Misteri 2 Bocah Dibunuh Ibu Depresi di Benawa HST, Saksi Kunci Buka Suara! Oknum Simpatisan Terjerat Sabu di Kotabaru, FPI Bantah Anggotanya Cabuli Murid, Oknum Guru Olahraga di SD Banjarbaru Langsung Dipecat! Ketuanya Buron, Joko Pitoyo Ambil Alih Nasdem Tanah Laut Laporan Denny Rontok di Bawaslu Pusat, Tim BirinMu Endus Motif Lain

Sebuah Kritik untuk Buku Kritik

- Apahabar.com Sabtu, 13 Juni 2020 - 15:46 WIB

Sebuah Kritik untuk Buku Kritik

Ilustrasi. Infografis-apahabar.com/Zulfikar

Oleh: Novyandi Saputra

KITA tentu sering mendengar anggapan bahwa musik hanya untuk didengarkan. Musik tidak untuk dibahasakan verbal dalam bentuk tulisan. Pada kenyataannya juga dulu pembahasan-pembahasan musik tidak dihiraukan oleh para pelaku musik itu sendiri. Musik seperti halnya karya cipta lainnya menjadi barang sakral penciptanya dan begitu subjektif.

Suka Hardjana misalnya mengatakan bahwa musik bukanlah sesuatu yang verbal. Pernyataan itu tentu saja tidak sekedar merujuk pada bentuk musik itu sendiri namun juga lebih dalam memberikan gambaran bahwa musik adalah sebuah kata kerja yang abstrak dengan pemaknaan ekspresi.

Orang-orang musik cenderung menghindari upaya-upaya pemaparan karyanya dalam bentuk yang teoritis dan dipenuhi pengertian. Simbol-simbol bunyi yang muncul dan saling ikat itu membentuk sebuah daya multi tafsir baik disengaja maupun tidak oleh penciptanya sendiri.

Dari pendapat di atas kemudian muncul semacam stigma bahwa seniman sejati tidak bisa bertemu dengan krtikus seni yang cenderung berupaya menguliti karya seni seniman tersebut. Perbedaan ideologi hingga latar belakang menciptakan dinding besar yang cenderung egosentris, terutama bagi seniman sejati itu sendiri. Persepsi ini cenderung melahirkan anggapan bagi mereka bahwa apa yang mereka buat telah berada pada bentuk-bentuk yang superior secara subjektif.

Kesadaran atas kritik karya musik ada dan telah berlangsung lama, pada awal abad ke-17 misalnya Charles Avison telah menulis Essay on Musical Expression yang berisi tentang kaidah estetika ekspresi musikal era Palestrina hingga awal abad ke-18. Kemudian kita juga bisa melihat bermunculan kritikus seperti di Jerman E.T Hofman di awal abad ke-19, E. Hanslick, atau di Perancis ada Hector Berlioz. Meraka kebanyakan adalah komposer yang merangkap sebagai analis musik pada zamannya masing-masing. Pembahasan mereka dengan bahasa yang banyak mengguakan istilah musikal akhirnya hanya bisa difahami oleh orang-orang yang punya latar belakang musik saja.

Pada akhirnya sulit bagi masyarakat awam untuk terlibat dalam wacana yang muncul dari analisa mereka. Pada sisi lain kita juga patut bersyukur karena mereka inilah yang mampu memberikan data arsip dokumentasi. Data-data dari tulisan analisis musik mereka ini yang bisa kita nikmati hingga sekarang atas bentuk dan sejarah musik dan berbagai interdisiplin ilmu terhadap musik. (jika ingin mendapatkan pembahasan lengkap silakan baca “Dari Bunyi ke kata- Erie Setiawan dan Esai dan Kritik Musik- Suka Hardjana).

Saya tidak ingin panjang membahas hal-hal yang banyak bersinggungan dengan ruang kesejarahan atau definisi kritik (dan) musik. Kaitan dari apa yang saya bahas di atas adalah bahwa baru saja telah terbit sebuah buku “Renungan Perihal Musik; Sepuluh tulisan apresiasi dan Kritik” karya Sumasno Hadi. Buku ini berisi tentang 10 aktifitas Sumasno Hadi dalam mendengarkan musik secara aktif.

Saya katakan aktif karena tentu saja Sumasno Hadi tidak sekedar menggunakan telinganya namun juga menggunakan matanya bahkan indra lainnya untuk membantu melakukan komparasi analisa terhadap berbagai objek kritik musiknya. Saya juga tidak ingin membahas satu persatu pandangan saya terhadap sepuluh tulisan Sumasno Hadi. Saya lebih tertarik melihat bagaimana dimensi wacana yang secara tidak langsung hadir dan saling ikat kait antar tulisan pada buku ini.

