, jasad dikebumikan sesuai protokol Covid-19.

Keluarga pun kebingungan. Tak sedikit dari mereka yang mengeluh karena menerima stigma sosial.

“Awalnya, bapak [mendiang] dibawa ke RS itu karena diare, masuk isolasi belum sehari langsung meninggal. Dan dimakamkan secara [sesuai] protokol Covid-19,” ujar AN, anak si pasien kepada apahabar.com, Selasa (9/6) siang tadi.

AN sekeluarga bingung dengan aturan ketat yang diterapkan pihak rumah sakit.

“Sampai di sana (RS) bapak diperiksa terus ditempatkan di IGD lama belum dapat kamar,” tuturnya.

“Bapak setelah diperiksa tadi enggak diapa-apain. Kamar belum dapat jadi kami terpaksa tandatangan itu (surat pernyataan tindakan sesuai protokol Covid-19) biar bapak dapat kamar dan ditangani. Tahunya masuk ke isolasi pagi, dan kami enggak boleh ngantar,” cerita AN.

Ayahnya, kata AN, terindikasi Covid-19. Hasil pemeriksaan pada parunya menunjukkan adanya flek.

“Bapak sakit jantung sudah dari 2010, sakit itu sudah lama, ada riwayat [penyakit] paru, dan hasil rapid non-reaktif,” ungkapnya.

“Bapak itu stroke enggak bisa ngomong, enggak bisa gerak, enggak pernah ke mana mana. Saya enggak tega ninggalin sendirian, dia takut sendirian, tapi mau gimana lagi,” sambungnya.

Sampai, pada sorenya atau tidak lama setelah masuk ruang isolasi, pihaknya diberi kabar bahwa sang ayah meninggal dunia.

“Kasihan bapak dia enggak bisa jalan, enggak bisa ngomong, dan enggak ditemani keluarga. Apalagi drop-nya itu mendadak kan, awalnya diare, mungkin karena dia sendirian lalu masuk ruang isolasi jadi bapak drop dan meninggal,” terangnya.

Meski begitu, AN dan keluarga telah ikhlas. Namun pemakaman sesuai protokol Covid-19 dinilainya masih cukup membingungkan.

Penanganan demikian, kata dia, memberi persepsi miring terhadap keluarganya ke lingkungan sekitar.

“Sama saja ini seperti pembunuhan karakter, usaha kami cuma itu saja. Catering sama jual makanan masak. Itu pun sudah lama sekali tidak jualan sejak adanya pandemi jadi kami di rumah saja,” curhatnya.

Yang tak kalah membingungkan, kata AN, sesaat sebelum orang tuanya dimakamkan ia diberitahu petugas medis bahwa beberapa hari lagi hasil swab keluar. Dan jika positif maka ia dan keluarganya juga mesti diperiksa dan siap dikarantina.

“Kami tidak tahu kapan bapak di-swab nya, masuk ruangan pagi, sore meninggal tidak dikabari tentang swab. Kami cuma bisa ngikuti saja,” pasrah AN.

Ia berharap ada kejelasan informasi dari pihak RSDI terkait beberapa hal yang membuat ia dan keluarga besarnya bingung.

“Kami takut ini berimbas pada usaha kami, maunya kami ada kejelasan lah dari RS. Kalau non-reaktif atau negatif kami minta keterangannya biar orang tidak salah persepsi,” pungkasnya.

Untuk diketahui, si pasien dirujuk ke RSDI Banjarbaru pada Sabtu tengah malam atau Minggu dini hari kemarin.

Berselang paginya, si pasien masuk ruang isolasi dan dilaporkan meninggal dunia sore hari. Menginjak malam, jasadnya dimakamkan dengan prosedur Covid-19.

Terkait ini, apahabar.com mencoba mengonfirmasi pihak RSDI.

“Untuk tanggapan spesifik soal keluhan tersebut kami harus pelajari lebih rinci,” kata Kepala Seksi Diklat dan Penyuluhan RSDI Banjarbaru, Harun Arrasyid.

Apalagi, lanjutnya, keluhan seperti ini bisa melalui skema pengaduan resmi mengingat hal-hal yang berkonteks keterangan medis bersifat rahasia antara dokter dan keluarga pasien.

