Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’ Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura Muatan Politis dalam Pencopotan Sekda Tanah Bumbu Kantongi 3 Barang Bukti, Bawaslu Dalami Dugaan Pelanggaran BirinMU BW, Eks Pimpinan KPK Buka-bukaan Alasan Turun Gunung Bantu H2D

Kisah Karima, Putri Seorang Ateis Mantap Jadi Mualaf

- Apahabar.com Rabu, 12 Agustus 2020 - 09:30 WIB

Kisah Karima, Putri Seorang Ateis Mantap Jadi Mualaf

Karima tumbuh dalam keluarga yang tak peduli pada agama. Foto-reuters.

apahabar.com, JAKARTA – Hidayah datang kepada Karima (23). Warga Amerika serikat putri seorang ateis ini mantap jadi mualaf.

Dia tinggal di keluarga yang tak peduli pada agama. Akibatnya sempat membuatnya merasa sangat agnostik.

“Keluarga saya tidak pernah religius. Ibu saya selalu merendahkan agama yang terorganisir, sedangkan ayah saya adalah seorang ateis penuh,” ujar dia seperti dilansir About Islam, Ahad (9/8).

Namun, ketika usianya menginjak 16 tahun, dirinya merasa menemukan secercah cahaya dari keberadaan Tuhan.

Menurutnya, perkenalan pada Islam dimulai di sekolah menengah ketika mendapat tugas kelompok di kelas sejarah.

Dalam tugas itu, dirinya ditunjuk untuk meneliti salah satu festival agama, Iduladha yang biasa dilakukan Muslim.

Setelah mengetahui asal-usulnya, Karima langsung terkejut, meski keinginan untuk mengetahui Islam lebih dalam dirasanya.

“Itu terus melekat pada diri saya,’’ tambah dia.

Sebagai pengumpul informasi utama untuk festival itu, Karima tak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar agama yang asing baginya.

Hingga ia tiba di satu titik dan jatuh cinta pada Islam.

“Saya hanya mendengar hal-hal mengerikan tentang Islam, tapi belum pernah bertemu Muslim sebelumnya, jadi itu mengejutkan saya,” tuturnya.

Pada saat yang sama, ia mengaku ingin langsung menjadi mualaf, namun ada kendala besar yang ia rasa menghalanginya.

Tak sampai di situ, untuk memastikannya, Karima lalu membandingkan kebaikan dan makna dari setiap agama lain, meski itu hanya keinginan pribadinya.

Sadar tak ada yang mendekati, ia semakin mantap belajar Islam lebih lanjut.

Terlebih ketika sebagian besar agama ia sebut merupakan ciptaan manusia.

“Sampai suatu waktu, saya berjalan pulang dari sekolah, mengeluarkan transliterasi syahadat dan tulisan tangan saya. Saya mengatakannya (syahadat) di depan Gereja Mormon,’’ ucap dia.

Meski merasa gugup saat melafalkan kalimat itu, Karima mengakui ada rasa senang yang tersembunyi.

Dia mengatakan, rasa tersebut dimungkinkan bagian dari cobaan Allah SWT.

“Saya mulai belajar salat dan langsung jatuh cinta dengan hijab,” ujar perempuan yang kini mantap berhijab itu.

Penolakan Keluarga

Setelah menjadi Muslim karena keinginannya sendiri, cobaan, kata dia masih berdatangan. Salah satunya adalah penolakan dari orang tua.

Karima mengenang, saat orang tuanya agnostik, ibunya memang mendukung Karima untuk memilih jalannya sendiri.

Namun demikian, ketika sang ibu mengetahui Karima menjadi Muslim, ia merobek Al-Quran miliknya.

Bahkan, sang ayah yang lebih tak percaya anaknya menjadi Muslim, menyebutnya dengan berbagai umpatan dan hal buruk.

“Saya tidak bisa ibadah di depan mereka untuk waktu yang lama, tapi saya tidak pernah melepaskan keyakinan saya pada Islam,” ungkap dia.

Waktu berselang, sang ibu ia sebut semakin lembut seiring berjalannya waktu, meski masih belum setuju pada keputusannya.

Hal itu berbeda dengan ayahnya, yang masih menentang kepercayaan Islam.

“Tapi jujur, jika Allah menghendaki, dia bisa menjadi Muslim yang lebih kuat dari saya suatu hari nanti!” kata dia.

Karima melanjutkan, selama mempelajari mengenai Islam, pribadinya ia akui semakin utuh.

Pasalnya, ia menganggap bahwa Islam adalah yang paling cocok dengan fitrah manusia.

“Bagi saya, Quran tidak berubah karena dihafal oleh begitu banyak orang, itu salah satu keajaiban Tuhan. Shalat sendiri adalah momen pemersatu bagi banyak Muslim,’’ ungkap dia.

Karima menambahkan, ada banyak cerita serupa yang di luaran. Oleh sebab itu, ia menyarankan pada siapapun yang juga mengalami cobaan, untuk tetap sabar dan kembali demi mendapat kedamaian sejati.

“Saya hanya memutus siklus tekanan terhadap masyarakat dan agama buatan manusia, Anda tidak akan kehilangan apa pun jika terhubung dengan Dia yang menciptakan Anda seperti yang Dia kehendaki,” ujarnya.(rci)

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Hadapi Haul, PLN Terjunkan Ratusan Personil Siaga Gangguan Kelistrikan
apahabar.com

Habar

Stadion Demang Lehman Siap Tampung Tamu Haul Sekumpul ke 15, Gratis!
apahabar.com

Habar

Pakai Metode Wakalah, LAZISNU Banjar Tampung Zakat Fitrah Pengikut Madzhab Syafi’ie
apahabar.com

Habar

Kabar Hoaks Bengkel Gratis di Haul Sekumpul ke 15 Tersebar, Tim Posko Induk Sekumpul Minta Di-stop
MUI Kalsel: Begini Menyikapi Kematian Orang Tertular Covid-19

Habar

MUI Kalsel: Begini Menyikapi Kematian Orang Tertular Covid-19
apahabar.com

Habar

Nikah di New Normal, Penghulu Masih Deg-degan
apahabar.com

Habar

Sepeninggal Guru Zuhdi, Pengurus Masjid Jami Menimbang Dua Ulama Ini Jadi Pengganti
apahabar.com

Habar

Pendaftaran Haji Dibuka Online, Syaratnya Diperketat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com