Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya Otsus Jilid Dua, Semangat Baru Pembangunan Papua

Sains Mengungkap Kebenaran Al-Qur’an Tentang Cerita Ashabul Kahfi

- Apahabar.com Kamis, 20 Agustus 2020 - 13:33 WIB

Sains Mengungkap Kebenaran Al-Qur’an Tentang Cerita Ashabul Kahfi

Gua Ashabul Kahfi di Yordania. Sumber: net

apahabar.com, JAKARTA – Kisah Ashabul Kahfi adalah salah satu kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Kisah di zaman sebelum kelahiran Rasulullah SAW tersebut pun kemudian dijadikan kaum kafir untuk mempertanyakan kebenaran cerita tersebut.

Seiring perjalanan waktu, ilmu pengetahuan kemudian mengungkap kebenaran apa yang diceritakan Alqur’an.

Pakar tafsir terkemuka Indonesia, Prof Quraish Shihab menjelaskan dalam buku Mukjizat Al-Qur’an, keberadaan gua Ashabul Kahfi banyak diteliti dari masa ke masa. Di dalam Alquran sendiri, Allah SWT melukiskan gua tersebut dengan redaksi yang termaktub dalam surat Al-Kahfi ayat 17.

Allah berfirman yang artinya: “Engkau melihat matahari ketika terbit dan condong dari gua mereka ke sebelah kanan dan apabila terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedangkan mereka berada dalam tempat yang luas di dalam gua itu.”

Prof Quraish menjabarkan, membuktikan keberadaan gua Ashabul Kahfi sebelum maraknya penelitian arkeologi tidaklah mudah. Namun sebagaimana yang disebutkan Thabathaba’i dalam tafsir Al-Mizan, beliau mengutip, sumber-sumber barat pun menyebutkan paling tidak empat kesimpulan tentang kisah Ashabul Kahfi yang walaupun berbeda dalam perinciannya, namun tetap sama dalam pokok kisahnya.

Di sisi lain telah ditemukan sekian banyak gua di Epsus, Damaskus, dan Iskandinavia yan masing-masing penemuannya mengklaim bahwa gua itulah yang merupakan gua Ashabul Kahfi. Namun sayangnya, ciri-ciri gua tidak sepenuhnya sama dengan apa yang dilukiskan Alqur’an.

Barulah pada 1963, seorang Arkeolog Yordania, Rafiq Wafa Ad-Dajani, menemukan sebuah gua yang terletak sekitar delapan kilometer dari Amman ibu kota Yordania. Gua itu memiliki ciri-ciri seperti yang diuraikan Al-Qur’an.

Gua yang diteliti Rafiq berada di atas dataran tinggi menuju arah tenggara.

Sedangkan kedua sisinya berada di sebelah timur dan barat dan terbuka sedemikian rupa sehingga cahaya matahari dapat menembus masuk ke dalamnya.

Di dalam gua terdapat ruangan kecil yang luasnya sekitar tiga kali dua setengah meter. Ditemukan juga di dalam gua tersebut tujuh atau delapan kuburan. Pada dinding-dindingnya terdapat tulisan Yunani kuno yang sudah tidak bisa terbaca lagi, sebagaimana terdapat pula gambar seekor anjing dan beberapa ornamen.

Sedangkan di atas gua itu terdapat sebuah tempat peribadatan ala Bizantium; mata uang yang ditemukan di sekitarnya menunjukkan bahwa tempat tersebut dibangun pada masa pemerintahan Justinius 1 (418-427 Masehi). Ciri-ciri yang disebutkan itu sesuai dengan yang dikemukakan Al-Qur’an.

Di sisi lain, para sejarawan Muslim dan Kristen mengakui bahwa penguasa yang menindas pengikut-pengikut Nabi Isa antara lain adalah yang memerintah pada tahun 98 Masehi hingga 117 Masehi atau sekitar tahun 112 Masehi.

Pada tahun-tahun tersebut, penguasa di zaman itu menetapkan bahwa setiap orang yang menolak menyembah dewa-dewa dijatuhi hukuman sebagai pengkhianat.

Sedangkan para sejarawan Muslim maupun Kristen pun sepakat bahwa penguasa yang bijaksana adalah Theodusius yang memerintah selama tahun 408 Masehi-452 Masehi. Di sini sekali lagi bahwa terdapat kecocokan antara informasi dari kalangan sejarawan dengan yang disebutkan Al-Qur’an.

Disebutkan, apabila pemuda yang berlindung itu menghindar dari ketetapan penguasa yang dikeluarkan pada 112 Masehi itu, dan mereka tertidur selama 300 tahun, itu artinya mereka terbangun dari tidur sekitar tahu 412 Masehi. Yaitu di masa pemerintahan yang berkuasa telah membebaskan orang-orang Kristen dari penindasan.

Dari sejarah ini juga diketahui mengapa peristiwa ini tidak disebut di dalam kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Sebab memang kisah ini terjadinya jauh setelah masa Nabi Isa AS. Demikianlah sekali lagi kebenaran Alquran terbukti saat dipadukan dengan sains.

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Religi

Ribuan Jemaah Hadiri Haul Guru Bawai
apahabar.com

Habar

Kisah Inspiratif Ilmuwan Muslim Pelopor Perkembangan Robot Modern
apahabar.com

Religi

Jasa Besar Zaid bin Tsabit RA dalam Islam
apahabar.com

Religi

Kapal Datu Kelampayan Hampir Tenggelam, Ternyata Jin Ini Pelakunya
apahabar.com

Hikmah

Youtuber Mualaf Jay Kim: Dulu Takut Masjid, Sekarang Favorit
apahabar.com

Habar

Menlu RI Lobi Agar Jemaah Indonesia Diperbolehkan Umrah, Begini Tanggapan Arab Saudi
apahabar.com

Religi

Sikap Guru Seman Mulya Ketika Kakinya Patah
apahabar.com

Religi

Ditemukan Manuskrip Lampung, Ungkap Sejarah Dakwah Islam
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com