Blak-blakan Walhi Soal Biang Kerok Banjir Kalsel BREAKING NEWS: Usai Pasukan Katak, Giliran Paskhas Mendarat di Kalsel Meletus! Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer Edan! 2 Pria Pembawa Sabu 11 Kg Tertangkap di Duta Mall Licin, Bos Travelindo Terduga Penipu Jemaah DPO Sejak Tahun Lalu

Imbas Covid-19, Utang Baru Korporasi Global Capai Rekor 1 Triliun Dolar

- Apahabar.com Senin, 13 Juli 2020 - 11:43 WIB

Imbas Covid-19, Utang Baru Korporasi Global Capai Rekor 1 Triliun Dolar

Ilustrasi - Seorang pedagang menyesuaikan maskernya saat ia bekerja di lantai New York Stock Exchange ketika wabah penyakit virus corona (Covid-19) berlanjut di wilayah Manhattan di New York, AS, 28 Mei 2020. Foto-Reuters/Lucas Jackson

apahabar.com, LONDON – Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia akan menghadapi utang baru sebanyak 1 triliun dolar AS pada 2020, ketika mereka mencoba menopang keuangan mereka terhadap virus corona baru atau Covid-19.

Demikian sebuah penelitian baru yan dilakukan terhadap 900 perusahaan-perusahaan terkemuka memperkirakan.

Kondisi peningkatan itu belum pernah terjadi sebelumnya akan melihat total utang perusahaan global melonjak 12 persen menjadi sekitar 9,3 triliun dolar AS, menambah akumulasi bertahun-tahun yang telah membuat perusahaan-perusahaan paling berutang di dunia berutang setara banyak negara-negara menengah.

Tahun lalu juga mengalami kenaikan tajam delapan persen, didorong oleh merger dan akuisisi dan oleh perusahaan-perusahaan yang meminjam untuk mendanai pembelian kembali saham dan dividen. Tapi lompatan tahun ini akan menjadi alasan yang sama sekali berbeda — mempertahankan hidup karena virus menguras laba.

“Covid telah mengubah segalanya,” kata Seth Meyer, Manajer Portofolio Janus Henderson, perusahaan yang menyusun analisis untuk indeks utang baru perusahaan. “Sekarang ini tentang melindungi modal dan mempertahankan neraca keuangan.”

Perusahaan-perusahaan menyerap pasar obligasi sebesar 384 miliar dolar AS antara Januari dan Mei, dan Meyer memperkirakan bahwa beberapa minggu terakhir telah menetapkan rekor baru untuk penerbitan utang dari perusahaan-perusahaan berisiko “imbal hasil tinggi” dengan peringkat kredit yang lebih rendah.

Pasar pinjaman telah ditutup untuk semua kecuali perusahaan-perusahaan yang paling terpercaya pada Maret, tetapi telah dibuka lebar-lebar lagi oleh program-program pembelian utang perusahaan darurat dari bank-bank sentral seperti Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa dan Bank Jepang.

Perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam indeks utang baru sudah berutang hampir 40 persen lebih banyak daripada yang mereka lakukan pada 2014, dan pertumbuhan utang telah dengan mudah melampaui pertumbuhan laba.

Laba sebelum pajak untuk kelompok yang sama dari 900 perusahaan telah meningkat 9,1 persen secara kolektif menjadi 2,3 triliun dolar AS. Gearing, ukuran utang relatif terhadap keuangan pemegang saham, mencapai rekor 59 persen pada 2019, sementara proporsi laba yang ditujukan untuk pembayaran bunga juga naik ke posisi tertinggi baru.

Perusahaan-perusahaan AS berutang hampir setengah dari utang perusahaan global sebesar 3,9 triliun dolar AS dan telah melihat peningkatan tercepat dalam lima tahun terakhir dari setiap ekonomi utama, kecuali Swiss di mana telah ada gelombang transaksi besar M&A (merger dan akuisisi).

Jerman berada di nomor dua dengan 762 miliar dolar AS. Jerman juga memiliki tiga perusahaan yang paling berutang di dunia termasuk yang paling berutang, Volkswagen, dengan 192 miliar dolar AS utang tidak jauh di belakang negara-negara seperti Afrika Selatan atau Hongaria, meskipun utang itu meningkat oleh unit pembiayaan mobilnya.

Sebaliknya, seperempat perusahaan-perusahaan dalam indeks baru tidak memiliki utang sama sekali, dan beberapa memiliki cadangan uang tunai yang besar. Yang terbesar adalah 104 miliar dolar AS milik Alphabet pemilik Google.

Meyer mengatakan pasar-pasar kredit masih memiliki beberapa cara untuk kembali ke kondisi pra-COVID dan ancaman virus yang sedang berlangsung, terutama lonjakan baru-baru ini dalam kasus AS, tetap menjadi perhatian utama investor.

“Ini semua adalah resep untuk prospek yang lebih menantang daripada yang kami kira dua bulan lalu,” katanya.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

KBRI London Ingatkan WNI Kemungkinan Covid-19 Gelombang Kedua
apahabar.com

Internasional

Penjelasan WHO, Virus Corona Dapat Menyebar di Udara
apahabar.com

Internasional

Tiga Hari Berturut, di Brasil Catat 1000 Kasus Kematian Covid-19
apahabar.com

Internasional

Presiden AS Donald Trump dan Sang Istri Melania Positif Covid-19, Ini Diduga Penyebabnya
apahabar.com

Internasional

Thailand Menghapus Ganja dari Daftar Narkotika
apahabar.com

Internasional

Awal Tahun Depan, Arab Saudi Berencana Terbitkan Kembali Visa Turis
Gerhana Matahari

Internasional

Gerhana Matahari Total Bakal Terjadi Besok
apahabar.com

Internasional

Jepang Latihan Militer di Laut China Selatan, Pemerintah Cina Geram
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com