Misteri 2 Bocah Dibunuh Ibu Depresi di Benawa HST, Saksi Kunci Buka Suara! Oknum Simpatisan Terjerat Sabu di Kotabaru, FPI Bantah Anggotanya Cabuli Murid, Oknum Guru Olahraga di SD Banjarbaru Langsung Dipecat! Ketuanya Buron, Joko Pitoyo Ambil Alih Nasdem Tanah Laut Laporan Denny Rontok di Bawaslu Pusat, Tim BirinMu Endus Motif Lain

Kenormalan Baru, Sebuah Kesenjangan

- Apahabar.com Sabtu, 11 Juli 2020 - 19:18 WIB

Kenormalan Baru, Sebuah Kesenjangan

Ilustrasi-Zulfikar-apahabar.com

Oleh Dewi Alfianti

Saat kampanye Black Lives Matter untuk membela almarhum George Floyd menggema seantero dunia, atau saat kasus terinfeksi Covid-19 di Amerika Serikat mencapai 3.219.999 kasus, namun para fans K-Pop dan Tik Tok di sana masih bisa memboikot kampanye Trump, di situlah kita menyadari bahwa dunia telah mulai berjalan meski tertatih-tatih. Tak ada yang bisa bertahan dalam kondisi tanpa gerak sedikitpun. Diam adalah bentuk kematian yang lain. Manusia seakan disadarkan, well, ada hal lain yang juga penting selain perjuangan melawan Covid-19.

Dunia hari ini sudah mulai melonggarkan segala aspek pengetatan yang dilakukan di awal pendemi. Saya lihat, grafik kematian di dunia perhari akibat pendemi di Worldometer (barangkali ini klik pertama saya untuk situs ini dalam dua bulan terakhir) juga sudah agak menurun meski penderita harian terus bertambah. Pada 17 April, kematian dalam sehari akibat Covid-19 mencapai 8.470, ini adalah angka tertinggi, setelahnya tren cenderung menurun. Sementara itu, korban terinfeksi terus bertambah, untuk kasus harian, tanggal 9 Juli ada 222.825 orang terinfeksi dengan total keseluruhan yang tertular di dunia berjumlah 12.387.420 orang.

Apa yang dapat kita pelajari dari angka-angka di atas? Pertama adalah fakta bahwa pendemi ini masih belum akan berakhir dalam waktu dekat. Penambahan korban tertular menunjukkan, mungkin perlu berbulan-bulan lagi atau bahkan setahun lebih sampai vaksin yang sebenar (bukan sekadar pengumuman: halo, vaksin agaknya telah ditemukan) benar-benar telah ditemukan dan didistribusikan ke seluruh dunia. Jika memang vaksin untuk virus ini bisa ditemukan. Mungkin perlu waktu yang lama juga sampai kekebalan komunitas benar-benar terbentuk. Di sisi lain, barangkali kekebalan komunitas memang mulai terbentuk dengan telah menurunnya angka kematian perhari. Yang kedua adalah simpulan agak ngawur dari saya, boleh percaya boleh diabaikan.

Dengan masih akan lamanya proses tular menularkan virus ini, kita harus menyadari fakta bahwa virus ini masih akan menjadi bagian kehidupan kita. Virus ini masih akan ada, nyata, dan tetap eksis untuk menulari orang-orang. Lalu mengapa wacana kenormalan baru di negeri ini bisa membawa efek negasi alias penyangkalan yang kuat atas fakta tersebut? Padahal wacana kenormalan baru atau new normal bahkan tidak berasal dari term lokal kita. Ia adalah usaha Eropa untuk bangkit dari keterpurukan sosial ekonomi akibat virus ini. Kenormalan baru dicanangkan sebagai kebijakan kenegaraan. Sebuah usaha bangkit dengan pelonggaran kondisi serba ketat namun masih mengedapankan protokol keamanan untuk bisa bertahan dari serangan virus. Dalam hal ini mereka, pemerintah dan warga negara Eropa, agaknya memiliki paradigma yang sama terkait kenormalan baru: apa yang harus dilakukan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan bagaimana visi dalam hidup di era ini.

Hal yang sama sekali berbeda terjadi di Indonesia. Saat wacana kenormalan baru mulai diperkenalkan akhir Mei silam, sesuatu yang ajaib terjadi, orang-orang mulai berpikir bahwa di era normal baru, kita sudah selesai dengan urusan virus ini. Pengetatan yang sempat dilakukan baik oleh pemerintah sebagai pembuat regulasi pengetatan maupun masyarakat sebagai pihak yang diketatkan, alih-alih meningkat eskalasinya, justru menurun drastis dengan intensitas permisif yang pada titik tertentu menjadi  sangat mengkhawatirkan.

Ada paradigma kenormalan baru yang keliru dipahami. Penyebabnya boleh jadi cara komunikasi pembuat regulasi yang tidak efektif atau masyarakat yang menolak untuk memahami kecuali berdasarkan persepsi subyektif mereka belaka.

Komunikasi Regulator

Apa interpretasi kita terhadap spanduk atau baliho tentang kenormalan baru yang sering kita baca? Bahwa kita harus menjalani hidup dengan sejumlah protol kesehatan: memakai masker, mencuci tangan di ruang-ruang publik, menjaga jarak aman sekitar satu meter, tidak berkerumun, sedapat mungkin membayar secara non-tunai, dan hal lainnya.

