Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless PN Martapura Putuskan Camat Aluh-Aluh Melanggar Netralitas ASN Kembali, Duta Zona Selatan Batola Memenangi Atak Diang Kawal Pilkada Serentak, Polda Kalsel Komitmen Tegakkan Netralitas Tapin Berpotensi Tinggi di Sektor Energi Terbarukan, Pertanian, dan Parawisata

Tingkat Literasi Rendah, Masyarakat Diminta Tak Terbuai dengan ‘New Normal’

- Apahabar.com Sabtu, 4 Juli 2020 - 09:52 WIB

Tingkat Literasi Rendah, Masyarakat Diminta Tak Terbuai dengan ‘New Normal’

Kota Banjarmasin. Foto-dok.apahabar.com

apahabar.com, BANJARBARU – Dalam sepekan terakhir, sebaran Covid-19 di Kalimantan Selatan tercatat lebih dari 500 kasus. Dalam pandangan pengamat, fenomena ini bak pisau bermata dua.

“Satu sisi merupakan gencarnya hasil tracing, tracking dan testing. Di sisi lain, orang pun bertanya kenapa seperti lagu ‘naik-naik ke puncak gunung’. Inilah yang harus kita cari,” ucap Pengamat Antropologi Kalsel, Nasrullah, kepada apahabar.com, Sabtu (4/7).

Sebaran Covid-19 di Kalsel masih terbilang tinggi. Berdasarkan data terakhir, ada total 3.447 kasus terjadi dan 2.361 pasien masih dalam perawatan.

Dia menduga masyarakat mulai lengah dalam menyikapi penularan virus ini. Pertama, dampak berakhirnya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat tingkat kewaspadaan masyarakat menurun.

“Padahal niatnya baik untuk mengendorkan ketegangan, tapi kita tidak waspada,” jelasnya

Hal lainnya yaitu masa transisi menuju new normal perlu dikaji lebih mendalam. Padanan dari istilah bahasa Inggris yang berarti kenormalan baru, belum tentu dapat dipahami oleh semua tingkatan masyarakat.

“Istilah ini saja sudah bermasalah. Di mana-mana ditulis new normal, kita bangga dengan istilah asing itu,” katanya

Meminjam data Indeks Aktivitas Literasi Membaca, capaian Kalsel tergolong rendah yaitu 37,00 atau berada di bawah standar nasional.

“Bahkan indeks kecakapan Kalsel berada peringkat 13 dari bawah,” lanjutnya

Data itu dia peroleh berdasarkan Pusat Penelitian Kebijakan Penelitian Kebudayaan 2019. Rendahnya kemampuan literasi juga menimbulkan mudahnya penyebaran berita hoaks tanpa kemampuan filter informasi, termasuk persoalan Covid-19.

“Fakta empiris, kita lihat saja orang gampang berdebat di media sosial hanya karena judul berita tanpa baca isinya,” imbuhnya

Faktor lain yang tak kalah penting adalah sarana sosialisasi. Penggunaan media memiliki andil besar dalam penyampaian sebuah informasi agar dapat dipahami dan dirasakan oleh masyarakat dengan latar belakang yang berbeda.

“Asosiasi Antropologi Indonesia Kalsel sampai pada pemahaman bahwa poster, spanduk, baliho dan lainnya mesti mengurangi dominasi gambar pejabat publik,” kata Nasrullah.

Agar pesan tersebut sampai kepada masyarakat, dia menilai pemerintah harus menekankan kearifan lokal dalam menyampaikan sebuah ajakan, khususnya terkait protokol penanganan Covid-19.

“Solusinya adalah kita terus menggali istilah lokal sebagai bentuk sosialisasi protokol kesehatan yang dapat dirasakan pentingnya bagi publik setempat,” tutup dia

Editor: Puja Mandela

Editor: Reporter: Musnita Sari - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

PDAM Gratiskan Air Bersih, Catat Nomor Kontak yang Dihubungi
apahabar.com

Kalsel

ULM Alokasikan Dana Hibah Rp4,8 M untuk Beasiswa Mahasiswa dan Disertasi Dosen
apahabar.com

Kalsel

BWI Kalsel Fokus Optimalkan Gerakan Wakaf Uang
apahabar.com

Kalsel

Wacana Kunker Berjemaah ke Luar Negeri Dibantah Anggota Dewan
apahabar..com

Kalsel

Bawaslu Datangi Bupati Banjar, Bahas Mutasi Pejabat
APK

Kalsel

Ratusan APK Pilkada Kalsel Ditertibkan, DLH Banjarmasin Curigai Potensi Sampah
apahabar.com

Kalsel

Meriahkan HKSN, Pemprov Kalsel Gelar Jambore Relawan Sosial Bergerak
apahabar.com

Kalsel

Esok Lusa, Eks Pendamping Jokowi Sambangi Banjarmasin
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com