Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah Membeludak, Warga Barabai Terobos Kantor Disprindagkop Demi BLT UU Cipta Kerja, Ketum Hipmi Yakin Indonesia Lolos dari Midlle Income Trap Live Streaming Man City vs Porto, Link Siaran Langsung Liga Champions di SCTV-Vidio.com Malam Ini Jembatan Terpanjang Kedua Indonesia di Kaltim Sudah 90 Persen Beres

Mengenal Gudeg, Masakan yang Usianya Setua Yogyakarta

- Apahabar.com Minggu, 16 Agustus 2020 - 07:00 WIB

Mengenal Gudeg, Masakan yang Usianya Setua Yogyakarta

Penjual gudeg Sudarmi mengenakan pelindung wajah melayani pembeli di kawasan Demangan, DI Yogyakarta, Jumat (29/5/2020). Pemerintah DI Yogyakarta berencana mempersiapkan adaptasi normal baru atau new normal pada bulan Juli 2020 dengan standar protokol baru sebagai aturan menjalankan aktivitas masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Foto-Antara/Hendra Nurdiyansyah

apahabar.com, YOGYAKARTA – Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Yogyakarta tanpa mencicipi gudeg. Masakan khas dengan cita rasa manis itu lekat dengan citra kota tersebut.

Dalam tur virtual jejak sejarah Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta dan Solo dari HIS Travel, Sabtu (15/8), Aryono dari Historia.id menjelaskan usia gudeg kira-kira sama dengan usia kota Yogyakarta.

Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi dua wilayah Mataram menjadi di bawah dua penguasa, Yogyakarta pun dibuka.

“Tadinya itu hutan. Karena hutan dibuka, banyak prajurit yang mencoba mengonsumsi apa yang ada di hutan, seperti pohon nangka dan kelapa,” kata Aryo.

Racikan masakan yang dibuat dari nangka dan santan itu diolah dalam kuali besar. Hasilnya, nangka muda yang diolah dengan santan menjadi hidangan manis, disajikan bersama nasi, kuah santan kental, lengkap dengan sambal goreng krecek.

Nama gudeg, menurut Aryo, diambil dari cara memasaknya yang disebut hangudeg. Gudeg juga disebut di Serat Centhini, salah satu karya sastra dalam kesusastraan Jawa Baru.

Gudeg Yu Djum adalah salah satu gudeg yang ternama di Yogyakarta.

Yu Djum mulai berjualan gudeg gendongan sejak 1950, usahanya berkembang menjadi 12 gerai di Yogyakarta dan kawasan lain di Jawa Tengah.

Tur virtual jejak sejarah Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta dan Solo mengajak warganet menjelajahi tempat-tempat di dua kota tersebut, termasuk pantai Parangkusumo, Keraton Yogyakarta dan Surakarta, Kota Gede, hingga Makam Raja-Raja Mataram.(Ant)

Editor: Aprianoor

Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Klaim Asuransi Kerusakan dan Kehilangan Mobil di Kalsel Minim
apahabar.com

Gaya

Telegram Kembangkan Fitur Reaksi Pesan
apahabar.com

Gaya

Di Tengah Pandemi Covid-19, Orang Makin Sadar Kelola Keuangan
apahabar.com

Gaya

Gowes Saat Pandemi, Ini Tips Dinkes Kalsel
apahabar.com

Gaya

Model Video Klip Religi Yudan dan Sakti Sheila On Seven, Ada Rai Mualaf?
apahabar.com

Gaya

Lebanon Legalisasi Tanaman Ganja untuk Kebutuhan Medis
apahabar.com

Gaya

Potensi Bisnis 5G, Pelanggannya Diprediksi 190 Juta Akhir 2020
apahabar.com

Gaya

Paliat Kuliner Khas Tabalong, Bikin Lidah Menggeliat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com