ga('send', 'pageview');
Breaking News! Kabar Duka, Kadisdik Banjar Maidi Armansyah Meninggal Dunia Sebelum Wafat, Kondisi Wali Kota Banjarbaru Naik Turun Geger Mayat Mengapung di Laut Tanbu, Polisi Sulit Identifikasi Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan Peringatan 100 Hari Guru Zuhdi: Makam Ditutup, Streaming Jadi Andalan




Home Ekbis

Minggu, 5 Juli 2020 - 19:25 WIB

Masih karena Covid-19, IHSG Berpotensi Terkoreksi Sepekan ke Depan

Redaksi - apahabar.com

Sejumlah pengunjung duduk berlatar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto-Antara/Sigid Kurniawan/aa

Sejumlah pengunjung duduk berlatar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto-Antara/Sigid Kurniawan/aa

apahabar.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sepekan ke depan berpotensi terkoreksi dibayangi kekhawatiran terus meningkatnya kasus baru Covid-19.

“IHSG kami perkirakan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 4.885 sampai 4.712 dan resistance di level 5.000 sampai 5.139,” kata Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee di Jakarta, Minggu (5/7).

Menurut Hans, IHSG pekan depan diperkirakan akan dipengaruhi sejumlah sentimen yaitu indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq yang menutup kuartal kedua 2020 dengan kenaikan dan termasuk rekor kenaikan tertinggi. Hal itu terjadi di tengah pandemi Covid-19 yang masih terus naik.

Sentimen lainnya, terdapat perbaikan data tenaga kerja di Amerika Serikat seiring pelonggaran lockdown yang dilakukan.

Baca juga :  Juli 2020, Perputaran Uang di Bandara AP II Capai Rp1,9 Triliun

“Namun pelaku pasar mulai khawatir kenaikan kasus virus Corona baru di AS dapat menghapus kenaikan lapangan kerja pada musim panas ini,” ujar Hans.

Hans menuturkan, lonjakan kasus Covid-19 membayangi pembukaan ekonomi. Pelaku pasar perlu memperhatikan pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahwa yang terburuk belum datang dalam kasus pandemi Covid-19.

Beberapa Negara bagian AS melakukan penundaan pembukaan ekonomi akibat kenaikan kasus Covid-19 yang meningkat dan menimbulkan kekhawatiran gangguan ekonomi.

Sementara itu, perkembangan vaksin Covid-19 akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Pelaku pasar juga akan memperhatikan potensi perang dagang AS dan China menyusul lebih dari 75 anggota Kongres AS yang mengirim surat mendesak Presiden Donald Trump untuk mengambil keputusan resmi terhadap China akibat kekejaman yang terjadi atas kaum Muslim Uighur.

Baca juga :  Sempat Tumbuh Negatif, Transportasi Udara di Kalsel Mulai Bangkit

“Langkah Trump dan respon pemerintah China akan mempengaruhi pergerakan pasar,” kata Hans.

Di sisi lain, aktivitas bisnis China membaik terutama akibat permintaan dalam negeri yang membaik di tengah permintaan luar negeri yang lemah. Hal tersebut juga menjadi sentimen positif pasar.

Dari domestik, pasar Indonesia diwarnai sentimen positif data ekonomi, tetapi perpanjangan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, sebenarnya menjadi indikasi bahwa Indonesia belum mampu memenuhi aturan WHO untuk pelonggaran PSBB seperti di Negara lain. Masalah kesehatan dinilai menjadi kendala utama ekonomi Indonesia.(Ant)

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Tiga Petinggi Bank Kalsel Dicopot, Imam: Serahkan ke Ahlinya
apahabar.com

Ekbis

Berjuang di Tengah Covid-19, Biduan Banjarmasin Ini Jualan Makanan Online
apahabar.com

Ekbis

Jasa Laundry Jadi Incaran Saat Libur Lebaran
Perusahaan Tambang Batu Bara PT. AGM Terapkan Protokol Pencegahan Covid-19

Ekbis

Perusahaan Tambang Batu Bara PT. AGM Terapkan Protokol Pencegahan Covid-19
apahabar.com

Ekbis

Juli, Kaltim Alami Inflasi 0,30 Persen
apahabar.com

Ekbis

Sentimen Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi, Dongkrak Penguatan Rupiah
apahabar.com

Ekbis

Waspadai Gejolak Ekonomi Global 2020
Fatayat NU Kalsel: Produk Banua Siap Go Nasional

Ekbis

Fatayat NU Kalsel: Produk Banua Siap Go Nasional  
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com