Usai Divaksin, Nakes di Palangka Raya Terpapar Covid-19 Kabar Baik, RSUD Ulin Akhirnya Punya Radioterapi untuk Pengobatan Kanker Jatanras Polda Kaltim Ringkus Sindikat Curanmor Antarkota di Balikpapan Obok-Obok Kantor Kades Kelumpang, Intel Kejari Amankan Duit Tunai ASN Banjarmasin Masih Pakai Elpiji 3 Kg, “Jangan Dikambinghitamkan”

Innalillah, Kiai NU Wafat Tak Lama Usai Tuntun Istri Baca Syahadat Sakratulmaut

- Apahabar.com Selasa, 18 Agustus 2020 - 22:29 WIB

Innalillah, Kiai NU Wafat Tak Lama Usai Tuntun Istri Baca Syahadat Sakratulmaut

Kiai NU, H Muhammad Idrus Makkawaru, dan istri semasa hidup. Foto-detikcom

apahabar.com, GOWA – Kabar wafatnya seorang kiai NU dan istrinya mendadak jadi perhatian di media sosial.

Sang kiai adalah H Muhammad Idrus Makkawaru (76) meninggal usai menuntun istrinya, Siti Saniah (64) baca syahadat sakaratul maut.

Siti Saniah meninggal selepas Magrib, sekitar pukul 18.30 Wita, Minggu (16/8). Tak lama kemudian Muhammad Idrus menyusul sang istri pulang kepangkuan Ilahi.

Keduanya merupakan warga Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Anak tertua almarhum, Ahmad Mujahid (51), membenarkan peristiwa itu.

“Ibu saya meninggal habis Magrib dituntun syahadat sama Bapak. Ndak lama setelah itu, habis Isya, Bapak juga ikut meninggal. Jadi hanya beda sekitar 1 jam,” kata Mujahid dikutip dari detikcom, Selasa (18/8).

Ayah dan ibunya itu, aku Mujahid, selama ini memang sama-sama menderita penyakit jantung.

Namun saat kejadian, tiba-tiba ibunya yang duluan mengalami gejala sesak napas.

“Di situlah kemudian dipompa jantungnya dan seterusnya. Lalu akhirnya seperti itu (sakratulmaut), orang Makassar bilang diantar (dituntun), dibimbinglah syahadat oleh bapak saya,” katanya.

Saat meninggal, terang Mujahid, ibunya awalnya hanya disemayamkan di sebuah kamar atas permintaan ayahnya.

Akan tetapi, karena banyak pelayat, ayahnya setuju untuk dipindahkan ke ruang tamu.

“Setelah (istrinya) diangkat air matanya jatuh, kira-kira 15 menit kemudian dia mulai sesak napas juga (hingga meninggal),” ucap Mujahid.

Mujahid mengatakan ayahnya saat itu sempat memeriksa keadaannya sendiri, dengan cara mengecek tanda-tanda di bagian tubuhnya. Saat itu almarhum fokus berzikir.

“Ketika dia menghadapi sakratulmaut, tasbih dia itu tak pernah berhenti, dia punya zikir itu ndak pernah berakhir,” katanya.

“Yang menarik juga saat saya bersama Bapak itu, biasanya kan orang gelisah, itu saya tenang, jawabnya mungkin karena orang tua pengamalan agamanya itu jauh dibanding diri saya sendiri,” sambung Mujahid.

Mujahid mengungkapkan ayahnya itu merupakan anggota Nahdlatul Ulama (NU) sejak muda. Ayahnya bahkan pernah menjabat Ketua Tanfidziyah NU Kabupaten Bantaeng.(dtc)

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Ini Doa Niat Zakat Fitrah
apahabar.com

Hikmah

Teguran Umar pada Orang yang Tidak Mau Bekerja
apahabar.com

Religi

Kisah Nabi Idris Menemui Malaikat Pencabut Nyawa

Hikmah

Uji Keikhlasan, Ibnu Ruslan Lemparkan Kitab Zubad ke Laut
apahabar.com

Religi

UAS Ajak Masyarakat Gunakan Akal Dalam Jalani Kehidupan
apahabar.com

Habar

Hewan Kurban Bisa Jadi Haram, Jika Tidak Disembelih Secara Syar’i
apahabar.com

Habar

Upayakan Keamanan Sistem Jaringan di Haul Sekumpul, PLN: Masyarakat dan Relawan Harap Lapor
apahabar.com

Habar

Peringatan Maulid Nabi di Balangan; Habib Syakir Al Baar Tekankan Pentingnya Persatuan Umat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com