Tim Paman Birin Blunder Ancam Polisikan Warga Soal Banjir Terima Kasih Warga Banjarmasin, Korban Banjir Batola Terima Bantuan dari Posko apahabar.com Operasi SAR SJ-182 Dihentikan, KNKT Tetap Lanjutkan Pencarian CVR Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Talaud Sulut, Tidak Berpotensi Tsunami Potret Seribu Sungai, Serunya Memancing di Jembatan Sudimampir Banjarmasin

Menengok Sejarah, Banjarmasin Pernah Terapkan Tarif Tol Sungai

- Apahabar.com Selasa, 7 Juli 2020 - 17:56 WIB

Menengok Sejarah, Banjarmasin Pernah Terapkan Tarif Tol Sungai

Kegiatan di Sungai Martapura tempo dulu. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Dijuluki sebagai kota seribu sungai, tentu Banjarmasin tidak dapat dipisahkan oleh eksistensi sungai sebagai poros peradaban. Kala itu pula, di Banjarmasin ternyata pernah menerapkan tarif tol sungai.

Fenomena ini terekam dalam tulisan Bambang Subiyakto, “Infrastruktur Pelayaran Sungai Kota Banjarmasin Tahun 1900-1970”, dalam Freek Colombijn et al. (eds.), Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia. Menurut Bambang, Anjir, Handil, dan Saka berhubungan dengan transportasi.

Sarana yang digunakan adalah perahu kecil atau Jukung (sampan) dengan berbagai jenisnya (Sudur, Bakapih, Anak Rimpang, Pelanjaan, Tambangan, Pandan Liris, Batambit, Bugiwas, Tiung, Hayawan, Kelotok, Patai, Rangkan, Getek, Undaan, Parahan, Paiwakan, Katinting, Peramuan dan Serdangan) dan Lanting (rakit yang terbuat dari bambu).

Tujuannya cukup beragam, untuk kegiatan pertanian, mencari ikan, berdagang, angkutan barang, angkutan orang, pelayaran dan rekreasi baik untuk jarak dekat maupun jarak jauh.

Mengutip Vergouwen dan Mallinckrodt, Bambang menjelaskan bahwa tarif tol sungai saat itu diterapkan dalam menguasai jalur-jalur air (terutama sungai, Anjir, dan Handil) oleh bubuhan di bawah kepala-kepala mereka yang memiliki kewenangan. Misalnya memungut tarif tol 1/10 dari barang-barang hasil hutan, pertanian dan sejenisnya.

Hasilnya, menurut aturan adat ditujukan untuk biaya pemeliharaan hutan dan jalur air. “Meskipun demikian, seperti dikatakan Vergouwen selanjutnya, hasil itu lebih merupakan pendapatan bagi para kepala bubuhan,” tulis Bambang.

Sejak zaman merdeka, bahkan menjelang masa-masa berakhirnya Pemerintahan Kolonial Belanda, tampaknya penarikan tarif tol telah ditiadakan. Terutama yang dimaksudkan penarikan oleh para kepala bubuhan atau kelompok masyarakat.

Jalur-jalur semacam itu telah menjadi jalur umum. Jalur-jalur air sepenuhnya berada di bawah penguasaan pemerintah terutama jalur-jalur penting seperti sungai dan Anjir dikenakan retribusi.

Bambang menjelaskan, pada masa Kolonial Belanda, bagi yang menggunakan jukung, perahu, atau kapal untuk tambangan diharuskan memiliki surat izin. Hal tersebut diatur dalam ketentuan tentang menjalankan usaha tambangan yang dikeluarkan pada 1941(Bepalingen op de uitoefening van het Tanbanganbedriif). Selain larangan untuk menjalankan profesi sebagai tukang tambangan, aturan itu juga menyebut akan menolak perizinan jika tidak ada alasan yang menyangkut kepentingan umum.

Selain itu, lalu lintas sungai juga diatur dalam aturan tersebut. Tukang tambangan yang perahunya mangkal di muka sebuah rumah, gudang, pabrik, atau halaman diharuskan memberi tempat kepada perahu lain. Tujuannya agar pemilik, penyewa, atau pemakai dari gedung atau halaman tersebut dapat melakukan bongkar muat barang dengan mudah.

“Papan yang menghubungkan tambangan dengan dermaga milik suatu perahu tidak boleh menjulur jauh ke jalur umum yang dapat menyebabkan terganggunya lalu lintas,” kata Bambang.

Dalam dinamikanya, penguasaan, dan retribusi dilakukan oleh pemerintah. Pada masa kemerdekaan aturan serupa tertuang pada Perda Propinsi Kalimantan No 5 tanggal 24 Juli 1953 tentang lalu lintas dan pemungutan retribusi lalu lintas dalam terusan-terusan yang dikuasai oleh daerah Propinsi Kalimantan.

Editor: Syarif

Editor: Reporter: Rizal Khalqi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

KSMO 2020

Kalsel

Hebat, 3 Pelajar Madrasah di HST Borong Juara KSMO 2020 Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Galian Tambang Ditinggal Pergi, ESDM Bingung Cari Solusi
Kalsel Diguyur Hujan Lebat Disertai Petir Hari Ini (28/01)

Kalsel

Kalsel Diguyur Hujan Lebat Disertai Petir Hari Ini
apahabar.com

Kalsel

Sigap, Bhabinkamtibmas dan Babinsa Beri Bantuan untuk Korban Kebakaran di Cempaka
apahabar.com

Kalsel

Lanjutkan Program Penghijauan, Polres HST Tanam 1000 Pohon
apahabar.com

Kalsel

Rawan Kecelakaan, Kawasan RSUD H Boejasin Dikeluhkan
apahabar.com

Kalsel

Ops Antik 2019, Polisi Sita Sabu dan Ratusan Zenit di HST
apahabar.com

Kalsel

Awas, Desa Inan Balangan Banyak Jalan Berlubang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com