Kasus Covid-19 Indonesia Tembus 275.213, Letjen Doni Sebut OTG Silent Killer Buron, Suami Penggorok Istri di Kintap Tala Kuasai Medan Pelarian KDRT di Kintap Tala: Cemburu, Suami Tebas Leher Istri Link Live Streaming MotoGP Catalunya 2020, Live Trans7, Kans Rossi Podium Hasil Kualifikasi MotoGP Catalunya 2020, Morbidelli Pole Position, Rossi Start Ketiga, Live Trans7

Menciptakan Pembelajaran Daring yang Menyenangkan di Masa Pandemi

- Apahabar.com Senin, 31 Agustus 2020 - 10:38 WIB

Menciptakan Pembelajaran Daring yang Menyenangkan di Masa Pandemi

Ilustrasi-Medcom.id

Oleh Udi Supriyono, S.Pd.

Proses belajar mengajar di masa pandemi dinilai terlalu pasif dan sangat memberatkan peserta didik. Sebagian guru pun mengeluh, sebab mereka tidak pernah dipersiapkan untuk mengajar jarak jauh menggunakan fasilitas internet dan aplikasi, seperti Zoom atau Google Meet.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survei terhadap pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai 13-20 April 2020. Ada 1.700 responden yang mengikuti survei tersebut. Mereka berasal dari peserta TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Hasilnya, tercatat ada 246 aduan dari peserta didik. Sebagian besar di antaranya mengeluhkan tugas yang menumpuk dengan waktu pengumpulan yang mepet.

Sebagai contoh, ada pengaduan peserta didik SMP yang pada hari kedua PPJ sudah mengerjakan 250 soal dari gurunya. Kemudian, ada peserta didik SD yang diminta menyalin 83 halaman buku cetak serta tugas menulis bacaan salat yang semuanya sudah ada di buku cetak. Pengaduan lain disampaikan peserta didik SMA dari Kuningan Jawa Barat yang mengeluhkan tugas online lebih banyak daripada tugas sekolah pada hari biasa.

Contoh pengaduan berikutnya datang dari orang tua peserta didik. Dia menyampaikan anaknya sudah di depan laptop mulai pukul 06.00 untuk menerima tugas dari gurunya. Tidak hanya satu tugas, guru lainnya juga memberikan tugas yang berbeda dengan waktu pengerjaan yang singkat. Akibatnya anaknya baru bisa makan pada siang harinya. Pengadu khawatir teknik seperti itu dapat menurunkan imun sang anak karena kelelahan dan terlat makan.

Lantas, bagaimana cara membuat pembelajaran daring menjadi menyenangkan?

Pertama, guru dan pihak sekolah sebaiknya melakukan komunikasi dengan orang tua peserta didik untuk menunjang kesiapan belajar peserta didik secara daring. Sebagai contoh, guru dan pihak sekolah meminta tolong orang tua peserta didik untuk memahamkan anaknya bahwa libur pandemi tidak sama artinya dengan libur sekolah. Selain itu, juga mendorong anaknya untuk tetap semangat mempelajari materi-materi baru seperti saat sekolah.

Kedua, guru sebaiknya mengusahakan pembelajaran aktif dengan pendekatan berpusat pada peserta didik (student centered). Misalnya, dalam mata pelajaran IPA, daripada memberikan materi mengenai biotekhnologi secara langsung, guru sebaiknya memberikan panduan praktikum membuat produk biotekhnologi konvensional. Misalnya membuat tapai yang dapat dilakukan peserta didik dengan atau tanpa bantuan walinya di rumah.

Dalam menciptakan student centered learning secara daring, wali murid dan peserta didik tidak boleh sering bertanya dan meminta instruksi guru. Sebab dapat menciptakan sikap ketergantungan terhadap guru. Di sisi lain guru juga harus memberikan instruksi dan batasan yang jelas agar peserta didik dapat belajar secara aktif tanpa kebingungan.

Ketiga, guru sebaiknya mengusahakan pembelajaran daring yang tidak mematikan interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lain serta antara peserta didik dengan guru. Hal ini dikarenakan dalam interaksi terjadi pertukaran pengetahuan, keberanian mengungkapkan pendapat dan lain sebagainya. Sebagai contoh, upaya menghidupkan interaksi, guru meminta peserta didik menggugah eksperimen atau hasil kerja mereka untuk didiskusikan bersama-sama.

Keempat, guru sebaiknya secara intens melakukan komunikasi dengan sesama rekan guru. Dengan adanya komunikasi, guru yang tidak begitu menguasai teknologi informasi (TI) diharapkan dapat belajar dari temannya yang lebih menguasai. Komunikasi antarguru juga dapat mencegah pemberian tugas yang berlebihan yang dapat membebani peserta didik.

Kelima, kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah agar membuat rambu-rambu bagi para guru untuk memastikan bahwa proses pembelajaran daring yang terjadi berjalan dengan menyenangkan dan tidak menjadi beban yang dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental peserta didik.

Jadi, upaya paling utama yang dapat dilakukan guru dalam menciptakan pembelajaran daring yang menyenangkan di masa pandemi Covid-19 adalah jangan terlalu membebani peserta didik dengan tumpukan tugas. Hal ini karena tugas yang menumpuk dapat menimbulkan rasa cemas dan terbebani pada diri peserta didik sehingga dapat melemahkan sistem imun yang membuatnya mudah terserang virus.

Bukankah kurikulum yang tepat pada masa pandemi Covid-19 itu adalah bagaimana agar peserta didik dapat tetap bertahan dari pandemi?

Semoga pembelajaran daring dapat dimanfaatkan guru sebagai kesempatan menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik, memotivasi, mempererat hubungan dan saling membahagiakan.

Editor: Puja Mandela

*
Penulis adalah Guru IPA SMPN 2 Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu.

Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Indonesia Lockdown: Melawan Virus Covid-19 dan RUU Omnibus Law
apahabar.com

Opini

Menjajal Tuah Balangan1
apahabar.com

Opini

Menyiapkan Calon Wartawan Profetik di “Journalist Boarding School”
apahabar.com

Opini

Puasa Jadi Perisai di Tengah Covid-19
apahabar.com

Opini

Pemimpin Sebagai Ujung Tombak Kualitas Kebijakan Publik
apahabar.com

Opini

Mencari Rumah Sastra
apahabar.com

Opini

Herd Immunity, New Normal, dan Hidup Berdampingan dengan Virus

Opini

Menyoal (Calon) Kepala Daerah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com