Warga Eks Bioskop Cempaka Geger, Pria Tewas Bersimbah Darah 7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Positif Sabu, Oknum Anggota DPRD Tala Terancam Dipecat! Hasil Visum: 2 Anak yang Diduga Dibunuh Ibu di Benawa HST Mati Lemas! Orbawati Buron, Nasdem Tanah Laut Fokus Menangkan BirinMu

Terkait Penurunan Harga Jeruk di Batola, Begini Penjelasan Dinas Pertanian

- Apahabar.com Jumat, 24 Juli 2020 - 14:33 WIB

Terkait Penurunan Harga Jeruk di Batola, Begini Penjelasan Dinas Pertanian

Setiap musim panen, masalah yang selalu dialami petani adalah kesulitan pemasaran. Foto: Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Menyikapi penurunan harga jeruk, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Barito Kuala menekankan pola pemasaran dan teknologi penanaman.

Memasuki panen raya yang berbarengan dengan pandemi Covid-19, harga jual jeruk siam di Batola seakan mencapai titik nadir.

Ketika stok buah melimpah, daya beli masyarakat justru menurun. Sementara pengumpul khawatir mendatangi sentra jeruk di Batola, karena takut tertular Covid-19.

“Tak bisa dipungkiri kalau Covid-19 sudah banyak mengubah aspek kehidupan, termasuk mengurangi pendapatan petani jeruk di Batola,” papar Kepala Distan TPH Batola, Murniati, Jumat (24/7).

“Namun pandemi juga dijadikan alasan pengumpul untuk menekan harga. Oleh karena petani perlu pemasukan, akhirnya jeruk mereka dijual asal laku, terutama oleh petani perorangan,” sambungnya.

Diyakini harga dapat dipertahankan agar tidak terlalu anjlok, seandainya penjualan dilakukan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

“Kalau melalui Gapoktan, harga masih bisa dikontrol dan tak terlalu jauh dari standar. Pola ini sekaligus memblok pengumpul mendapatkan harga terendah,” jelas Murniati.

“Faktanya harga jeruk di Batola berbeda-beda. Seperti di Desa Tanjung Harapan, jeruk tanpa ukuran dijual Rp5 ribu per kilogram,” tambahnya.

Sebaliknya di Mandastana, jeruk dengan kategori serupa dijual seharga Rp3 ribu, Marabahan Rp2.500 dan di Barambai Rp3.400.

“Kami juga sudah mengecek harga di daerah lain. Seperti di Jawa Tengah, jeruk dijual seharga Rp18 ribu per kilogram,” beber Murniati.

Selain pemasaran melalui Gapoktan, ilmi pengetahuan dan teknologi juga dapat diterapkan untuk menghindari masa produksi yang lama maupun masa panen bersamaan.

“Terutama untuk jeruk grade B, kami menekankan penerapan teknologi Pembuahan Jeruk Berjenjang Sepanjang Tahun (Bujangseta) yang diperoleh dari Sekolah Lapang Good Agriculture Practices,” jelas Murniati.

“Dengan menerapkan Bujangseta, pembuahan jeruk dapat dilakukan di luar musim dan berjenjang setiap tahun. Teknologi ini bahkan sudah diterapkan Gapoktan di Gampa Asahi,” tandasnya.

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Reporter: Bastian Alkaf - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Batola

Demi Pilgub Kalsel, Disdukcapil Batola Kejar Perekaman Data Ribuan Warga
apahabar.com

Batola

Batola Menyala Lagi, 14 Kecamatan Zona Merah Covid-19
apahabar.com

Batola

Komitmen Dukung Paman Birin, DPD Golkar Batola Pede Menang Besar

Batola

Wisata Petik Nanas, Ide Destinasi Baru Berbasis Hortikultura di Batola

Batola

Perekrutan Pengawas TPS Pilgub 2020 di Barito Kuala Masih Dibuka
apahabar.com

Batola

Senangnya Fadillah Menerima Kursi Roda dari Bupati Batola
apahabar.com

Batola

Dibangun Miliaran, Jembatan di Sungai Telan Besar Batola Proyek Mubazir
apahabar.com

Batola

Jelang Pilgub 2020, Jumlah Pemilih Sementara di Barito Kuala Merosot
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com