Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah Membeludak, Warga Barabai Terobos Kantor Disprindagkop Demi BLT UU Cipta Kerja, Ketum Hipmi Yakin Indonesia Lolos dari Midlle Income Trap Live Streaming Man City vs Porto, Link Siaran Langsung Liga Champions di SCTV-Vidio.com Malam Ini Jembatan Terpanjang Kedua Indonesia di Kaltim Sudah 90 Persen Beres

Mengenang Perjuangan HM Yunus, Atak Imberansyah dan HM Ruslan

- Apahabar.com Jumat, 14 Agustus 2020 - 13:49 WIB

Mengenang Perjuangan HM Yunus, Atak Imberansyah dan HM Ruslan

HM Yunus, Atak Imberansyah dan HM Ruslan bersama anggota pasukan Markas Daerah BN 10 Cerbon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Foto: Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – HM Yunus, Atak Imberansyah dan HM Ruslan bukan sekadar nama-nama jalan di Barito Kuala, tepatnya di Kecamatan Bakumpai dan Cerbon.

Pun nama mereka tidak cuma penghias batu-batu nisan di Taman Makam Pahlawan Lima Desember Marabahan.

Yunus, Imberansyah dan Ruslan adalah sebagian dari pemuda Bakumpai yang rela meninggalkan keluarga dan mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti pejuang lain pasca Proklamasi Kemerdekaan, mereka bertekad mengusir penjajah Belanda dari Kalimantan Selatan yang kembali datang dengan membonceng tentara sekutu Australia.

Menukil Sejarah Pendirian Markas Daerah BN 10 Cerbon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang disusun Suryani Ruslan (putra HM Ruslan), ketiga pejuang bersaudara itu merupakan bagian dari pemberontakan 5 Desember 1945 melawan Belanda di Marabahan.

Dalam peristiwa yang dikenal dengan Palagan 5 Desember itu, bendera Belanda diturunkan dan Merah Putih pun berkibar diiringi lagu Indonesia Raya di Marabahan.

Namun Belanda yang terpukul, kemudian melakukan balas dendam. Tepat 7 Desember 1945, mereka mendatangkan pasukan NICA dari Banjarmasin, serta mengepung Marabahan mulai Ulu Benteng dan Bagus.

Akibat kekuatan persenjataan yang tak seimbang, pejuang mengambil siasat mundur dan Marabahan kembali diduduki Belanda. Dalam pertempuran itu, Wahidin dan Atak gugur.

Tak sedikit pula pejuang yang ditangkap dan dieksekusi, seperti H Muhammad Taher dan Bachdar Johan. Kemudian 41 pejuang lain dibawa ke Banjarmasin dan Nusakambangan.

Mereka yang berhasil lolos dari kejaran musuh, masuk ke hutan-hutan untuk meneruskan perjuangan gerilya. Termasuk di antaranya Yunus, Imberansyah dan Ruslan yang mundur hingga ke Bantuil.

Beberapa bulan pasca pemberontakan 5 Desember 1945, markas mereka di Bantuil didatangi sejumlah pejuang dari Kandangan. Di antaranya Abdurrahman Lubis yang membawa pesan agar perjuangan harus diteruskan.

Setelah berhasil meneruskan pesan itu hingga Banjarmasin, Abdurrahman kembali ke Bantuil untuk bergerilya bersama Yunus, Imberansyah, Ruslan, Junaidi, Ahli Razak, Jabir, Anang Abrar, Marli Hasan dan pejuang lain.

“Sebagian besar pejuang di Marabahan merupakan anggota Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), sebelum kemudian bergabung dengan MN 1001/MTKI,” ungkap Mansyur SPd MHum, pengamat sejarah yang juga dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

“Kemudian mulai 1948, mereka memilih serentak bergabung dengan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan,” sambungnya.

Di sisi lain, tekanan Belanda juga semakin kuat. Dengan kekuatan senjata yang lebih modern, mereka membuat api perlawanan pejuang-pejuang di Kalimantan cukup mudah dipatahkan.

Namun bak api dalam sekam, tekanan itu yang membuat semua barisan pejuang bersatu. Dengan bendera ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, perang gerilya mulai berkobar.

Perlawanan tidak lagi dilakukan sporadis, tetapi direncanakan lebih matang dan bersatu. Perjuangan Yunus, Imberansyah dan Ruslan pun mendapat dukungan masyarakat.

Tak cuma di Bantuil. Dukungan juga datang dari masyarakat di Sungai Gampa, Sungai Pantai, Pindahan Baru, Marabahan, Anjir Serapat, Kuripan, hingga Hulu Barito.

Kemudian terbentuk pangkalan-pangkalan di setiap desa, termasuk di Marabahan hingga Mengkatip di Barito Selatan.

Dukungan itupula yang menguatkan pejuang menyerang ke Mengkatip, setelah tersiar kabar kedatangan Asisten Wedana bersama tentara NICA.

Dipimpin Imberansyah dan Abdurrahman, pasukan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan berangkat menyerang menggunakan jukung dan bersenjatakan mandau.

