ga('send', 'pageview');
Breaking News! Kabar Duka, Kadisdik Banjar Maidi Armansyah Meninggal Dunia Sebelum Wafat, Kondisi Wali Kota Banjarbaru Naik Turun Geger Mayat Mengapung di Laut Tanbu, Polisi Sulit Identifikasi Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan Peringatan 100 Hari Guru Zuhdi: Makam Ditutup, Streaming Jadi Andalan




Home Ekbis

Kamis, 2 Juli 2020 - 11:20 WIB

Data Ekonomi Global Membaik, Rupiah Berpotensi Menguat Tipis

Uploader - apahabar.com

Pecahan uang rupiah dan dolar AS. Foto-Antara/Puspa Perwitasari

Pecahan uang rupiah dan dolar AS. Foto-Antara/Puspa Perwitasari

apahabar.com, JAKARTA – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (2/7) berpotensi menguat tipis seiring membaiknya data ekonomi global.

Rupiah dibuka menguat 8 poin atau 0,05 persen menjadi Rp 14.275 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.283 per dolar AS.

“Rilisan data ekonomi AS yaitu data tenaga kerja dan data indeks aktivitas manufaktur bulan Juni semalam memberikan sentimen positif ke aset berisiko, karena data menunjukkan pemulihan ekonomi di tengah pembukaan kembali aktivitas ekonomi meski pandemi Covid-19 masih berlangsung,” kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis.

Selain itu, lanjut Ariston, pasar juga mendapat kabar baik dari kemajuan penemuan vaksin oleh perusahaan farmasi Pfizer.

Baca juga :  Triwulan II, Intip Utang Luar Negeri Indonesia

Pagi ini, sejumlah aset berisiko Asia seperti indeks saham dan nilai tukar pasar berkembang terlihat menguat.

Namun demikian, sentimen negatif yang masih membayangi pergerakan pasar bisa menutupi sentimen positif tersebut.

Selain kekhawatiran pasar dengan terus meningginya kasus COVID-19 di dunia dan potensi gelombang kedua pandemi, pasar juga mendapatkan sentimen negatif baru dari disetujuinya UU pemberian sanksi bagi perbankan AS yang berbisnis dengan pejabat China yang menerapkan UU keamanan Hong Kong.

“Ini artinya UU sanksi ini sudah disetujui oleh dua partai yang saling beroposisi di AS. UU sanksi ini dikhawatirkan merembet ke urusan dagang kedua negara, AS dan China,” ujar Ariston.

Baca juga :  Triwulan II, Intip Utang Luar Negeri Indonesia

Ia menambahkan, notulen rapat bank sentral AS The Fed yang dirilis dini hari tadi juga memberikan indikasi kondisi ekonomi yang masih dalam tekanan untuk jangka waktu yang lama karena COVID-19.

“Rupiah mungkin bisa menguat tipis hari ini setelah beberapa hari ini dalam tekanan,” katanya.

Ariston memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 14.150 per dolar AS hingga Rp 14.330 per dolar AS.

Pada Rabu (1/7), rupiah melemah 18 poin atau 0,12 persen menjadi Rp 14.283 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.265 per dolar AS.(Ant)

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Menu Baru Cafe Rumah The PanasDalam, Bir Pletok Pas ‘Musim Corona’
apahabar.com

Ekbis

Data Ekonomi Positif di Tiga Benua, Harga Minyak Global Naik
apahabar.com

Ekbis

Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Cabai Naik Di Pasaran
apahabar.com

Ekbis

Jokowi Senang Implementasi B30 Hemat Devisa 4,8 Miliar Dolar
apahabar.com

Ekbis

Cadangannya 1,8 Miliar Ton, Tambang Freeport Bisa Produksi hingga 2051
apahabar.com

Ekbis

Erick Thohir: 50 Ribu Alat PCR Diproduksi Pekan Kedua Mei
apahabar.com

Ekbis

Kebakaran Kilang di Balikpapan Dijamin Tak Ganggu Produksi
apahabar.com

Ekbis

2020, Pemerintah Alokasikan Rp11 Triliun untuk Rumah Subsidi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com