Resmi, Sandiaga Uno Dukung Cuncung-Alpiya di Pilbup Tanbu 2020 Bendera RI Rasa Polandia di SKPD Kotabaru, Sore Hari Baru Diturunkan Pulang dari Banjarmasin, 1 Anggota DPRD Tabalong Positif Covid-19 Hasil Liga Inggris, Kalah 3-1 dari Liverpool, Pelatih Arsenal Arteta Langsung Berburu Gelandang Kreatif PDAM Bandarmasih Stop Distribusi Air Bersih Malam Ini, Simak Wilayah Terdampak

Napi Dikeroyok Oknum Sipir di Tanjung, Kuasa Hukum Bongkar Fakta Baru

- Apahabar.com Sabtu, 29 Agustus 2020 - 15:29 WIB

Napi Dikeroyok Oknum Sipir di Tanjung, Kuasa Hukum Bongkar Fakta Baru

Kusman Hadi (kiri), kuasa hukum napi yang dikeroyok oknum sipir di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tanjung. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Kasus dugaan pengeroyokan yang dilakukan oleh 5 oknum sipir di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tanjung, Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap salah satu narapidana, M Gunawan alias H Agun menemui jalan buntu.

Sejak surat laporan dilayangkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Kalsel, Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Kalsel, dan Ombudsman Kalsel, Selasa (11/8) hingga kini, Jumat (28/8), pihak keluarga serta kuasa hukum merasa belum ada upaya konkrit oleh aparat terkait pengusutan kasus tersebut.

Mereka merasa kasus ini seperti berbelit-belit dan terkesan jalan di tempat.

“Kelima oknum sipir masih belum ditahan, padahal ini kasus pengeroyokan, sudah tahap 1 dan mereka ditetapkan tersangka. Saya berharap ditahan, tak ada yang kebal hukum,” ujar kuasa hukum korban, Kusman Hadi kepada awak media.

Bahkan, ditemukan fakta baru, yakni adanya pemalsuan tanda tangan di berkas berita acara pemeriksaan (BAP) H Agun.

Fakta tersebut diketahui setelah H Agun dipindahkan dari Lapas Kelas II B Tanjung, Kalsel ke Lapas Narkotika Kelas III Kasongan, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Berkas itu menyertai kepindahan H Agun ke Lapas Narkotika Kelas III Kasongan pada hari Rabu (12/8) lalu.

Dari berkas tersebut menyatakan jika pada Jumat (22/5) silam, tepat di hari terjadinya pengeroyokan, H Agun-lah bikin onar dalam Lapas Tanjung.

Janggalnya, di berkas tersebut didapati tanda tangan H Agun. Padahal, kata Kusman, jangankan untuk tanda tangan, sekadar melihat berkasnya saja kliennya tidak pernah.

Dengan adanya berkas BAP itu, maka keluarlah surat keputusan (SK) yang membuat H Agun ditetapkan sebagai narapidana register F atau pelanggar tata tertib kategori berat, hingga menghilangkan hak remisinya. SK itu dikeluarkan pada hari Rabu (17/6) silam, tepat di mana pihaknya menyatakan tak ada persetujuan damai dengan kelima oknum sipir.

“Saya diberi tahu oleh pihak Lapas Kasongan soal kenapa klien saya hilang hak remisinya dan ditetapkan register F, ternyata ada pemalsuan tanda tangan di dokumen H Agun, sehingga membuatnya ditetapkan sebagai narapidana register F,” papar Kusman.

“Dokumen tersebut dibuat oleh pihak Lapas Tanjung dan ada tanda tangan H Agun. Padahal melihat berkasnya saja klien saya tidak pernah. Ini sangat disayangkan, padahal klien saya ini posisinya sebagai korban,” timpalnya.

Kecewanya lagi, Kusman mengatakan, saat kliennya dipindahkan, dari pihak Lapas Tanjung meminta Lapas Kasongan untuk menekan H Agun dan memasukannya dalam sel isolasi.

