Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Dukung PJJ, Orang Tua Harus Begini

- Apahabar.com Rabu, 5 Agustus 2020 - 09:00 WIB

Dukung PJJ, Orang Tua Harus Begini

Ilustrasi PJJ. Foto-dok/Zulfikar

apahabar.com, JAKARTA – Saat masa pembelajaran jarak jauh (PJJ), penting membangun komunikasi efektif antara orang tua dan anak. Setidaknya, orang tua dapat lebih mengerti, bahkan lebih bijak menghadapi dan mendukung anaknya dalam belajar.

Orang tua harus mengetahui kepribadian anak dan menyesuaikan metode pengajaran berdasarkan karakteristik anak. Psikolog keluarga Ajeng Raviando mengemukakan, manusia mempunyai karakter yang berbeda-beda dan unik.

Menurut Ajeng, karakter atau kepribadian manusia bisa dipelajari. Manusia kadang memiliki kesamaan karakter antara satu dengan yang lainnya.

Ajeng menjelaskan kepribadian manusia telah dikaji dan dirangkum menjadi empat jenis. Keempatnya masuk dalam teori proto-psikologis, di mana teori itu dibagi lagi menjadi empat tipe kepribadian mendasar, yaitu Sanguinis (hidup, optimis, ringan, dan riang), Koleris (cerdas, analitis, logis, dan sangat praktis), Melankolis (analitis, bijak dan tenang), dan Plegmatis (santai dan cinta damai).

“Tentunya, setiap kepribadian ada plus minusnya, misal koleris orangnya agak pemarah. Sanguinis ramah, tapi labil. Melankolis perasa dan plegmatis kurang berani bersuara,” kata Ajeng dalam perayaan Hari Anak Nasional (HAN) bersama Frisian Flag Indonesia (FFI) Juli lalu.

Ajeng mengatakan, tidak ada ukuran baku mana katakter yang ideal. Setiap karakter bisa didorong untuk mencoba mengevaluasi kekurangannya.
Contohnya, karakter sangunis bisa dipahami sebagai emosi yang labil. Artinya, dapat dibantu lebih stabil.

Lalu karakter koleris dapat dibantu lebih sabar. Anak melankolis dapat dibantu diberikan data-data karena mereka cenderung pengobservasi ulung.
“Lalu, anak plegmatis bisa didorong lebih berani berpendapat, tidak takut salah,” kata Ajeng.

Di luar itu, Ajeng menyarankan agar orang tua tetap memaklumi karakter tiap anak. Terlebih, karakter anak juga dapat berkembang seiring waktu.

“Diharapkan orangtua dapat mengenali dan menyesuaikan sistem pengajaran sesuai dengan karakteristik anak, agar dapat menciptakan sistem pengajaran di rumah yang menyenangkan dan membawa kegembiraan bagi anak-anak,” tuturnya. (Rep)

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Penggunaan Gawai Jadi Kebiasaan Baru, Simak Tips Dokter Mata
apahabar.com

Gaya

Segarnya Es Kopyor Agar-Agar, Ikuti Cara Buatnya
apahabar.com

Gaya

Lihat Sosok Maureen Christy Mantan Istri Gideon Tengker, Ibu Tiri Nagita Slavina yang Jarang Terekspose
apahabar.com

Gaya

Ini Daftar Orang Terkaya di Dunia 2019, Pendiri Facebook di Urutan ke 8
apahabar.com

Gaya

Waspada, Anak Muda juga Bisa Terserang Stroke
apahabar.com

Gaya

Waspada, Sakit Telinga Saat Naik Pesawat Bisa Mengancam Jiwa
apahabar.com

Gaya

2 Kesalahan Umum Saat Memasak Satai Daging Kurban
apahabar.com

Gaya

Ternyata Bayi dan Anak Bisa Terserang Stroke, Kenali Penyebab dan Solusinya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com