UPDATE Laka Maut Tewaskan Ibu-Bayi di Bati-Bati Tanah Laut, Berakhir Damai Pengamanan Berlapis Kawal Rekapitulasi PSU Kalsel Tingkat Provinsi Kapolri Bidik Puluhan IUP Diduga Bodong di Kalsel, Dinas ESDM No Comment Breaking News! Gunung Bugis di Kaltim Membara Lagi Jelang MotoGP Jerman 2021, Momen Marc Marquez Meramaikan Barisan Depan

Obati Pasien Covid-19, China Tak Pakai Hydroxychloroquine

- Apahabar.com Kamis, 20 Agustus 2020 - 17:46 WIB

Obati Pasien Covid-19, China Tak Pakai Hydroxychloroquine

Pil Hydroxychloroquine diletakkan di atas meja di Rock Canyon Pharmacy di Provo, Utah, pada 20 Mei 2020. Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 18 Mei 2020, ia telah menggunakan hydroxychloroquine selama hampir dua minggu sebagai tindakan pencegahan terhadap Covid-19. Menurut kajian terbaru yang terbit di jurnal Lancet, obat ini justru meningkatkan risiko kematian pada pasien Covid-19. Foto-AFP/George Frey via Kompas.com

apahabar.com, JAKARTA – China pernah menyarakan tidak menggunakan hydroxychloroquine dalam perawatan pasien infeksi virus corona.

Hydroxychloroquine merupakan obat malaria yang disebut-sebut secara kontroversial oleh Presiden AS Donald Trump sebagai obat ajaib untuk Covid-19.

Sebagai gantinya, China merekomendasikan penggunaan obat malaria serupa yang disebut chloroquine (klorokuin).

Rekomendasi itu adalah bagian dari pedoman pengobatan Covid-19 baru yang dirilis Rabu (19/8) serta diperbarui untuk pertama kalinya sejak 3 Maret lalu.

“Beberapa obat mungkin menunjukkan tingkat kemanjuran tertentu untuk pengobatan dalam studi pengamatan klinis, tetapi tidak ada obat antivirus yang efektif yang dikonfirmasi oleh uji klinis tersamar ganda, terkontrol plasebo,” kata Komisi Kesehatan Nasional dalam pedoman diagnosis dan pengobatan versi delapan.

Dilansir laman South China Morning Post pada Kamis (20/8), penggunaan hydroxychloroquine atau kombinasi penggunaannya dengan azitromisin itu tidak disarankan. Namun, pendoman yang sama mengatakan bahwa klorokuin dapat terus digunakan.

Obat antivirus lain yang direkomendasikan, termasuk interferon dan arbidol. Sementara itu, ribavirin harus digunakan bersama dengan lopinavir atau ritonavir.

Remdesivir, antivirus yang dikembangkan perusahaan farmasi Amerika, Gilead Sciences dan disetujui oleh Amerika Serikat, Eropa, dan Hong Kong untuk mengobati Covid-19, tidak ada dalam daftar terbaru obat yang direkomendasikan.

Menurut sebuh penelitian yang diterbitkan di The Lancet pada April, peneliti China melakukan uji coba terkontrol tersamar ganda dari remdesivir, tetapi tidak menemukan manfaat dari obat percobaan itu.

Para peneliti menambahkan bahwa studi tersebut dibatasi oleh ukuran sampel yang lebih kecil dari target. Sebuah studi terpisah yang dipimpin pemerintah AS mengatakan obat tersebut dapat mempersingkat waktu pemulihan pasien.

Steroid glukokortikoid tetap ada dalam daftar, tetapi tidak ada referensi khusus untuk deksametason, yakni glukokortikoid sintesis yang mengurangi kematian di antara pasien parah yang berjumlah sepertiga dalam studi terkontrol acak skala besar oleh Oxford University.

China adalah negara pertama yang merekomendasikan penggunaan klorokuin untuk mengobati pasien Covid-19, dengan ilmuan ahli pernapasan top Zhong Nanshan mendukung kuat rekomendasi itu.

Tim Zhong menerbitkan makalah yang ditinjau sejawat di National Science Review pada Mei mengatakan bahwa dalam penelitian terhadap 197 pasien menunjukkan obat malaria tampaknya memiliki beberapa manfaat pengobatan.

Namun, hasilnya dibandingkan dengan data riwayat pasien lain, bukannya kelompok acak yang diberi plasebo, standar emas untuk uji klinis.

Pedoman pengobatan nasional sebelumnya tidak menyebutkan hydroxychloroquine, yang secara luas dipandang sebagai turunan klorokuin.

Trump menyebut obat itu sebagai pengubah permainan mengobati Covid-19 dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pernah memberikan persetujuan bersyarat untuk penggunaannya.

Namun, FDA mencabut otorisasi penggunaan daruratnya pada Juni lalu, setelah beberapa uji coba terkontrol secara acak menunjukkan obat itu tidak memiliki manfaat.(Rep)

Editor: Aprianoor

Editor: Uploader - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Benarkah Anak Terlahir Caesar Sistem Imunnya Terganggu?
apahabar.com

Gaya

Tips Menggoreng Ikan Lele yang Benar
apahabar.com

Gaya

Google Memungkinkan Bahasa Isyarat dalam Panggilan Video
apahabar.com

Gaya

Lebaran dan Nuansa Serba Baru

Gaya

Berjuang, Starcase Event Banjarmasin Gelar Konser Musik dengan Prokes Covid-19
apahabar.com

Gaya

Melihat Risiko Tertular Covid-19 dari Berbicara
apahabar.com

Gaya

Ragam Kuliner Nusantara Ala Accor Culinary Journey Kalimantan
apahabar.com

Gaya

Ketahui 3 Bahaya Narkotika pada Otak
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com