Sekitar pukul 02.00, penyergapan pun dilakukan. Tanpa perlawanan berarti dan korban jiwa dari pihak pejuang, musuh dapat ditaklukkan.

Dari penyergapan itu, dirampas 4 senapan karaben dan 1 pistol beserta peluru. Namun semua tawanan dilepaskan, setelah bersedia membantu secara diam-diam.

Semenjak penyergapan tersebut, Belanda mulai mewaspadai pergerakan pejuang di Bantuil. Namun kewaspadaan penjajah, kalah dengan kegigihan pejuang.

Diperkirakan terjadi di pertengahan 1947, mereka berani mengadang Kapal Biliyung Hoat di Rimbun Tulang, Kuripan. Kapal tersebut membawa tentara KNIL dari Muara Teweh ke Banjarmasin.

3 orang dari pihak musuh berhasil ditawan. Hanya keberanian itu mesti dibayar dengan kematian salah seorang pejuang bernama Ibas.

Setelah penyergapan di Rimbun Tulang, markas pun dipindahkan ke Sungai Bamban untuk menghindari mata-mata Belanda.

Selanjutnya perjuangan Yunus, Imberansyah dan Ruslan dilakukan di kawasan Anjir Serapat, sembari memberi pengertian kepada masyarakat bahwa Indonesia sudah merdeka.

Di Anjir Serapat, tepatnya awal 1948 di Kilometer 18, pasukan pimpinan Abdurrahman dan Imberansyah juga sempat mengadang kapal Belanda yang membawa tentara ke Kuala Kapuas.

Akan tetapi, penyergapan ini menewaskan Abdurrahman dan Tarlam. Selanjutnya komandan sektor pertempuran diserahkan kepada Imberansyah dan Jarman sebagai wakil.

Seusai membantu penyerangan di Buntok, markas dipindah lagi ke Hanjalutung yang terletak di Sungai Gampa. Akhirnya 1 Januari 1948, didirikan Markas Daerah BN 10 Cerbon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Yunus dipercaya sebagai kepala markas daerah. Imberansyah menjabat komandan sektor pertempuran, dan Ruslan menjadi kepala staf.

Selama masa pertempuran itu, sejumlah nama memberikan peran masing-masing. Salah seorang di antaranya H Basirun. Ayah HA Sulaiman HB tersebut merupakan penyandang dana Markas Daerah BN 10 Cerbon.

Ketika bermarkas di Hanjalutung, pernah dilakukan upacara peringatan HUT RI 17 ke-3. Kendati berlangsung sederhana di dalam hutan, upacara itu benar-benar menggelorakan semangat pejuang.

Belanda sendiri tidak tinggal diam. Mereka melakukan serangan balasan siang dan malam menggunakan kapal motor BO dan Rinjani. Akibatnya terjadi pengungsian besar-besaran masyarakat ke sejumlah pelosok.

Semenjak menjadi bagian Divisi IV Pertahanan Kalimantan, pasukan Markas Daerah BN 10 Cerbon beberapa kali terlibat dalam pertempuran sengit di Banua Anam.

Salah satu pertempuran sengit terjadi di Birayang yang dipimpin Imberansyah. Abul dan Mastu gugur dalam pertempuran itu, sementara Tucil mengalami luka parah.

Pasca Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan tertanggal 17 Mei 1949, diikuti gencatan senjata mulai 2 September 1949, seluruh pasukan kembali ke markas masing-masing.

Sementara Markas Daerah BN 10 Cerbon juga sudah pindah dari Hanjalutung ke Kampung Pematang Bantuil. Demikian pula Yunus, Imberansyah dan Ruslan yang menetap di kawasan tersebut hingga meninggal dunia.

Mereka dikebumikan di Bantuil, sebelum dipindahkan ke Makam Pahlawan Lima Desember Marabahan di pertengahan 1988 bersama 5 pejuang lain, yakni Wahidin, Ibas, Hadiun Alber, Muhammad Tailah dan Ali Tahir.

Demi mengenang jasa mereka, Pemkab Barito Kuala juga mengabdikan HM Yunus, Atak Imberansyah dan HM Ruslan sebagai nama jalan.

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Reporter: Bastian Alkaf - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Resmi Ditutup, Ini Peringkat Lima Besar Peserta Diklat Kepimpinan Pemprov dan Kabupaten-Kota
apahabar.com

Kalsel

Polresta Banjarmasin Kembali Tanam 500 Bibit Pohon

Kalsel

Video: Pengakuan Penggorok Leher Remaja Martapura
apahabar.com

Borneo

Terdakwa Pencurian Motor di Masjid Menyesal, Pasrah Diganjar 1 Tahun 6 Bulan
apahabar.com

Kalsel

Go Jukung Antar Fikri Juara Pertama Stand Up Comedy apahabar.com
apahabar.com

Kalsel

Mumpung Musim Kemarau, Dewan: Sebaiknya Pemko Benahi Drainase
apahabar.com

Kalsel

DPRD Kota Banjarmasin Sahkan Peraturan Tatib Periode 2019-2024
apahabar.com

Kalsel

Pemprov Ogah HPS 2019 Disebut Proyek Tergesa-gesa
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com