RAKERNAS 2021 Dibuka Jokowi, Ketum Hipmi: Saatnya Jadi Bangsa Produktif Jokowi di Rakernas Hipmi 2021: Investasi-Hilirisasi Industri Jadi Kunci Pengamat: Hati-Hati Manuver Politik KLB Demokrat, RK! Duh, Jembatan Perhotelan Sepanjang Ahmad Yani Banjarmasin Dituding Langgar IMB Top! Jamu Gendong Ibu Nining asal Kintap Tembus Pasar Eropa

Kominfo Catat 1.028 Hoaks Tersebar Terkait Covid-19

- Apahabar.com Rabu, 12 Agustus 2020 - 23:32 WIB

Kominfo Catat 1.028 Hoaks Tersebar Terkait Covid-19

Berita palsu atau hoaks. Foto-Pixabay

apahabar.com, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat hingga 8 Agustus 2020 sebanyak 1.028 hoaks tersebar di berbagai platform media sosial terkait disinformasi tentang virus corona (Covid-19).

Dirjen Informasi Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo, Widodo Muktiyo, mengatakan Kominfo mempunyai cyber crime yang selama 24 jam terus melakukan monitoring terutama di media sosial (medsos) terutama terkait adanya informasi hoaks tentang Covid-19.

“Ditemukan 1.028 hoaks di Indonesia terkait COVID-19 hingga (8) Agustus. Bulan Maret adalah waktu dimana hoaks paling banyak ditemukan, menyusul mulai ramainya pemberitaan kasus Covid-19,” kata Widodo melalui siaran virtual bertajuk “Budaya Baru, Agar Pandemi Berlalu”, Rabu (12/8).

Menyikapi hal ini, Widodo menyebutkan Kementerian Kominfo telah berupaya mencegah dampak buruk dari melimpahnya pemberitaan seputar pandemi yang memunculkan kecemasan, frustasi, kecenderungan memunculkan sensasi, ketakutan tanpa landas, dan kecenderungan disinformasi.

“Salah satunya adalah dengan melakukan take down (berita hoaks), agar masyarakat mendapatkan informasi yang clear dan terus tetap bisa menaati protokol kesehatan,” kata pria yang juga merupakan Ketua Dewan Pengawas LKBN Antara itu.

Lebih lanjut, Widodo pun mengatakan bahwa pengontrolan hoaks di internet sendiri juga memerlukan partisipasi masyarakat, terlepas dari adanya tim Kominfo yang juga melakukan monitoring pengelolaan data dan informasi, khususnya di sosial media.

Menurutnya, di era keterbukaan ini, semua orang bisa bersuara, namun tentu harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk membuktikan bahwa informasi yang disebarkan itu valid.

“Jika data bisa dibuktikan, tentu bisa di-sounding-kan (disuarakan). Di era keterbukaan ini, perlu adanya validasi datanya, bukan hoaks atau adu domba, dan ini perlu dengan adanya umpan balik dari masyarakat,” kata Widodo.

Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat untuk bijak bermedia sosial, khususnya penyebaran “pesan berrantai” di aplikasi WhatsApp.

“Masyarakat diharapkan bisa self regulation di grup WhatsApp yang mereka gabung. Kalau memang masyarakat bergabung dan ada sesuatu yang tidak logis, janggal, dan minta sebarkan, itu harus kita bersihkan,” ujar Widodo.

“Masyarakat secara partisipasif untuk memberikan ‘sapu’ untuk membersihkan pesan-pesan dengan bahasa provokatif, mengolok-olok, dan adanya sisi narasi yang dimainkan,” pungkasnya.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Puluhan Ribu WNI di Singapura Antusias Ikut Pencoblosan
apahabar.com

Nasional

Pembentukan Kabupaten Buton Bertentangan Dengan UUD
apahabar.com

Nasional

Ini Sosok Ulama yang Viral Jenazahnya Utuh Meski Terkubur 31 Tahun
apahabar.com

Nasional

Penerimaan Calon ASN di Papua Ditunda ke 2019
apahabar.com

Nasional

Tanpa Vaksin Covid-19, Ketum HIPMI Khawatir Banyak Pengusaha Menyerah
apahabar.com

Nasional

Perang Dagang Makin Panas, Trump Desak Pengusaha AS Cabut dari China
apahabar.com

Nasional

Ahok Tanggapi Santai Penolakan Serikat Pekerja Pertamina
apahabar.com

Nasional

Tragedi Speedboat Paspampres, Menteri LHK Lepas Jenazah Stafnya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com