Belasan Mahasiswa-Polisi Luka-Luka, Polres Ungkap Biang Ricuh #SaveKPK II di Banjarmasin #SAVEKPK Bergaung di Banjarmasin: Ratusan Mahasiswa Ultimatum Ketua DPRD Kalsel di Tengah Guyuran Hujan Tagih Janji Reklamasi, Dewan Tabalong Ngotot Panggil Bos Adaro UPDATE! Tunggu Supian HK, Massa #SaveKPK di Banjarmasin Ngotot Bertahan Jenderal Lapangan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Terluka, Tangan-Kepala Berdarah

Tak Ramah Lingkungan, Ini Alasan Pertamina Berencana Hapus BBM Premium

- Apahabar.com Minggu, 28 Juni 2020 - 18:30 WIB

Tak Ramah Lingkungan, Ini Alasan Pertamina Berencana Hapus BBM Premium

Ilustrasi pengisian BBM ke sebuah mobil di SPBU Pertamina. Foto-Dok. Pertamina

apahabar.com, JAKARTA – PT Pertamina dalam waktu dekat berencana menghapus penjualan bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai tidak ramah lingkungan. Beberapa produk yang bakal dihentikan distribusinya yakni Premium, Pertalite dan juga Solar.

Region Manager Retail Sales VII PT Pertamina (Persero), Remigius Choerniadi Tomo, menjelaskan bahwa BBM Premium hanya bisa digunakan untuk mesin bensin dengan compression ratio yang rendah.

Penggunaan Premium pada mesin membuat fuel economy tidak optimal (km/liter BBM rendah) serta emisi gas buang lebih kotor. Sehingga Premium dan Pertalite yang memiliki angka oktan rendah dinilai tidak ramah lingkungan.

“Oktan Number 88 hanya cocok untuk compression ratio 7 dan 5. Sedangkan mobil dengan compression ratio yang lebih tinggi misalnya 8,9,10,11 sudah harus sudah menggunakan BBM dengan oktan number 92 ke atas, bahkan sampai 96,” jelas Remigius dalam diskusi “Dampak Lingkungan dan sosial Ekonomi polusi udara di DKI Jakarta” seperti dikutip dari Antara, Minggu (28/6).

Remigius memaparkan, Premium hanya bisa digunakan untuk mesin bensin dengan compression ratio yang rendah.

Jika BBM janis Premium digunakan di mesin Euro 3 dan Euro 4, maka three-way-catalyst yang berfungsi menurunkan emisi hidrokarbon kabron monoksida dan oksida nitrogen, akan turun efektivitasnya sehingga gas buang akan lebih polutif.

Kemudian, Premium yang dipaksakan digunakan untuk mesin bensin dengan compression ratio yang tinggi maka akan terjadi knocking atau detonasi yang berakibat pada emisi yang semakin polutif, power turun, kerusakan piston dalam jangka panjang dan perasaan tidak nyaman bagi penumpang.

Premium, lanjut dia, juga hanya cocok digunakan untuk mesin dengan teknologi mesin bensin Euro 1 yang emisi gas buangnya sangat polutif.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menegaskan, bahwa pihaknya masih menjual BBM jenis Premium dan Pertalite ( Premium dihapus).

“Pertamina juga masih menyediakan Pertalite di SPBU di Indonesia. Untuk itu, masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap menggunakan BBM sesuai kebutuhan,” jelas dia.

Namun, di sisi lain menurut Fajriyah, Pertamina juga dihadapkan pada regulasi lingkungan. Merujuk pada ketentuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20 Tahun 2017.
Aturan itu mensyaratkan standar baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor sesuai dengan standar Euro 4, sehingga BBM yang digunakan untuk uji emisi agar minimal mengikuti RON minimal 91 atau CN minimal 51.

Oleh sebab itu, Pertamina juga terus melakukan edukasi dan mendorong konsumen agar beralih menggunakan BBM yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, belum ada rencana penyesuaian harga BBM Pertamina.

“Sesuai kesepakatan dunia dan pemerintah, setiap negara berupaya menurunkan emisi karbon dan mengurangi polusi udara, salah satunya dengan menggunakan BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan,” jelas Fajriah.

“Seperti yang sudah kita rasakan sejak PSBB, langit biru dan udara lebih baik, untuk itu kami akan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk yang lebih berkualitas,” kata dia lagi.

Sebagai Badan Usaha di sektor hilir, Pertamina masih menyalurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium sebagaimana penugasan yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.(Kps)

Editor: Aprianoor

Editor: Uploader - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Bank Indonesia Sebut Kalsel Alami Inflasi di Agustus 2020
apahabar.com

Ekbis

Tekan Inflasi, BI Kalsel ‘Bangunkan’ Lahan Tidur
Siapbos

Ekbis

Berkat Aplikasi Siapbos, Ojol di Tanbu Ini Hasilkan Rp 2 Juta Perbulan
apahabar.com

Ekbis

Lebaran Idulfitri 1441 H, Trafik Data XL Axiata Melonjak Tajam
apahabar.com

Ekbis

Hipmi Minta BPK Audit Anggaran Program Kartu Prakerja
apahabar.com

Ekbis

Inalum Terbitkan Obligasi Global 2,5 Miliar Dolar AS
apahabar.com

Ekbis

Corona Menggila, Rupiah Malah Menguat
PAMA

Ekbis

Covid-19 Melanda, Perusahaan di Kalsel Jangan PHK Pekerja!
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com