Dinkes Banjarmasin Langgar Prokes, Pejabat Pemkot Melempem Sidang Kasus Sabu 300 Kg di Banjarmasin, 4 Terdakwa Terancam Hukuman Mati! Tipu-Tipu Oknum DLH Banjarmasin, Sekantoran Diutangi Ratusan Juta Tipu Belasan Penyapu Jalan, Oknum ASN di Banjarmasin Akhirnya Mengaku! Berstatus Waspada, PVMBG Sebut Aktivitas Gunung Semeru Masih Fluktuatif

Kenali Gejala Nyeri Pinggang yang Disebabkan Saraf Terjepit

- Apahabar.com Jumat, 17 Juli 2020 - 05:30 WIB

Kenali Gejala Nyeri Pinggang yang Disebabkan Saraf Terjepit

Ilustrasi. Foto: ChesiireCat

apahabar.com, JAKARTA – Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau sering dikenal nyeri saraf terjepit umumnya terjadi pada seluruh ruas tulang belakang mencakup leher, punggung, pinggang hingga tulang ekor.

Dokter spesialis bedah orthopedi & traumatologi di RS Pondok Indah – Puri Indah, Muki Partono mengatakan daerah sakit tergantung lokasi terjadinya penjepitan.

Jika terjadi leher, maka penderita akan mengalami migrain atau sakit hingga ke bahu disertai rasa kesemutan dan rasa panas. Sementara jika penjepitan di tulang ekor, maka penderita akan merasa sakit seperti otot ketarik pada bagian paha atau betis, kesemutan hingga kelumpuhan.

“Jika penjepitan di daerah pinggang akan terasa nyeri dari pinggang turun ke bawah menjalar sampai ke belakang paha, betis, disertai rasa kesemutan dan rasa panas,” kata dia dalam webinar, Kamis (16/7).

Kelumpuhan yang terjadi bukan selalu tidak bisa berjalan atau kaki tidak bergerak samasekali, tetapi terjadi penurunan pada sistem gerak. Jika sudah penurunan kekuatan motorik (misalnya tiga dari lima) bisa dikatakan mengalami kelumpuhan sebagian.

Biasanya, otot dengan saraf terjepit cenderung melemah dari waktu ke waktu, sehingga menyebabkan penderita mudah tersandung, atau tidak kuat mengangkat atau memegang barang atau sesuatu.

Pada pria, selain kesemutan dan rasa panas, ada risiko HNP menyebabkan impotensi hingga kemandulan apabila terjadi pada torakal.

Faktor risiko seseorang terkena HNP antara lain berat badan berlebih atau obesitas, pekerjaan, cedera, gaya hidup, genetika, aktivitas seperti menyetir pada jangka waktu yang lama, merokok, postur tubuh dan usia lanjut.

“Pekerjaan yang kaitannya dengan mengangkat berat, atau kelainan pada bentuk tulang belakang itu sendiri,” ujar Muki.

Muki mengatakan, saat ini pengobatan HNP salah satunya melalui tindakan operasi tanpa sayatan atau minimal invasif spine surgery, yakni memasukkan jarum ke kulit yang dilanjutkan menusukkan jarum ke kulit yang ditujukan ke disc dan diberikan energi dari laser.

Disc yakni cakram jaringan tulang rawan di antara ruas tulang punggung yang berfungsi sebagai peredam kejut.

Menurut dia, tindakan operasi ini tergolong aman karena tidak memerlukan pembiusan total melainkan lokal di tempat jarum yang ditusukkan.

Penderita HNP biasanya disarankan menjalani tindakan ini yakni jika tidak ada respon sampai enam minggu pengobatan konservatif, HNP stadium satu, belum terjadi kelainan neurologis yang berarti.

“Awalnya dengan medikamentosa, evaluasi kembali dua minggu kalau terjadi perbaikan, dinyatakan sembuh secara keluhan, tetapi bantalan tidak mengalami perubahan. Kadang dikombinasi dengan fisioterapi. Kalau semua cara itu dilakukan tidak berhasil, biasanya kami beri tindakan operatif,” pungkas Muki.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Gaya

Musim Hujan, Waspada Jamur Kulit
apahabar.com

Gaya

5 Hal Viral di Internet di 2018, dari Bowo TikTok Hingga Operasi Plastik
apahabar.com

Gaya

Long Weekend Segera Berakhir, Begini Cara Kembalikan Semangat Kerja
apahabar.com

Gaya

Tips Mudah Agar Kulit Tidak Kering Selama Berpuasa Ala Dokter Rama
apahabar.com

Gaya

Pandemi, Waktu Tonton Konten Otomotif di Youtube Meningkat
apahabar.com

Gaya

Waktu Mandi Dapat Pengaruhi Tumbuh Kembang Bayi
apahabar.com

Gaya

Implementasi 5G Dapat Percepat Era New Normal
apahabar.com

Gaya

Diversifikasi Pangan Ubi Kayu dan Kelor Menjadi Mie Mocaf
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com