Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota BPPTKG: Volume Kubah Lava Merapi Masih Tergolong Kecil Sedikit Surut, Puluhan Rumah di Martapura Masih Terendam Banjir Tahap 3, Belasan Koli Vaksin Covid-19 Tiba di Kalsel

Di Banjarmasin, Mendagri Beberkan Alasan Pilkada Saat Pandemi

- Apahabar.com Sabtu, 18 Juli 2020 - 17:15 WIB

Di Banjarmasin, Mendagri Beberkan Alasan Pilkada Saat Pandemi

Menteri Tito saat kunjungan kerja dalam rangka rapat koordinasi kesiapan Pilkada Serentak 2020 di Mahligai Pancasila Banjarmasin, Sabtu (18/7) sore. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian membeberkan alasan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di tengah pandemi Covid-19.

“Kita tidak bisa menjamin apakah 2021 akan selesai, menurun atau semakin membesar. Maka kita ambil skenario optimis yaitu pertimbangan melihat negara lain,” beber Tito.

Hal itu disampaikan Tito saat kunjungan kerja dalam rangka rapat koordinasi kesiapan Pilkada Serentak 2020 di Mahligai Pancasila Banjarmasin, Sabtu (18/7) sore.

Keputusan itu, kata dia, diambil dari hasil kesepakatan bersama antara dewan kehormatan penyelenggara pemilu. Yaitu, DPR, KPU, Bawaslu, serta pemerintah dalam hal ini kemendagri.

Ditetapkan, pilkada masih diselenggarakan di tahun yang sama, yaitu 9 Desember 2020 mendatang.

“Ada 3 skenario yaitu Desember 2020, Maret 2021 dan September 2021. Kemudian dari hasil diskusi dan konsultasi dengan tenaga kesehatan nasional, serta mempelajari hitungan dari WHO dan para ahli negara lain,” jelas dia.

Pertimbangan itu juga berdasarkan salah satu asosiasi pengawas monitor pemilu di dunia yang menyebutkan dari 90 negara sebagian di antaranya melaksanakan sesuai jadwal.

“Korea Selatan misalnya yang melaksanakan pemilu di tengah puncak wabah, dengan menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Dari catatan Kemendagri, hanya 2 negara yang melakukan penundaan hingga tahun depan yaitu Paraguay dan Inggris.

Alasannya, negara tersebut memiliki tradisi petugas sukarelawan pemilu yang berusia rata-rata di atas 50 tahun. Sehingga memiliki risiko tinggi dalam penularan.

“Kita mengambil risiko penundaan dari September menjadi Desember,” lanjut dia

Dari sini, timbulnya fenomena gerakan dunia dalam beradaptasi menjadi tatanan kehidupan baru atau new normal life. Sehingga, tetap produktif tetapi dapat beradaptasi agar terhindar dari penularan.

“Banyak negara-negara yang mencari agar ekonomi tetap survive, tetapi penanganan kesehatan tetap bisa diutamakan,” ungkapnya

Pertimbangan lain yaitu meski terjadi krisis kesehatan kemanusiaan namun juga berdampak pada masalah ekonomi dan keuangan. Sektor ekonomi dan produksi saat ini kata dia sangat melamban.

“Akhirnya kita sepakati dari semua latar belakang itu, pilkada 2020 tetap berlanjut dengan menggunakan protokol kesehatan,” tutup dia.

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Reporter: Musnita Sari - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Pasar dan Drainase Kandaskan Impian Banjarmasin Raih Adipura Kencana
apahabar.com

Kalsel

Instruksi Pusat, Detik-detik Proklamasi di Banjarmasin Bunyikan Sirine
apahabar.com

Kalsel

Terkait Konflik Penajam, Cuncung Minta Warga Tak Terprovokasi
apahabar.com

Kalsel

Nekat, Mahasiswa Barabai Bawa Sabu ke Mandingin
apahabar.com

Kalsel

Mantapkan Konsolidasi Parpol Koalisi, AnandaMu Bertandang ke Markas Partai Nasdem Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

PDIP Sodorkan Tiga Kader Terbaik untuk Pilwali Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Kapolda Kalsel: Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Jadi Fokus Utama!
apahabar.com

Kalsel

Geser Anggaran untuk Covid-19, Dewan di Kotabaru Apresiasi Kades Sidomulyo
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com