Mubadala Petrolium Sosialisasi Pemboran Sumur Eksplorasi Yaqut-1 Upah Minimum Naik Rp 10 Ribu, Buruh Kalsel Meradang Buntut Demo, Koordinator BEM Kalsel Ahdiat Zairullah Resmi Tersangka Koordinator BEM Kalsel Tersangka, Kuasa Hukum Siap Melawan BREAKING NEWS: Wakil Rektor ULM Penuhi Panggilan Polda Kalsel

Makan Kimchi Diklaim Turunkan Risiko Tertular Covid-19, Benarkah?

- Apahabar.com Senin, 31 Agustus 2020 - 08:45 WIB

Makan Kimchi Diklaim Turunkan Risiko Tertular Covid-19, Benarkah?

Ilustrasi kimchi. Foto-Shutterstock via Dream.co.id

apahabar.com, JAKARTA – Kuliner khas Korea Selatan, Kimchi, yang memiliki rasa asam dan lezat ternyata disebut memiliki banyak manfaat.

Hidangan yang kaya sayuran ini diketahui mengandung banyak vitamin yang dibutuhkan buat tubuh.

Rupanya ada studi menarik tentang makan kimchi yang dikaitkan dengan Covid-19.

Dilansir Okezone, penelitian terbaru menunjukkan bahwa seseorang yang rajin makan kimchi berisiko kecil tertular Covid-19. Bahkan ada bukti pada orang-orang yang tinggal di Korea Selatan.

Profesor Kedokteran Paru di Universitas Montpellier, Prancis, dr. Jean Bousquet pun mempelajari hubungan antara tingkat kematian rendah dan perbedaan pola makan nasional.

Mereka menemukan bahwa negara-negara tempat kimchi dikonsumsi membentuk bagian penting dan memiliki tingkat kematian yang lebih rendah.

Kimchi merupakan makanan yang terbuat dari kubis yang difermentasi dan kabarnya dapat membantu menurunkan kadar ACE2.

ACE2 adalah suatu enzim dalam membrane sel yang sebagian besar ditemukan di paru-paru yang digunakan oleh virus corona Covid-19 sebagai titik masuk ke dalam tubuh.

Makan kimchi dalam jumlah yang banyak dapat menurunkan jumlah ACE2 dan membuat virus lebih sulit untuk masuk ke dalam tubuh.

Makanan ini juga tinggi antioksidan dan baik untuk meningkatkan imunitas tubuh bagi orang yang mengonsumsinya.

Tim peneliti juga memperhatikan sauerkraut Jerman yang dipotong halus, seperti kol yang difermentasi dalam garam dan sering disajikan dengan sosis.

Dilansir Donga, Minggu (30/8), jumlah kasus yang dikonfirmasi secara kumulatif di Korea Selatan dan Jerman masing-masing mencapai 13.612 dan 201.

252 dengan hanya 291 dan 9.148 kematian yang menghasilkan tingkat angka kematian sebesar 2,14 persen dan 4,55 persen.

Kematian jauh lebih tinggi di negara-negara di mana kubis yang difermentasi tidak menjadi makanan pokok. Contohnya seperti Italia, (14,37 persen), Spanyol (9,33 persen), dan Inggris (15,43 persen).

Studi ini juga menemukan bahwa negara-negara yang banyak mengonsumsi yoghurt atau kaviar seperti Yunani, Bulgaria dan Turki juga mengalami tingkat kematian yang rendah.

“Sedikit perhatian telah diberikan pada penyebaran dan tingkat keparahan virus dan perbedaan regional dalam diet. Tetapi perubahan diet mungkin sangat bermanfaat. Orangtua juga wajib memasukkan sayuran fermentasi ke dalam sarapan mereka,” pungkas dr Jean.(Okz)

Editor: Aprianoor

Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Jadi Trending Twitter, Video Aldi Taher Lantunkan Al-Qur’an Jadi Cibiran Warganet
apahabar.com

Gaya

Mengenal Perawatan Kulit dengan Teknologi Pikosekon
apahabar.com

Gaya

Kurangi Limbah Plastik, Remaja Ini Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan
apahabar.com

Gaya

WHO: Tak Ditemukan Adanya Virus Corona Hidup di ASI
apahabar.com

Gaya

Menu MPASI Harus Mengandung 4 Nutrisi Penting Ini
apahabar.com

Gaya

Mengapa Food Court Selalu Menempati Lantai Paling Atas Mal?
apahabar.com

Gaya

Resmi, Toyota Corolla Cross Hadir di Auto2000 Banjarmasin
apahabar.com

Gaya

Makan Siang Tanpa Karbohidrat Turunkan Berat Badan, Benarkah?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com