Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya Otsus Jilid Dua, Semangat Baru Pembangunan Papua

Keluarga Tak Puas, Kasus Napi Dikeroyok Oknum Sipir di Tanjung Berlanjut

- Apahabar.com Selasa, 11 Agustus 2020 - 20:32 WIB

Keluarga Tak Puas, Kasus Napi Dikeroyok Oknum Sipir di Tanjung Berlanjut

Tim Kuasa Hukum serta keluarga korban H Igun ditemui usai mengantar laporan tertulis di Mapolda Kalsel, Selasa (11/8) siang. Foto-Riyad Dafhi R

apahabar.com, BANJARMASIN – Masih ingat dengan dugaan kasus pengeroyokan yang dilakukan beberapa oknum sipir di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tanjung, Kalimantan Selatan?

Dugaan pengeroyokan dilakukan oleh 5 orang oknum sipir berinisial WR, H, MR, DF dan DW kepada korban yang merupakan narapidana kasus narkoba, M Gunawan alias H Igun, pada Jumat, 22 Mei 2020 lalu.

Setelah sebelumnya sempat berusaha melakukan upaya mediasi, keluarga beserta kuasa hukum korban menyurati Kantor Wilayah

Kementrian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Kalimantan Selatan (Kalsel), Ombudsman Kalsel dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Kalsel, Selasa (11/8).

Mereka meminta agar kasus tersebut lebih cepat untuk ditindaklanjuti, lantaran upaya mediasi dirasa tidak menemui kesepakatan damai, mengingat luka yang diterima H Igun membuatnya sangat trauma.

Selain itu, surat laporan dilayangkan lantaran pihak keluarga korban merasa kecewa, sebab hingga kini kelima oknum sipir itu tidak dilakukan penahanan oleh kepolisian.

“Padahal kasus ini sudah memasuki tahap 1 dan para oknum sipir sudah ditetapkan tersangka. Kami mempertanyakan mengapa para pelaku tidak ditahan? Padahal ini kasus pengeroyokan,” ujar Kuasa Hukum korban, Kusman Hadi ditemui di Mapolda Kalsel.

Lebih jauh, Kusman Hadi menuturkan jika kelima oknum sipir itu masih terus bebas melakukan intimidasi terhadap korban dan saksi yang melihat kejadian tersebut di dalam lapas.

Pun dengan hak-hak korban sebagai narapidana, kata Kusman Hadi, selama di dalam lapas ditiadakan. Hal itu terjadi setelah upaya jalan damai tak menemui titik terang.

“Sangat tidak manusiawi, bahkan makanan yang kami titipkan kadang diacak-acak sama mereka hingga tidak layak makan. Selain itu, ada yang sudah basi baru dikasih ke korban,” ujarnya.

Tak hanya itu, Kusman Hadi juga mengatakan jika korban sejak saat kejadian pengeroyokan itu sempat dimasukkan dalam sel isolasi.

Korban, kata dia, tidak pernah dikeluarkan, bahkan hanya untuk berjemur dan pernah tidak dikasih air minum, sementara napi lain yang satu kamar dengan korban diperlakukan seperti biasa.

“Pernah satu kali, diperbolehkan untuk menjenguk lewat virtual, tapi keluarga korban tidak bisa, sementara yang lain bisa,” ujarnya.

“Mereka mengatakan jika itu sesuai prosedur, tapi prosedur yang mana, klien saya ini kan ga punya salah, dia korban,” tambahnya.

Dikatakan Kusman, jika dimintai alasan, pihak Lapas berdalih kalau itu dilakukan guna mengamankan korban. “Kalapas tahu itu, namun saat ditanya pengamanan yang mana, tak bisa menjelaskan ,” timpalnya.

Semua hal tersebut, kata Kusman, diketahui pihaknya saat istrinya, Nilam Sari mendapat kesempatan untuk berkomunikasi korban.

