Dear Korban Banjir Kalsel, Telkomsel Bebaskan Telepon-SMS Demi Aliran Sungai, Pos Polisi di Jalan Veteran Banjarmasin Dibongkar Lewat Udara, Paman Birin Salurkan Bantuan Korban Banjir dari Jokowi Pekan Ini, Rupiah Berpeluang Tembus Rp 14.000 Dini Hari, Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Sejauh 1,8 Km

Dukung PJJ, Orang Tua Harus Begini

- Apahabar.com Rabu, 5 Agustus 2020 - 09:00 WIB

Dukung PJJ, Orang Tua Harus Begini

Ilustrasi PJJ. Foto-dok/Zulfikar

apahabar.com, JAKARTA – Saat masa pembelajaran jarak jauh (PJJ), penting membangun komunikasi efektif antara orang tua dan anak. Setidaknya, orang tua dapat lebih mengerti, bahkan lebih bijak menghadapi dan mendukung anaknya dalam belajar.

Orang tua harus mengetahui kepribadian anak dan menyesuaikan metode pengajaran berdasarkan karakteristik anak. Psikolog keluarga Ajeng Raviando mengemukakan, manusia mempunyai karakter yang berbeda-beda dan unik.

Menurut Ajeng, karakter atau kepribadian manusia bisa dipelajari. Manusia kadang memiliki kesamaan karakter antara satu dengan yang lainnya.

Ajeng menjelaskan kepribadian manusia telah dikaji dan dirangkum menjadi empat jenis. Keempatnya masuk dalam teori proto-psikologis, di mana teori itu dibagi lagi menjadi empat tipe kepribadian mendasar, yaitu Sanguinis (hidup, optimis, ringan, dan riang), Koleris (cerdas, analitis, logis, dan sangat praktis), Melankolis (analitis, bijak dan tenang), dan Plegmatis (santai dan cinta damai).

“Tentunya, setiap kepribadian ada plus minusnya, misal koleris orangnya agak pemarah. Sanguinis ramah, tapi labil. Melankolis perasa dan plegmatis kurang berani bersuara,” kata Ajeng dalam perayaan Hari Anak Nasional (HAN) bersama Frisian Flag Indonesia (FFI) Juli lalu.

Ajeng mengatakan, tidak ada ukuran baku mana katakter yang ideal. Setiap karakter bisa didorong untuk mencoba mengevaluasi kekurangannya.
Contohnya, karakter sangunis bisa dipahami sebagai emosi yang labil. Artinya, dapat dibantu lebih stabil.

Lalu karakter koleris dapat dibantu lebih sabar. Anak melankolis dapat dibantu diberikan data-data karena mereka cenderung pengobservasi ulung.
“Lalu, anak plegmatis bisa didorong lebih berani berpendapat, tidak takut salah,” kata Ajeng.

Di luar itu, Ajeng menyarankan agar orang tua tetap memaklumi karakter tiap anak. Terlebih, karakter anak juga dapat berkembang seiring waktu.

“Diharapkan orangtua dapat mengenali dan menyesuaikan sistem pengajaran sesuai dengan karakteristik anak, agar dapat menciptakan sistem pengajaran di rumah yang menyenangkan dan membawa kegembiraan bagi anak-anak,” tuturnya. (Rep)

Editor: Syarif

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Ahli Tak Sarankan 2 Olahraga Ini Selama Pandemi Covid-19
apahabar.com

Gaya

Akhirnya, Ponsel Pintar Prancis Wiko Kembali Hadir di Indonesia
apahabar.com

Gaya

Sosok Pendiri Nissan, Putra Bangsawan Nyambi Jadi Mekanik di AS
apahabar.com

Gaya

Sabina Altynbekova, Atlet Muslim Berparas Cantik
apahabar.com

Gaya

5 Tips Promosi Produk Online Lewat Instagram
apahabar.com

Gaya

Belajar Ngulik Game Mobile Legends, Ini 5 Tips Buat Pemula
apahabar.com

Gaya

Pengunjung Kebun Binatang Ragunan Capai 92.880
Ternyata Ngiler Saat Tidur Itu Pertanda Baik

Gaya

Ternyata Ngiler Saat Tidur Itu Pertanda Baik
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com