Namun, spanduk dan baliho adalah imbauan pasif yang tentu saja sama tak efektifnya dengan baliho dan spanduk partai politik di era pemilu. Orang mungkin membacanya, dan mungkin tidak, mungkin peduli, mungkin acuh. Spanduk tidak cukup impresif dan tidak cukup punya kekuatan untuk menggerakkan dan memberikan sugesti. Apalagi jika imbauan itu ditingkapi foto penjabat atau sesiapalah di sana yang ukurannya lebih besar dari imbauan itu sendiri. Perlu sistem pendukung yang tetap terus bekerja untuk membuat apa yang disebut kebiasaan baru di era kenormalan baru yang diimbaukan di spanduk dan baliho menjadi efektif diterapkan dan secara perlahan memang menjadi kebiasaan baru masyarakat.

Ada kesenjangan antara tata nilai era kenormalan baru yang hendak diadaptasikan regulator kepada masyarakat dengan aksi nyata yang dilakukan regulator terkait bagaimana tata nilai baru itu bisa diimplementasikan. Tata nilai yang diimbaukan tidak memiliki sistem pendukung dalam implementasinya. Misalnya anjuran untuk tidak berkerumun jelas tidak efektif ketika regulator membiarkan kerumunan tetap menjadi kerumunan tanpa pengaturan untuk mereduksinya jadi suatu wilayah zonder kerumunan. Pasar-pasar masih tetap sepadat itu tanpa pengaturan arus keluar masuk, dan regulasi pembatasan kerumunan di mall atau tempat nongrong bahkan telah dicabut sama sekali.

Demikian pula kebijakan memakai masker bagi tiap orang yang ketika masa PSBB begitu ketat dikawal dan disupervisi pihak regulator. Dengan pencanangan kenormalan baru, pengawalan itu justru tidak tampak lagi keteguhannya.

Dengan begitu longgarnya regulasi untuk memastikan protokol di era kenormalan baru dapat berlangsung sesuai harapan (harapan siapa?) oleh regulator, akhirnya masyarakat yang notabene memang tidak suka diatur terlalu ketat meski untuk kebaikan mereka sendiri, akan berpikir bahwa era kenormalan baru memang seperti ini adanya. Era kenormalan baru adalah era imbau-mengimbau lalu selebihnya terserah saja. Lebih parahnya, dengan menghilangnya atmosfir kedaruratan era Covid-19, sebagian (besar?) masyarakat mulai berpikir bahwa musim pendemi telah usai. Hore, dan marilah kita hidup seperti sedia kala.

Pemahaman Masyarakat

Suatu ketika saya mengunjungi seorang kerabat, Beliau menyambut saya dengan berita yang menurut Beliau sangat menggembirakan sekali, bahwa corona sudah ampih (selesai). Dengan pemahaman demikian, Beliau menganggap bumi telah terbebas dari virus tersebut dan semua bisa kembali pada kondisi seperti sebelum akhir tahun 2019 silam. Pemahaman ini barangkali bukan pemahaman Beliau seorang. Sebagian masyarakat yang keliru menafsirkan istilah kenormalan baru ini, juga akan memahaminya demikian. Yah, tempat hiburan kembali dibuka, pengajian juga sudah mulai jalan lagi. Tak ada yang salah dengan itu kecuali segala protokol yang diimbaukan di baliho dan spanduk-spanduk, telah diingkari sejadi-jadinya. Orang berkerumun tanpa jarak yang tegas, dan wajah-wajah muncul dengan dua variasi, bermasker dan tidak, dan adegan mencuci tangan, entahlah, saya tidak ingin memikirkannya.

Apa yang dimbaukan telah keliru ditafsirkan oleh masyarakat. Mengapa ada misinterpretasi? Hal pertama jelas karena inkonsistensi antara imbauan dan implementasi pengawalan imbauan yang dilakukan regulator. Masyarakat dibuat bingung dengan kontradiksinya.

Di sisi lain, psikologi masyarakat juga membantu menyuburkan kesalahpahaman itu. Masyarakat kita enggan dikekang, kedisiplinan mengikuti aturan barangkali sesuatu yang bukan kita banget. Maka ketika ada peluang untuk melarikan diri darinya, tentu itu sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Kesempatan itu bernama era kenormalan baru.  Selain itu, apa yang lebih menenangkan jiwa dari beratnya tekanan fisik dan mental akibat horor penyebaran virus yang bisa mematikan itu daripada penyangkalan.

Yah, demikianlah. Boleh dikatakan masyarakat kita sedang berusaha mengingkari kenyataan dan melarikan diri darinya. Selama kenyataan itu tidak langsung terpapar di depan mata, tak terjadi pada diri sendiri, maka ingkarilah. Angka korban dapat terus bertambah, namun hidup harus tetap dilanjutkan. Cobalah tengok media sosial masing-masing, orang-orang tak lagi sibuk membicarakan kengerian pendemi, orang-orang sudah mulai membicarakan banyak hal termasuk merencanakan masa depan. Apakah itu hal yang keliru? Mungkin iya, tapi tak juga bisa dihakimi. Dan kita akan terus melihat angka penularan itu terus bertambah dan bertambah.

Wallahua’am.

Penulis adalah Dosen ULM Banjarmasin

============================================================================================

Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim.

 

Editor: Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Mengembalikan Proses Belajar Mengajar Tatap Muka di Tengah Pandemi
apahabar.com

Opini

PSBB dan Tantangan Kepemimpinan Kepala Daerah
Kaltim Butuh Pemulihan, Bukan Ibu Kota!

Opini

Ibu Kota, Lautan Asap, dan Cakar Pertambangan
apahabar.com

Opini

Kabar dari Tuhan
apahabar.com

Opini

Demo Mahasiswa dan Viral Tilawah Fathur
apahabar.com

Opini

Optimalisasi Work From Home Bagi ASN      

Opini

Sahkah Non Sayyid/Syarif Menikahi Syarifah?
apahabar.com

Opini

Guru dan Nilai-Nilai
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com