Tak Seberuntung THM, Pembukaan Siring Pierre Tendean Ditunda Lagi Benarkah Depresi? Ibu Terduga Pembunuh Anak Kandung di Batu Benawa HST di Mata Warga Suami Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Dikenal Penanambaan KPK OTT Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna Dampak Libur Panjang, Banjarbaru Kembali Zona Merah!

Harga Emas Rp1 Juta per Gram, Simak 4 Taktik Investasinya

- Apahabar.com Selasa, 28 Juli 2020 - 14:16 WIB

Harga Emas Rp1 Juta per Gram, Simak 4 Taktik Investasinya

Ilustrasi warga jual perhiasan emas. Foto-detikcom

apahabar.com, JAKARTA – Naiknya harga emas saat pandemi Covid-19 akan dimanfaatkan warga untuk mencari keuntungan dengan menjual perhiasan.

Selain menjual, warga juga akan memanfaatkan momen kenaikan harga emas dengan berinvestasi logam mulia itu.

Saat ini harga emas di pasar internasional meroket dan tembus rekor baru yakni di kisaran US$1.945,77 per troy ons.

Harga emas yang melambung ini turut mengerek harga emas di dalam negeri, seperti yang diperjualbelikan oleh PT Antam (Persero) Tbk.

Harga beli emas Antam yang semula berada di kisaran Rp800 ribu, kini sudah tembus Rp1 juta per gram. Tepatnya, Rp1.022 juta per gram pada Selasa, (28/7).

Posisi itu melonjak Rp25 ribu dari sebelumnya Rp997 ribu per gram.

Sementara harga pembelian kembali (buyback) naik Rp23 ribu per gram dari Rp896 ribu menjadi Rp919 ribu per gram pada hari ini.

Lantas, apakah ini waktu yang tepat untuk investasi emas?

Menurut Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad kenaikan harga emas belakangan ini memang cukup menggiurkan untuk investasi. Apalagi bila kekhawatiran terhadap gelombang kedua virus corona atau covid-19 masih ada.

Sentimen negatif ini mengkerek harga emas naik. Pasalnya, investor pasar keuangan menjadi panik dan memindahkan dananya dari pasar saham ke emas yang dianggap lebih aman.

“Dengan ketakutan terhadap rekor-rekor jumlah kasus baru dan ekonomi yang tidak kunjung pulih, pasar goyang, saham naik turun, dolar AS naik, rupiah dari Rp13 ribu sekarang Rp14 ribu lagi, investor lari ke emas dan harganya naik,” ujar Teja seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa.

Namun, Teja mengatakan sebaiknya masyarakat tak buru-buru latah ingin mencicipi peluang keuntungan dari emas. Sebab, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli emas dan bermimpi dapat untung.

Pertama, menurutnya, pembelian emas justru tidak cukup tepat dilakukan saat ini ketika harga beli emas menyentuh Rp1 juta per gram.

Kenapa? Pasalnya, harga sudah terlalu tinggi.

Menurut Teja, justru lebih baik masyarakat menunggu harga emas mereda dulu sebelum akhirnya nanti bisa naik lagi ketika ketidakpastian akibat corona menyelimuti perekonomian. Bila harga beli sudah agak turun, barulah emas cocok dibeli.

Sebab, ini akan mengacu pada alasan kedua, yaitu pertimbangan harga jual emas. Saat ini, dengan harga beli Rp1.022 juta per gram, harga jual emas berada di kisaran Rp919 ribu per gram.

Maka, ada selisih sekitar Rp100 ribu setelah membeli emas dan ketika ingin menjualnya.

“Kalau sekarang beli emas dengan harga tinggi, justru pas jual tidak bisa dengan harga yang sama. Jadi usahakan beli ketika harga beli lagi turun,” katanya.

Ketiga, selisih harga jual dan beli ini membuat calon pembeli perlu menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka menengah, bukan pendek. Bila ingin investasi jangka pendek lebih baik ke reksadana daripada emas.

“Karena dalam waktu dekat tidak akan untung, masih ada gap dari selisih harga beli dan jual. Perlu kesabaran, kalau baru beli bentar langsung jual, untungnya tipis, bahkan lebih besar kemungkinan belum untung,” terangnya.

Keempat, hitung dulu modal untuk tempat penyimpanan apalagi bila yang dibeli merupakan emas fisik. Maka, perlu ada tempat penyimpanan yang memadai agar emas tidak hilang dan rusak, begitu juga dengan keuntungan yang diharapkan.

Penyimpanan ini memang bisa dilakukan tanpa modal bila rumah aman, tapi risiko selalu ada. Bila ingin lebih aman, tentu perlu brankas atau bahkan Safe Deposit Box (SDB) di bank.

Emas ini banyak ditawarkan oleh berbagai perusahaan, mulai dari yang resmi seperti Antam dan PT Pegadaian (Persero), sampai yang hanya bekerjasama dengan mereka, misalnya Bareksa dan para e-commerce, seperti Tokopedia dan Bukalapak.

“Menurut saya, kalau mau coba-coba lebih baik dengan emas online ini, sehingga bisa dimulai dari nominal kecil, tidak perlu sampai beli satu gram dulu yang nyaris Rp1 juta, bisa dari nominal kecil, pelan-pelan ditabung,” jelasnya.

Keuntungannya, kata Teja, tidak perlu ada biaya tempat penyimpanan. Bila emas sudah dibutuhkan, baru dicetak dan dikirimkan ke rumah. Bila ingin dijual bisa langsung secara digital tanpa harus pergi ke perusahaan jual beli emas.

Yang tak kalah menguntungkan, pembelian bisa di bawah satu gram. Bahkan, pembelian bisa menggunakan uang kembalian atau cashback dari promo yang kerap diberikan e-commerce.

“Ada di e-commerce yang dapat cashback misal Rp10 ribu, itu bisa dibelikan emas meski nol koma sekian gram, tapi itu bisa tidak berasa, sedikit-sedikit tapi menabung emas,” ujarnya.

Namun, Teja mengingatkan jangan lupa memeriksa jaminan hukum dari emas yang dibeli. “Kalau di e-commerce bisa dilihat itu kerja sama dengan siapa, misal beli di Tokopedia, kerja samanya dengan Antam, maka aman,” ucapnya.(Cnn)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Dukung Pendidikan Era New Normal, Acer Berbagi Beasiswa Internasional
apahabar.com

Ekbis

Data Ekonomi China Positif, Rupiah Awal Pekan Berpeluang Menguat
apahabar.com

Ekbis

Ditopang Sentimen Eksternal Debat Capres AS, Rupiah Ditutup Menguat
apahabar.com

Ekbis

Waskita Raih Rp2,5 Triliun dari Divestasi Dua Ruas Tol Trans Jawa
apahabar.com

Ekbis

Permintaan Besar di Pasar Global, Pemerintah Bidik Peluang Ekspor Pisang Cavendish Jembrana
apahabar.com

Ekbis

Ingin Kaya Sejak Muda, Intip Kiat Belajar Investasi ala Miliarder AS
apahabar.com

Ekbis

Lepas 4 Ton Daun Gulinggang ke Jepang, Pengekspor di Banjarbaru Patut Lirik Cina
apahabar.com

Ekbis

Biaya Kirim Barang Naik, UMKM Terancam ‘Mati Suri’
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com