Magrib, Mayat di Jembatan Kayu Tangi Gegerkan Warga Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin: Waktu Belajar Dipangkas, Sehari Hanya 5 Jam Sehari Jelang Penutupan, Pendaftar BLT UMKM di Batola Capai 5.000 Orang Pencuri Hp Rosehan Diciduk Polisi, Ini Dalih Tersangka Kronologi Pria Kelumpang Tengah Tewas Disengat Ribuan Lebah

Penggunaan Gawai Jadi Kebiasaan Baru, Simak Tips Dokter Mata

- Apahabar.com Senin, 17 Agustus 2020 - 07:00 WIB

Penggunaan Gawai Jadi Kebiasaan Baru, Simak Tips Dokter Mata

Ilustrasi ibu dan anak menggunakan gawai. Foto-Shutterstock via Tempo

apahabar.com, JAKARTA – Dokter spesialis mata RSUI Anissa Nindhyatriayu Witjaksono mengatakan penggunaan gawai semisal smartphone atau laptop untuk keperluan belajar di masa adaptasi kebiasaan baru seperti yang banyak dilakukan anak-anak saat ini tidak akan berdampak secara langsung pada mata (menjadi minus).

Namun, dia mengingatkan perlunya pengaturan jarak penggunaannya karena near-work activity yang mempengaruhi perkembangan miopia, akibat adanya kecenderungan untuk melihat benda, termasuk gawai dalam jarak terlalu dekat.

“Penggunaan gadget tidak menjadi masalah sepanjang penggunaan tersebut tidak berlangsung lama. Namun jika terlalu lama akibatnya dapat membuat mata cenderung menjadi lelah. Hal ini dikarenakan biasanya anak-anak (dan juga orang dewasa) menatap gadget dalam membuat frekuensi berkedip berkurang,” kata Anissa dalam siaran persnya, ditulis Minggu.

Menurut dia, pada keadaan normal mata manusia normalnya berkedip 15 kali per menit. Namun, cahaya gawai bisa menyebabkan orang hanya berkedip 5-7 kali per menit dan inilah yang menyebabkan mata menjadi lelah.

Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan, yakni melakukan metode 20-20-20 yakni 20 menit melihat gawai, lalu 20 detik istirahat melihat atap langit-langit atau benda jauh sekitar 6 meter (20 kaki).

Pada anak, Anissa merekomendasikan penggunaan gawai hanya difokuskan untuk keperluan sekolah, sementara untuk aktivitas hiburan sebaiknya dialihkan dengan aktivitas lain.

Hal ini salah satunya demi menghindari terjadinya kelainan refraksi, atau kondisi dimana gambaran benda yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan dengan tepat di retina. Akibatnya, bayangan benda terlihat buram atau tidak tajam.

Kelainan refraksi dibagi menjadi tiga yaitu rabun jauh (miopi), rabun dekat (hiperopia) dan astigmatisma (mata silinder).

“Kelainan refraksi merupakan kelainan mata terbanyak di masyarakat, tak terkecuali dengan anak-anak. Ada beberapa gejala kelainan refraksi pada anak yang dapat menjadi acuan orang tua yaitu pandangan buram, mengernyitkan dahi saat melihat, mendekatkan mata saat membaca dan prestasi di sekolah menurun. Jika anak-anak mengalami salah satu gejala tersebut tentunya orangtua harus segera mewaspadai.” ujar Anissa.

Kelainan refraksi disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan atau kebiasaan. Pada faktor lingkungan, dipengaruhi oleh aktivitas luar, jarak baca dan pencahayaan saat membaca.

Hasil penelitian menunjukan, anak yang memiliki waktu 40 menit bermain di luar per hari dapat mengurangi resiko progresivitas miopia (rabun jauh).(Ant)

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Mencicipi Sedapnya Nasi Kuning Sinar Pagi Batulicin
apahabar.com

Gaya

Memilih Makanan Sahur agar Tetap Bugar selama Berpuasa, Berikut Tipsnya
apahabar.com

Gaya

Masuk ‘Dessert’ Paling Enak, Cendol Diperebutkan Singapura dan Malaysia
apahabar.com

Gaya

Ponsel Gamers, Asus ROG Phone II Dibanderol Mulai Rp 8 Jutaan
apahabar.com

Gaya

Kominfo Pastikan Data Aplikasi PeduliLindungi Tidak Bocor
apahabar.com

Gaya

Ada Juga Modifikasi Gerobak
apahabar.com

Gaya

Jangan Gunakan Neck Gaiter untuk Gantikan Masker
apahabar.com

Gaya

Begini Cara Mudah Memilih Alpukat yang Sudah Matang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com