Ratusan Gram Sabu Gagal Edar di Kukar, Polda Kaltim Ringkus 1 Pelaku Mulai Besok, Wisata Dadakan di Liang Anggang Ditutup! Ingat! Pengendara Mobil Jangan Setop di Zona RHK Traffic Light Banjarmasin Dijadikan Bukti Denny Indrayana, Begini Penampakan Surat Pernyataan Komisioner KPU Banjar Ingat! Warga Banjarmasin Tolak Vaksin Covid-19 Dapat Denda dan Diputus BPJS

Kerugian Ledakan di Beirut Capai Rp223 Triliun

- Apahabar.com Kamis, 13 Agustus 2020 - 15:52 WIB

Kerugian Ledakan di Beirut Capai Rp223 Triliun

Pemandangan yang menunjukkan kondisi Beirut, Lebanon, pada 5 Agustus 2020 setelah ledakan yang menghantam sehari sebelumnya (4/8), menewaskan 100 orang dan melukai ribuan lainnya. Foto-FP Photo/Anwar Amro

apahabar.com, BEIRUT – Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan kerugian akibat ledakan Beirut mencapai lebih dari 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp223 triliun (dengan kurs Rp 14.880 per dolar AS).

Hal itu dia sampaikan saat melakukan percakapan via telepon dengan Raja Spanyol Felipe VI pada Rabu (12/8).

“Informasi utama menyebutkan kerugian melebihi 15 miliar dolar, selain kerusakan pelabuhan dan kebutuhan bahan rekonstruksi untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur akibat ledakan,” kata Aoun dilaporkan Xinhua.

Mengingat kerugian yang dialami cukup besar, Aoun memberi tahu Raja Felipe bahwa Lebanon menghargai dukungan serta bantuan apa pun di bidang tersebut.

Raja Felipe pun menyatakan akan terus mendukung Lebanon dengan mengirimkan lebih banyak bantuan kemanusiaan guna meringankan beban penduduk selama masa-masa sulit ini.

Ledakan Beirut terjadi pada 4 Agustus lalu. Sumber ledakan adalah sebuah gudang di pelabuhan yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat yakni bahan kimia yang digunakan untuk membuat pupuk dan bahan peledak.

Timbunan amonium nitrat di gudang dekat pelabuhan Beirut itu dikabarkan diangkut sebuah kapal bernama The Rhosus. Kapal itu singgah di Beirut tujuh tahun lalu.

Menurut The New York Times, kapal berbendera Moldova dan dimiliki pengusaha asal Siprus Igor Grechushkin itu berangkat untuk pelayaran terakhirnya dari pelabuhan Batumi, Georgia, pada September 2013.

Kapal bertolak ke Mozambik tapi tak pernah mencapai tujuannya. New York Times, mengutip keterangan kapten Boris Prokoshev, menyebut The Rhosus diminta berhenti di Beirut.

Pemberhentian itu tak tercantum dalam daftar. Kapal ditugaskan mengambil kargo tambahan untuk diangkut ke Yordania guna memperoleh uang tambahan.

Saat memasuki pelabuhan, kapal akhirnya disita oleh otoritas setempat. Kapal itu ditinggalkan oleh pemiliknya setelah penyewa kehilangan minat pada kargo.

Amonium nitrat yang diangkut The Rhosus kemudian diturunkan dan disimpan di gudang dermaga untuk alasan keamanan. Menurut pihak berwenang Lebanon, bahan kimia itu disimpan secara tidak tepat di pelabuhan.

Ledakan yang menyebabkan sedikitnya 172 orang tewas dan sekitar 6.000 lainnya luka-luka itu pun telah memicu gerakan demonstrasi. Ribuan warga menganggap pemerintah bertanggung jawab atas bencana tersebut.(Rep)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Internasional

Penumpang Perempuan Pesawat Qatar Airways Diminta Buka Baju, Pemerintah Qatar Berang
apahabar.com

Internasional

China Uji Coba Bus Nirawak Berbasis 5G
apahabar.com

Internasional

Tiga Hari Berturut, di Brasil Catat 1000 Kasus Kematian Covid-19
apahabar.com

Internasional

Sowan ke Menlu China, Luhut Bahas Kerja Sama Hadapi Covid-19

Internasional

Gempa 7,3 Magnitudo Guncang Fukushima Jepang, Puluhan Orang Terluka
apahabar.com

Internasional

Kasus Covid-19 Turun, Singapura Longgarkan Pembatasan Sosial Tahap Dua 19 Juni
apahabar.com

Internasional

AS Sebut 4 Media China Sebagai Alat Propaganda Partai Komunis
apahabar.com

Internasional

Laporan China Ungkap Awal Wabah Corona di Wuhan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com