“Pertama Senin, 3 Juni 2020, saya beserta istri korban datang ke Lapas, di situ korban punya kesempatan bercerita apa yang dialaminya, seperti intimidasi oleh pihak Lapas,” ceritanya.

“Kemudian, Senin 13 Juli 2020, korban menghubungi istri nya via telepon melalui hp wartel di lapas, disitulah kesempatan korban menceritakan semua yg dialaminya selama di dalam sel,” lanjutnya.

Kepada istrinya, korban juga bercerita jika masih terus mengalami pendarahan serta telinga sebelah kirinya hingga kini tidak bisa mendengar.

Kusman berharap, dengan laporan ini, korban tak lagi mendapatkan intimidasi selama menjalani masa hukuman di dalam Lapas.

“Dinormalkan lah, jangan ada lagi perlakuan yang tidak manusiawi,” harapnya

Kemudian, ia juga berharap agar kelima oknum sipir yang melakukan penganiayaan, untuk sesegera mungkin dilakukan penahanan.

“Masalahnya ini, mereka itu tidak ditahan, sehingga terus melakukan intimidasi kepada korban,” bebernya

Menanggapi itu, Kepala Bidang Pembinaan, Bimbingan dan Teknologi Informasi, Kemenkumham Kalsel, Pujiono Slamet mengatakan jika beberapa tudingan dari pihak kuasa hukum korban tidak benar.

Namun, Pujiono berjanji jika pihaknya akan terus mengawal dan mendalami kasus pengeroyokan tersebut.

“Surat sudah diterima. Akan kami dalami dan monitor,” katanya via telpon.

Terlepas itu, Mujiono menyampaikan alasan tidak ditahannya kelima oknum sipir, lantaran pihaknya sudah mengajukan penangguhan.

Kronologi Kasus

Dugaan kasus pengeroyokan terjadi di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tanjung, Kalimantan Selatan, pertengahan Mei lalu.
Penganiayaan diduga dilakukan oleh oknum sipir berinisial WR, H, MR, DF dan DW kepada korban narkoba, M Gunawan alias H Igun.

Ketika itu, H Igun merupakan narapidana kasus narkoba yang baru saja pindah dari Lapas Banjarbaru. “Baru dua bulan dipindah,” terang istri korban, Nilam Sari.

Menurut kuasa hukum korban, kejadian itu bermula saat korban hendak minta izin untuk melaksanakan salat Jumat. Namun, permohonan itu ditolak oleh salah satu sipir.

Lantas korban pun protes, sebab narapidana yang lain diperbolehkan untuk melaksanakan salat Jumat, sementara ia tidak.

Mendengar protes dari korban, salah satu sipir pun emosi. Berselang kemudian sipir yang lain juga ikut memukuli korban hingga mengakibatkan luka serius terhadap H Igun.

Untuk diketahui, H Igun sendiri divonis hukuman 9 tahun penjara dan saat ini telah menjalani 6 tahun masa tahanan.

apahabar.com

Luka di kepala Igun lantaran dikeroyok oknum sipir Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tanjung. Foto-Istimewa

Editor: Syarif

Editor: Reporter: Riyad Dafhi R - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hukum

Pengamanan Imlek 2019: Polda Kalbar Terjunkan Ribuan Personel
apahabar.com

Hukum

Dirampas Negara, Puluhan Tas Mewah Bos First Travel akan Dilelang
apahabar.com

Hukum

Pengoplosan Beras di Sampit Terungkap, Begini Modusnya
apahabar.com

Hukum

Curi Tas Wanita, 2 Pria Banjarmasin Diancam 5 Tahun Penjara
apahabar.com

Hukum

Pria Kelayan Gagah-gagahan Todongkan Pisau, Langsung Diburu Polisi
apahabar.com

Hukum

Nekat Melayani, PSK Eks Pembatuan Ini Divonis 3 Bulan Penjara
apahabar.com

Hukum

Drummer J-Rocks Terjerat Ganja
apahabar.com

Hukum

Simpan Dextro di Tumpukan Pisang, Acil Warung Ini Ditangkap Polisi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com