Ibadah Ramadan di Banjarbaru Diperbolehkan dengan Prokes, Petasan Jangan! Bawaslu Kalsel Tanggapi Santai Aduan Denny Indrayana ke Pusat Kronologi Lengkap Penemuan Jasad Tak Utuh di Gang Jemaah II Banjarmasin Mudik Dilarang, Terminal Pal 6 Banjarmasin Tutup Rute Antarkabupaten-kota Mudik Ramadan Dilarang, Pertamina Kalimantan Tambah 3 Persen Pasokan Gas

Sempat Menguat, Rupiah Kembali Berpotensi Tertekan

- Apahabar.com Jumat, 28 Agustus 2020 - 12:15 WIB

Sempat Menguat, Rupiah Kembali Berpotensi Tertekan

Ilustrasi rupiah dan dolar AS. Foto: Antara

apahabar.com, JAKARTA – Sempat menguat, nilai tukar (kurs) rupiah berpotensi kembali tertekan.

Hal itu seiring sinyal dovish atau pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS The Fed

Pada pukul 9.43 WIB, rupiah dilaporkan melemah 32 poin atau 0,21 persen menjadi Rp14.692 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.660 per dolar AS.

Semalam pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di pertemuan para pejabat bank sentral dunia Jackson Hole secara virtual memberikan gambaran yang dovish atau pesimis mengenai kondisi ekonomi AS dan ingin mendorong inflasi AS melebihi target inflasi saat ini di atas 2 persen.

“Ini memberi indikasi bahwa The Fed akan mengeluarkan kebijakan pelonggaran moneter yang mungkin lebih agresif untuk membantu memulihkan ekonomi AS. Sikap ini mendukung pelemahan nilai tukar dolar AS,” ujar Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat (28/8).

Tapi di sisi lain, lanjut Ariston, pernyataannya ditangkap oleh pelaku pasar bahwa inflasi di AS ke depan akan lebih tinggi dari saat ini.

“Inflasi yang naik biasanya mendorong penguatan nilai tukarnya sehingga semalam dollar AS menguat terhadap nilai tukar lainnya,” katanya.

Secara keseluruhan sikap The Fed tersebut akan memberikan sentimen positif ke depan untuk aset berisiko karena memberikan stimulus ke pasar untuk mendorong kenaikan inflasi dan membantu pemulihan ekonomi di AS.

“Tapi reaksi pasar semalam dengan penguatan dolar AS mungkin akan terbawa ke pasar Asia pagi ini yang bisa memberikan tekanan ke nilai tukar emerging market,” ujar Ariston.

Menurut Ariston, rupiah mungkin bisa tertekan di awal perdagangan terhadap dolar AS dan bisa saja menguat di akhir perdagangan dengan sentimen di atas.

Ariston memperkirakan rupiah berpotensi melemah di kisaran Rp14.550 per dolar AS hingga Rp14.750 per dolar AS.

Pada Kamis (27/8) lalu, rupiah ditutup menguat 18 poin atau 0,12 persen menjadi Rp14.660 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.678 per dolar AS. (Ant)

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

BPH Migas Dukung Penurunan Harga Gas Industri
apahabar.com

Ekbis

Biang Kerok Mahalnya Gula Pasir di Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Jumat Pagi Mendekati Rp 14.100
apahabar.com

Ekbis

Transaksi Nontunai Gaya Hidup Kekinian
apahabar.com

Ekbis

UU Ciptaker Dongkrak Rupiah ke No 1
apahabar.com

Ekbis

Bahan Pokok di Pasar Marabahan Diprediksi Aman Sebulan ke Depan
apahabar.com

Ekbis

Digiku Kredit untuk UMKM
apahabar.com

Ekbis

Penerbangan Subsidi Buntok-Banjarmasin Turun Drastis
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com