“Beruntungnya dari Lapas Kasongan tidak melakukan itu, karena memang klien saya ini tidak mempunyai kesalahan apapun, dia adalah korban,” bebernya.

Dikonfirmasi, Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan (Kasi Binadik) Lapas Kelas III Narkotika, Agus Ardianto membenarkan jika H Agun telah ditetapkan sebagai narapidana Register F dan kehilangan hak remisinya.

Namun, soal pemalsuan tanda tangan, Agus mengaku tak tahu menahu. “Hanya saja pengakuan dari yang bersangkutan seperti itu,” katanya.

Sebab itu, pihak kuasa hukum beserta keluarga H Agun pun berencana kembali mendatangi Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Kalsel untuk melaporkan oknum-oknum di Lapas Tanjung yang terlibat soal pemalsuan tanda tangan tersebut.

Terkait pemalsuan tanda tangan, pihaknya kata Kusman juga akan melaporkannya ke Polda Kalsel, karena termasuk sebagai pelanggaran pidana.

Lebih jauh, Kusman juga mengatakan bahwa pihaknya akan terus menekan pihak berwajib agar segera melakukan penahanan terhadap kelima oknum sipir yang melakukan pengeroyokan terhadap kliennya.

“Dalam waktu dekat saya juga akan mendatangi Kejaksaan Negeri Tabalong dan meminta agar melakukan penahanan kepada 5 orang pelaku ini. Tolong kalau nantinya naik tahap 2, segera tahan kelima orang ini. Kalau tidak, saya juga akan melaporkan itu, baik ke Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Agung Republik Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas II B Tanjung, M Yahya membantah jika pihaknya telah melakukan pemalsuan tanda tangan sehingga H Agun ditetapkan sebagai register F dan harus kehilangan hak remisnya.

“Tidak ada pemalsuan tanda tangan. Jadi yang bersangkutan (H Agun) tidak dapat remisi karena gagal pembebasan bersyarat (PB), sebab melawan petugas,” jelasnya via telpon, Jumat (28/8) malam.

“Yang bersangkutan juga belum ditetapkan sebagai register F, rencananya nanti di 2021,” lanjutnya.

Kalapas melanjutkan, tanda tangan di berkas yang menetapkan H Agun sebagai register F tersebut dibubuhkan sehari setelah terjadinya kejadian pemukulan, atau Sabtu, 23 Mei 2020.

“Waktu itu sekitar pukul 09.00 kami melakukan pemeriksaan, yang bersangkutan sudah membaca dokumen dan tanda tangan. Kami juga ada saksinya,” terangnya.

Tak cuma itu, ia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan intimidasi terhadap H Agun. “Semuanya sesuai prosedur. Tak mungkin ada tindakan jika tak ada sebab,” timpalnya.

Kemudian, soal tidak ditahannya kelima oknum sipir, Yahya mengatakan bahwa ia telah mengajukan penangguhan penahanan.

“Itu memang permohonan saya sebagai Kalapas, karena kita juga kekurangan tenaga di sini. Penyidik itu kan ada 3 tahap, yang penting mereka tidak kabur, tidak menghilangkan barang bukti dan tidak melakukan perkara lain, jadi bisa saja tidak harus ditahan dulu,” ungkapnya.

“Selain itu kita juga keberatan, itu persoalan kerja. Karena tidak mungkin ada suatu tindakan tanpa ada sebabnya kan,” tambahnya.

Sekadar mengingatkan, dugaan pengeroyokan dilakukan oleh 5 orang oknum sipir berinisial WR, H, MR, DF dan DW kepada korban yang merupakan narapidana kasus narkoba, M Gunawan alias H Igun, pada hari Jumat, 22 Mei 2020.

Sebelumnya, keluarga beserta kuasa hukum korban juga telah menyurati Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Kalimantan Selatan (Kalsel), Ombudsman Kalsel dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Kalsel, Selasa (11/8) silam.