Renungan Perihal Musik yang menjadi tulisan pembuka pada buku ini saya kira menjadi koor kuat bahwa keterikatan tulisan Sumasno Hadi ada pada filsafat positivisme. Saya katakan demikian karena Sumasno ingin mengajak pembaca menelaah kembali berbagai definisi musik. Definisi yang muncul berdasarkan pada data-data empiris yang Sumasno temukan dalam perjalanan “membincangkan dan membaca” musik itu sendiri. Kedua, adalah perihal aksiologis lagu Indonesia Raya dengan penjabaran yang sangat ilmiah. Kemudian delapan tulisan lainnya adalah tulisan apresiasi dan kritik yang bersumber pada aktifitas pertunjukan di Kalimantan Selatan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perspektif yang digunakan Sumasno dalam buku barunya ini adalah filsafat positivisme. Hal ini bisa kita lihat dari bagaiamana runtutan pembahasan, dasar metodelogi hingga teori-teori yang bersilweran pada banyak tulisan dibuku ini membentuk sebuah alur. Alur yang merupakan ciri besar dari filsafat positivism yaitu berdasar pada pengalamannya sebagai penonton (pendengar). Tentu ini bisa dimaklumi karena beliau berlatar belakang filsafat. Pada kenyataannya juga bahwa musik telah mengalami perkembangan pembahasan tidak sekedar dalam wacana ilmu permusikan.

Musik telah mampu dibahasakan dengan ilmu-ilmu di luar musik itu sendiri (interdisiplin keilmuan). Namun kita juga melihat Sumasno hanya menjaabarkan apa yang ada di ruang dengar dan ruang lihatnya tanpa coba untuk melakukan pembedahan-pembedahan yang ilmiah. Ini semacam permakluman karena tulisan hanya dua yang berlatar ilmiah sedangkan sisanya adalah paradigma estetik pasca tonton.

Pembedahan-pembedahan Sumasno terhadap topik-topik kritiknya dalam buku ini juga banyak menggunakan istilah musik dan istilah-istilah ilmiah lainnya. Istilah-istilah tersebut barang tentu akan cukup bermasalah bagi orang-orang non musik. Saya kira bahasa kritik musik perlu mengalami penyederhaan peristilahan baik bahasa ilmiah atau bahasa musik itu sendiri.

Seperti retorika Aristoteles dalam filsafat komunikasinya bahwa, “Jika kita ingin berbicara dengan orang lain maka kita harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Jika tidak maka kita sebenarnya telah gagal menjadi makhluk social. karena Bahasa yang kita gunakan hanya dipahami oleh kita sendiri.”

Sumasno berkait kuat dengan paradigma-paradigma estetika sebagai salah satu pisau bedah. Paradigma estetika ini kemudian yang melahirkan kritik-kritik yang dari pengalamannya menonton secara langsung atau sekedar mendengar. Tentu saja kita bisa memaklumi bahwa musik merupakan bagian dari filsafat itu sendiri yang kemudian penalaran-penalarannya memerlukan kerangka estetika sebagai sebuah perwujudan.

Jika kita membaca satu persatu tulisan Sumasno ini wahana estetika menjadi koor besar yang coba ditawarkan demi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mewakili dua sisi (sisi seniman dan sisi penonton). Sumasno seperti menjadi jembatan agar dua sisi tersebut bisa saling terkoneksi melalui tulisannya. Meskipun juga belum tentu apa yang coba diwakilkan Sumasno melalui bukunya tidak memiliki kebenaran yang utuh dan absolut.

Pada hal lain, saya mengetahui bahwa 7 dari tulisan dalam buku Renungan Perihal Musik ini merupakan tulisan yang awalnya muncul di beberapa media cetak dan online yang ada di Kalimantan Selatan. Bahasa populer yang Sumasno Hadi gunakan memberikan kesan yang renyah meskipun sekali lagi bahwa Sumasno hadi perlu memikirkan ulang penggunaan bahasa musik dan bahasa ilmiah. Saran saya karena ini telah berbentuk buku, maka tentu bisa saja ditambahkan catatan kaki atau glosarium untuk memudahkan pembaca dari kalangan masyarakat non-musik.

Dibalik segala perihal musik yang dibahasakan Sumasno Hadi, kita tentu juga patut bersyukur. Sumasno Hadi melalui buku ini memberikan tawaran pendokumentasian beberapa karya atau peristiwa kesenian musik yang ada di Kalimantan Selatan. Melalui momentum terbitnya buku ini juga saya berharap para penggiat dokumentasi, institusi seni budaya, atau siapapun yang peduli terhadap ruang kebudayaan mulai memikirkan betapa pentingnya upaya pengarsipan dan pendokumentasian kebudayaan (Seni).

Seperti paradoks dengan paragraph saya tentang posisi seniman dan kritikus di masa lalu. Era sekarang yang praktis nan terbuka maka penting menyadari bahwa seniman dan kritikus merupakan dua perca yang saling membutuhkan dalam banyak hal. Ruang apresiasi, ruang uji gagasan, dan ruang temu antara karya dan penontonnya. Tentu perca-perca itu akan membentuk sebuah mozaik (ekosistem) yang manis. Panjang umur ekosistem seni yang lebih baik.

Banjarbaru, 13 Juni 2020

*
Penulis adalah Artistik Director NSA PM

===================================================================================

Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim.

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Palangka Raya: Jejak Rusia dan Kandidat Ibu Kota dari Masa ke Masa
apahabar.com

Opini

Guru dan Nilai-Nilai
apahabar.com

Opini

Pentingnya Personal Branding Bagi Guru
apahabar.com

Opini

Pandeminiafuzz; Penanda Sebuah Peristiwa
apahabar.com

Opini

Siapa Kuat Berebut Suara Rakyat Balangan?

Opini

Vivick Tjangkung  Luncurkan Buku “Melawan Teror Narkoba 8 Penjuru”
apahabar.com

Opini

Membully Manusia, Mengejek Tuhan
apahabar.com

Opini

Perppu (Offside) Melawan Covid
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com