ga('send', 'pageview');
Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan Peringatan 100 Hari Guru Zuhdi: Makam Ditutup, Streaming Jadi Andalan Covid-19 di Bappeda Kalsel: Puluhan Positif, Satu Meninggal Dunia Tragedi Ledakan Berantai di Beirut: Puluhan Tewas, Ribuan Luka-Luka, Satu WNI Isu Save Meratus Mencuat, Konsesi PT MCM Masih Ada di HST




Home Kalsel

Sabtu, 1 Agustus 2020 - 14:13 WIB

Kisah Haru Petugas Kesehatan Covid-19 di SKB Batola, Rindu Dihantui Cemas

Reporter: Bastian Alkaf - apahabar.com

Selama menangani pasien Covid-19, ribuan tenaga kesehatan dibatasi berhubungan dengan keluarga. Foto: Istimewa

Selama menangani pasien Covid-19, ribuan tenaga kesehatan dibatasi berhubungan dengan keluarga. Foto: Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Melewatkan banyak momentum bersama keluarga termasuk saat Iduladha hingga khawatir terpapar, hanya sebagian kisah tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 di SKB Barito Kuala (Batola).

SKB mulai beralih fungsi menjadi tempat karantina sejak 15 April 2020.

Semula balai pendidikan di Jalan AES Nasution Marabahan ini hanya menampung pelaku perjalanan dan kontak erat.

Mereka diawasi tenaga kesehatan yang bekerja dalam tiga shift. 4 orang mengisi shift pagi yang dimulai pukul 08.00 hingga 14.00.

Kemudian shift dua berjumlah 3 petugas yang berjaga antara antara pukul 14.00 hingga 21.00. Demikian pula shift tiga mulai pukul 21.00 hingga 08.00.

Lantas seiring peningkatan penyebaran Covid-19 di Batola, SKB dijadikan menjadi tempat karantina kasus konfirmasi, terutama pasien asimptomatik atau positif tanpa gejala.

Setelah berubah status, kewaspadaan petugas kesehatan pun ditingkatkan. Mereka tak lagi bisa pulang ke rumah setiap hari, karena dikhawatirkan menjadi carrier orang sekitar.

Solusinya semua tenaga kesehatan ditempatkan dalam asrama. Pun tidak semua orang bisa keluar masuk tempat penampungan tersebut.

Baca juga :  Pulkam, 2 Mahasiswa UMM Praktekkan Ilmu ke Warga Desa HST

Selain RSUD Abdul Aziz Marabahan, mereka yang bertugas di SKB merupakan petugas kesehatan dari sejumlah Puskesmas di Batola.

“Praktis setelah ditunjuk bertugas di SKB, kami tak bisa saban hari pulang ke rumah. Kami baru diizinkan pulang sebulan sekali. Itu pun hanya sehari,” papar Tatang Mardiansyah, salah seorang tenaga kesehatan di SKB, Jumat (31/7) malam.

“Sebelum pulang ke rumah, kami harus dipastikan sudah steril. Setibanya di rumah, kami mesti langsung mandi sebelum berinteraksi dengan keluarga,” imbuh alumni Stikes Cahaya Bangsa ini.

Ketika sudah bertemu keluarga, bukan berarti semuanya baik-baik saja.
Kekhawatiran menjadi carrier untuk keluarga dan warga sekitar, selalu berada dalam pikiran mereka.

“Tentu sedih berada jauh dari keluarga selama berhari-hari. Namun ketika bersama mereka, kami juga khawatir menjadi pembawa virus, sekalipun semua protokol kesehatan sudah dilakukan,” timpal tenaga kesehatan lain bernama Rasyidah.

Kekhawatiran itu juga ditimpali anggapan miring masyarakat tentang potensi penularan Covid-19 dari tenaga kesehatan.

Kendati tak sampai dikucilkan lingkungan sekitar, gelagat dijauhi masyarakat sempat dirasakan.

Baca juga :  Hari ini, 87 Warga Kalsel Dinyatakan Sembuh Covid-19

“Makanya kalau sudah pulang, kami lebih banyak diam di rumah,” lirih Rasyidah yang ditugaskan dari Puskesmas Barambai.

Hanya bisa pulang sebulan sekali, banyak momen bersama keluarga yang dilewatkan tenaga kesehatan di SKB, termasuk perayaan Iduladha 1441 Hijriah.

“Oleh karena penugasan dimulai menjelang bulan puasa, sebagian besar sahur dan buka hingga bahkan perayaan Idulfitri kemarin dilakukan di karantina,” jelas Tatang.

“Namun demikian, kami tetap semangat menjalani tugas. Sesama tenaga kesehatan juga saling menguatkan,” imbuh tenaga kesehatan dari Puskesmas Wanaraya ini.

Selain solidaritas antar sesama tenaga kesehatan, kesembuhan pasien juga menjadi penyemangat. Terlebih kalau pasien tersebut memberikan testimoni baik selama dalam perawatan.

“Merawat pasien Covid-19 memang harus lebih sabar, mengingat mayoritas pasien di SKB tidak bergejala dan sudah lama dikarantina. Mereka pun pasti bingung dan sedih,” jelas Rasyidah.

“Makanya kami juga berusaha memahami karakter setiap pasien. Terkadang dianggap judes oleh pasien, padahal sudah pembawaan si perawat yang berbicara pendek-pendek,” tandas alumni Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat ini.

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Tabrak Tiang Listrik Hingga Driver ‘Teler’ Warnai H+3 Arus Balik di HSS
apahabar.com

Kalsel

Mobil Dilarang Melintas di Jembatan Putih Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Ibnu Sina Jawab Kritikan Video Pariwisata Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Guru Honorer Tagih Kejelasan Nasib ke Pemko Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Meratus di Ujung Daun, Yunias Robby Bersepeda Yogyakarta ke Tabalong-Kalsel untuk #savemeratus
apahabar.com

Kalsel

Update Perbaikan Pipa PDAM, Ternyata Ini yang Menghambat
apahabar.com

Kalsel

Musim Banjir, BPBD Banjar Tak Asal Beri Bantuan
apahabar.com

Kalsel

Dari Polda Kalsel hingga BPN Tabalong, Instansi Terbaik Versi Ombudsman
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com