Namun, Harun mewakili pihak rumah sakit mencoba menjelaskan secara umum soal SOP yang diterapkan RS selama pandemi Covid-19. Termasuk mengenai protokol pemakaman yang dinilai cukup ketat. Jenazah pasien positif Covid-19 umumnya harus dibungkus plastik.

“Sejujurnya kami tentu tidak ingin memberatkan pasien, karena utamanya kami ingin mengedepankan apa yang diinginkan pasien, ini pilihan sulit bagi kami,” jelasnya.

Menurut Harun, petugas medis menjadi insan paling rentan terpapar dan menyebarkan Covid-19. Oleh karenanya, protokol di rumah sakit penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.

Terlebih, apabila pasien yang masuk menunjukkan gejala klinis yang mengarah ke Covid-19.

“Meskipun hasil rapid test atau swab tes belum ada, protokol itu tetap, tidak hanya RS kami, seluruhnya juga menerapkan begitu,” terangnya.

Kata Harun, selama pandemi semua pasien bahkan non-Covid-19 tidak boleh dibesuk. Dengan dasar ini sebagai upaya pencegahan penularan di lingkungan RS.

“Kita tidak mau ada kluster baru,” tegasnya.

Ikut dibeberkannya, pihaknya menerapkan protokol ketat. Baik untuk pekerja maupun pasien serta keluarganya, agar bisa mempersempit potensi penyebaran Covid-19.

“Pada intinya kami tentu ingin semuanya dalam keadaan sehat meskipun dengan segala keterbatasan,” ucapnya.

Di RS sendiri, terangnya ada Satgas khusus Covid-19 dan selalu ada evaluasi setiap harinya.

“Evaluasi soal bagaimana penanganan dan protokolnya, kita akui memang kadang protokol ini tidak bisa menyenangkan semua orang,” ujarnya lagi.

Lantas, bagaimana tanggapan RS terhadap pasien meninggal non-reaktif yang dimakamkan sesuai protokol Covid-19?

Menanggapi hal itu, Harun bilang bahwa hasil rapid atau swab hanya salah satu alat penegasan diagnosis awal. Atau sederhananya screening awal.

Sedangkan, di RS, pola pemeriksaan terkait gejala klinis yang mengarah ke Covid-19 katanya juga jadi acuan pihaknya dalam melakukan penanganan. Meskipun nantinya tetap akan dilakukan tes swab.

“Sehingga apabila ada pasien dengan gejala klinis yang meninggal akan tetap diberlakukan protokol Covid-19. Karena meski sudah meninggal, pasien tetap akan dilakukan swab untuk menegaskan diagnosisnya,” ungkapnya.

Harun berharap agar masyarakat memahami bahwasanya pemakaman dengan protokol Covid-19 adalah upaya pencegahan penularan virus asal Wuhan ini.

“Agar nantinya dari hasil swab (meski sudah meninggal) kita bisa lakukan tracing dan tracking agar bisa secepatnya memutus penularannya. Kita harap masyarakat bisa memahami hal ini, bukan untuk justifikasi,” Harun mengakhiri.

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Reporter: Nurul Mufidah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Waspada!!! Hujan Lokal dan Berpetir
apahabar.com

Kalsel

Prediksi Penularan Covid-19 hingga Akhir Agustus di Kalsel

Kalsel

Sasar Retail Modern di Banjarmasin, Petugas Temukan Produk Makanan Bermasalah
apahabar.com

Kalsel

Dukung Gerakan Revolusi Mental, Sekretariat DPRD Kalsel Turunkan Tim ‘Sapu Bersih’
apahabar.com

Kalsel

Sawah Eks HPS 2018, Nasibmu Kini…
apahabar.com

Kalsel

Alpin Tidak Lagi Sendiri
apahabar.com

Kalsel

74 Tahun Merdeka, Warga di Kaki Meratus Baru Dapat ‘Penerangan’
apahabar.com

Kalsel

Rifqi Prihatin Ketergantungan Fiskal Kalsel Terhadap Pusat Capai 80 Persen
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com