7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Positif Sabu, Oknum Anggota DPRD Tala Terancam Dipecat! Hasil Visum: 2 Anak yang Diduga Dibunuh Ibu di Benawa HST Mati Lemas! Orbawati Buron, Nasdem Tanah Laut Fokus Menangkan BirinMu Detik-Detik Akhir Kampanye, Bawaslu RI Turun ke Banjarmasin

Tersangka Predator Anak Bunuh Diri, Simak Saran Pakar untuk Polisi

- Apahabar.com Selasa, 14 Juli 2020 - 15:03 WIB

Tersangka Predator Anak Bunuh Diri, Simak Saran Pakar untuk Polisi

Polda Metro Jaya menangkap pria warga negara Perancis berinisial FAC alias Frans (65) yang melakukan eksploitasi secara ekonomi dan seksual terhadap 305 anak di bawah umur di beberapa hotel kawasan Jakarta. Pelaku ditangkap saat melakukan aksinya di Hotel PP kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, belum lama ini. Foto-Kompas.com/Muhamad Isa Bustomi

apahabar.com, JAKARTA – Tersangka predator anak, warga negara Prancis FAC alias Frans (65) kemarin meninggal dunia.

Tersangka pelecehan seksual terhadap 305 anak di bawah umur tewas diduga meninggal dunia setelah sebelumnya melakukan percobaan bunuh diri.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel turut menyoroti kasus kematiannya. Reza mengingatkan aksi bunuh diri di kalangan pelaku lebih tinggi daripada masyarakat umum.

Menurut Reza, kematian Frans menjadi pelajaran bagi polisi dalam menangani pelaku seksual setelah dilakukan penangkapan.

“Bunuh diri di kalangan pelaku memang tinggi. Sekitar 180 kali lebih tinggi daripada bunuh diri pada masyarakat umum,” ujar Reza dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip dari Republika.co.id, Selasa (14/7).

Menurut Reza, kondisi ini memberikan pemahaman bahwa aparat penegak hukum perlu memperlakukan pelaku kejahatan serupa dengan pendekatan khusus. Maka harus diwaspadai jangan sampai sampai pelaku lainnya, termasuk pelaku WNA melakukan aksi fatal serupa.

Sementara untuk korban eksploitasi berhak memperoleh perlindungan khusus dari negara dan restitusi atau ganti rugi dari pelaku. Tapi kalau pelaku tidak mampu, misalnya karena mati, sejumlah negara memberlakukan kompensasi.

Kewajiban membayar ganti rugi bisa dialihkan kepada negara. “Ini merupakan bentuk sanksi atas kegagalan negara melindungi warganya, dalam hal ini adalah anak-anak,” ungkapnya.

Karena itu, Reza mengatakan, perlu menyikapi pelaku eksploitasi seksual anak bukan sebagai lone wolf. Melainkan sebagai bagian dari jaringan pedofilia internasional, maka perlu dipastikan pelaku bukan dibunuh. Misalnya, dibunuh oleh sindikat internasional.

Jika mereka menggunakan cryptocurrency sebagai alat transaksi, kemungkinan penelusurannya tidak mudah. “Tapi semoga kepolisian tetap bisa membongkar lebih jauh pergerakan jaringan jahat internasional dan sebagainya,” tutup Reza.(Rep)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hukum

Selama 2018, BNN Sita 7 Ton Sabu
apahabar.com

Hukum

Razia di Sari Gadung, Satpol PP Tanbu Musnahkan Ratusan Liter Tuak
apahabar.com

Hukum

Gelapkan Ratusan Juta Hasil Penjualan Buku, Salesmen Foya-Foya Beli Elektronik
apahabar.com

Hukum

Ditolak Bercinta, Suami Bunuh Istri dan Anak
apahabar.com

Hukum

Gasak 3 Xiomi, Pemuda Kotabaru Tak Berkutik di Tangan Buser Macan Bamega
apahabar.com

Hukum

Idulfitri 2019, 73 Napi di Kalsel Hirup Udara Bebas
apahabar.com

Hukum

Pemuda Banjarmasin Terlibat Sabu 40 Kilogram di Palembang, Kepala BNNK : Jaga Anak dari Sindikat Narkoba
apahabar.com

Hukum

Sambil Bawa Sabu, Pria di Astambul Martapura Gigit 2 Polisi Saat Ingin Kabur
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com