Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya Otsus Jilid Dua, Semangat Baru Pembangunan Papua

Update Pekapuran Raya, Kluster Paling Berbahaya di Banjarmasin

- Apahabar.com Senin, 15 Juni 2020 - 14:26 WIB

Update Pekapuran Raya, Kluster Paling Berbahaya di Banjarmasin

Kasus penyebaran virus Corona atau Covid-19 tertinggi di Kota Banjarmasin disumbang oleh kluster Pekapuran Raya. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Warga Kelurahan Pekapuran Raya patut waswas dalam beraktivitas.

Pasalnya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di sana masih menjadi yang terbanyak.

Dari sejumlah kluster di ibu kota Kalsel itu, hingga Senin pagi (15/6), Pekapuran Raya telah mencatatkan 61 kasus.

Pekapuran Raya telah lama ditetapkan sebagai wilayah penyebaran virus Corona. Dari sana, muncul kluster Pasar Sentra Antasari dan Sungai Bilu.

Kluster Sungai Bilu mencatatkan 31 kasus, sedangkan Pasar Sentra Antasari 6 kasus meninggal dunia.

“Semua kluster ini perkembangan dari kluster Gowa,” ujar Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Banjarmasin, Machli Riyadi Machli dihubungi, Senin (15/6).

Hasil analisis gugus tugas, pengidap Covid-19 di sana didominasi warga lanjut usia. Bukan usia produktif. Dimulai dari usia 50 hingga 60 tahun ke atas.

Lebih jauh, kluster ini menghasilkan 7 kasus meninggal dunia dan 1 pasien sembuh.

Sementara untuk kluster Sungai Bilu total 5 kasus meninggal dunia. Usia tertua di atas 80 tahun dan termuda 54 tahun.

Namun Sungai Bilu, perkembangan kurvanya disebut cukup melamban. Itu karena interaksi sosialnya tidak seintensif kluster Pekapuran Raya.

“Di Pekapuran interaksinya berada di dua pasar, tidak seperti Sungai Bilu,” pungkasnya.

Berdasarkan data Tim Gugus Tugas P2 Covid-19, Banjarmasin memiliki 708 pasien dalam perawatan.

Merujuk data itu, lanjut Machli, 70 persennya berstatus orang tanpa gejala atau OTG.

Jikapun memiliki, pastinya gejala yang diderita orang tersebut adalah diagnosis baru.

“Sekarang ini yang kita temukan orang yang kehilangan indera penciuman,” ucapnya.

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Reporter: Bahaudin Qusairi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Sempatkan Sapa Warga di Pura Agung Wanahita, Cawabup M Alpiya Rakhman Bangga dengan Kerukunan Beragama di Tanbu
apahabar.com

Kalsel

Sidak di Puskesmas, Abdi Rahman Soroti Kekosongan Obat dan Antrean Pasien
apahabar.com

Kalsel

Tukang Bangunan di Sungai Andai Tewas Diduga Tersengat Listrik
apahabar.com

Kalsel

Pria Bau Tanah di Banjar Tega Cabuli Anak Tetangga
apahabar.com

Kalsel

IDI Tanah Laut Dilantik
apahabar.com

Kalsel

Hindari Penyalahgunaan Trotoar, Dinas PUPR Pasang Bollard di Jalurnya
apahabar.com

Kalsel

PLN Pasok Listrik 69 Juta VA untuk Investor Baru di Kalimantan

Kalsel

Kodim 1011 Kapuas Canangkan Satgas Desa Tangkal Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com