Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Korban Jiwa, Warga HST Tewas Cara Nonton Live Streaming Liga Champions Chelsea vs Sevilla di SCTV & Vidio.com Malam Ini 7 Pemuda Diamankan Saat Demo di Banjarmasin, Polisi: Mereka Mabuk Gaduk Sudah Minta Maaf, Sekda Tala Tetap Dipolisikan

Saat Covid-19, Pengusaha Sarung Tangan Karet Malaysia Makin Kaya Raya

- Apahabar.com Selasa, 23 Juni 2020 - 05:15 WIB

Saat Covid-19, Pengusaha Sarung Tangan Karet Malaysia Makin Kaya Raya

Sarung tangan karet. Foto-Liputan6.com

apahabar.com, JAKARTA – Covid-19 membawa berkah buat pelaku industri sarung tangan karet. Seperti di Malaysia, yang merupakan pemasok 65 persen produk sarung tangan karet di dunia, kini memiliki empat miliarder di sektor tersebut. Termasuk dua di antaranya merupakan pendatang baru.

Thai Kim Sim dari Supermax Corp menjadi yang teranyar bergabung dalam kelompok tersebut. Bloomberg Billionaires Index mencatat, kekayaan bersihnya mencapai USD 1 miliar pada sesi perdagangan saham bulan ini.

Lonjakan permintaan selama pandemi corona telah mendongkrak nilai saham perusahaan yang memproduksi alat pelindung, dan merubah negara di Asia Tenggara menjadi tempat bermukimnya pengusaha yang sangat kaya di bidang ini. Termasuk Supermax yang sukses melompat lima kali lipat dan mencuri perhatian.

“Memakai sarung tangan karet telah menjadi norma baru untuk berbagai tujuan, seperti medis dan ritel, dan pemakaian yang tinggi akan menguntungkan pembuatnya untuk jangka waktu lama,” kata Analis CGS-CIMB Research Walter AW seperti dikutip Bloomberg.

Negara Asia Tenggara menguasai pasar sarung tangan dunia sejak periode 1980, ketika permintaannya meninggi kala wabah AIDS menerjang. Berkat ongkos kerja yang rendah, pengusaha Malaysia berhasil mendirikan toko.

Pandemi Covid-19 semakin mengangkat bisnis pengusaha seperti pemilik Top Glove, Lim Wee Chai yang meraih kekayaan bersih sebesar USD 2,5 miliar. Perusahaan tersebut melaporkan kenaikan kekayaan bersih 366 persen menjadi 348 juta ringgit (USD 81 juta) selama tiga bulan hingga Mei 2020, dengan angka penjualan mencapai rekor tertinggi.

Rival lokalnya yakni Hartalega dan Kossan Rubber juga memperoleh peningkatan saham dua kali lipat di 2020. Hal tersebut mendorong kekayaan Hartalega menjadi USD 4,8 miliar, serta Kossan Rubber yang kini bernilai USD 1,1 miliar serta membuatnya menjadi miliarder pendatang baru.

Tapi dengan lonjakan saham 394 persen pada tahun ini, Supermax menjadi tak tertandingi. Perusahaan melaporkan kenaikan 24 persen pendapatan menjadi 447 juta ringgit selama tiga bulan hingga Maret 2020. Khususnya didorong oleh permintaan besar akibat Covid-19.

Perseroan saat ini memproduksi 24 juta sarung tangan setiap tahunnya, dan berencana menambah hingga 44 juta pada 2024. Supermax juga turut membeli lahan tambahan untuk meningkatkan kapasitas produksi pada bulan ini.

Ketika banyak analis menilai positif pergerakan Supermax, sebagian mengatakan produsen dari Malaysia tengah menghadapi tantangan saat negara seperti China memperluas produksi sarung tangan karetnya.

Tapi untuk sekarang ini, Supermax tetap jadi perusahaan favorit. Fakta bahwa perusahaan memproduksi sarung tangan merek sendiri membuat harga jualnya jadi lebih tinggi kepada konsumen akhir. (lip6)

Editor: Syarif

Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Imbas Covid-19, McLaren PHK 1.200 Pekerja
apahabar.com

Ekbis

Usai Testimoni Gubernur The Fed, Rupiah Kembali Tertekan
apahabar.com

Ekbis

Bursa Kawasan Turun, IHSG Awal Pekan Diperkirakan Melemah
aopahabar.com

Ekbis

Warga Penajam Nikmati Jargas, Pertamina: Lebih Ekonomis
apahabar.com

Ekbis

Avtur dan Solar Sumbang Penurunan Impor Migas
apahabar.com

Ekbis

Fakta-Fakta di Balik Rencana Penurunan Tarif Pesawat
apahabar.com

Ekbis

Stok Beras Kalimantan Selatan Aman hingga 2020
apahabar.com

Ekbis

Kekhawatiran Pasar Meningkat, Rupiah Akhir Pekan Ikut Melemah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com