Dalam laporannya, mereka meminta agar kasus tersebut lebih cepat untuk ditindaklanjuti, sebab upaya mediasi tidak menemui kesepakatan damai, mengingat luka yang diterima H Agun membuatnya sangat trauma.

Selain itu, surat laporan dilayangkan lantaran pihak keluarga korban merasa kecewa, sebab hingga kini kelima oknum sipir itu tidak dilakukan penahanan oleh kepolisian.

Selain itu, sewaktu masih berada di Lapas Tanjung hak-hak korban sebagai narapidana, kata Kusman Hadi, sempat ditiadakan. Hal itu terjadi setelah upaya jalan damai tak menemui titik terang.

“Sangat tidak manusiawi, bahkan makanan yang kami titipkan kadang diacak-acak sama mereka hingga tidak layak makan. Selain itu, ada yang sudah basi baru dikasih ke korban,” ujarnya.

Tak hanya itu, Kusman Hadi juga mengatakan jika korban sejak saat kejadian pengeroyokan itu sempat dimasukkan dalam sel isolasi.

Korban, kata dia, sempat tidak pernah dikeluarkan, bahkan hanya untuk berjemur dan sempat pula tidak dikasih air minum, sementara napi lain yang satu kamar dengan korban diperlakukan seperti biasa.

“Pernah satu kali, diperbolehkan untuk menjenguk lewat virtual, tapi keluarga korban tidak bisa, sementara yang lain bisa,” ujarnya.

“Mereka mengatakan jika itu sesuai prosedur, tapi prosedur yang mana, klien saya ini kan ga punya salah, dia korban,” tambahnya.

Dikatakan Kusman, jika dimintai alasan, pihak Lapas berdalih kalau itu dilakukan guna mengamankan korban.

“Kalapas tahu itu, namun saat ditanya pengamanan yang mana, tak bisa menjelaskan,” ujarnya.

Kronologi Kasus

Dugaan kasus pengeroyokan terjadi di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Tanjung, Kalimantan Selatan, pertengahan Mei lalu.

Penganiayaan diduga dilakukan oleh oknum sipir berinisial WR, H, MR, DF dan DW kepada korban narkoba, M Gunawan alias H Agun.

Ketika itu, H Agun merupakan narapidana kasus narkoba yang baru saja pindah dari Lapas Banjarbaru. “Baru dua bulan dipindah,” terang istri korban, Nilam Sari.

Menurut kuasa hukum korban, kejadian itu bermula saat korban hendak minta izin untuk melaksanakan salat Jumat. Namun, permohonan itu ditolak oleh salah satu sipir.

Lantas korban pun protes, sebab narapidana yang lain diperbolehkan untuk melaksanakan salat Jumat, sementara ia tidak.

Mendengar protes dari korban, salah satu sipir pun emosi. Berselang kemudian sipir yang lain juga ikut memukuli korban hingga mengakibatkan luka serius terhadap H Igun.

Untuk diketahui, H Agun sendiri divonis hukuman 9 tahun penjara dan saat ini telah menjalani 6 tahun masa tahanan.

Editor: Syarif

Reporter: Riyad Dafhi R - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hukum

Fakta-Fakta Eks Polisi yang Terlibat Penyiraman Air Keras Kadivpas Kemenkumham Kalsel
apahabar.com

Hukum

Siang Ini KPK Umumkan Status Rommy Cs
apahabar.com

Hukum

Malaysia Siapkan Penghargaan bagi Penemu MH370
apahabar.com

Hukum

Indikasi Korupsi, Jaksa Periksa 20 Pejabat Barito Timur
apahabar.com

Hukum

Penjambret Babak Belur Dihakimi Warga  
apahabar.com

Hukum

Sang Ibu Ajak Anak Sendiri Threesome
apahabar.com

Hukum

KPK Geledah 2 Kantor Dinas Provinsi Kepulauan Riau
apahabar.com

Hukum

Kisruh Pembongkaran Baliho, Polisi Periksa Eks Kasat Pol PP Banjarmasin
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com