Ratusan Rumah Terbakar, Dapur Umum Mulai Dibuka di Patmaraga Kotabaru Alasan Mengapa Api di Patmaraga Kotabaru 5 Jam Baru Padam Usai Beasiswa 1000 Doktor, SHM Bakal Cetak Ribuan Sarjana Baru di Tanah Bumbu Sederet Prestasi Niha, Hafizah Cilik Kotabaru dari MTQ Tingkat Kabupaten hingga Provinsi Polisi Anulir Pernyataan Status Tersangka Dua Mahasiswa Kalsel

Sempat Menguat, Rupiah Kembali Berpotensi Tertekan

- Apahabar.com Jumat, 28 Agustus 2020 - 12:15 WIB

Sempat Menguat, Rupiah Kembali Berpotensi Tertekan

Ilustrasi rupiah dan dolar AS. Foto: Antara

apahabar.com, JAKARTA – Sempat menguat, nilai tukar (kurs) rupiah berpotensi kembali tertekan.

Hal itu seiring sinyal dovish atau pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS The Fed

Pada pukul 9.43 WIB, rupiah dilaporkan melemah 32 poin atau 0,21 persen menjadi Rp14.692 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.660 per dolar AS.

Semalam pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di pertemuan para pejabat bank sentral dunia Jackson Hole secara virtual memberikan gambaran yang dovish atau pesimis mengenai kondisi ekonomi AS dan ingin mendorong inflasi AS melebihi target inflasi saat ini di atas 2 persen.

“Ini memberi indikasi bahwa The Fed akan mengeluarkan kebijakan pelonggaran moneter yang mungkin lebih agresif untuk membantu memulihkan ekonomi AS. Sikap ini mendukung pelemahan nilai tukar dolar AS,” ujar Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat (28/8).

Tapi di sisi lain, lanjut Ariston, pernyataannya ditangkap oleh pelaku pasar bahwa inflasi di AS ke depan akan lebih tinggi dari saat ini.

“Inflasi yang naik biasanya mendorong penguatan nilai tukarnya sehingga semalam dollar AS menguat terhadap nilai tukar lainnya,” katanya.

Secara keseluruhan sikap The Fed tersebut akan memberikan sentimen positif ke depan untuk aset berisiko karena memberikan stimulus ke pasar untuk mendorong kenaikan inflasi dan membantu pemulihan ekonomi di AS.

“Tapi reaksi pasar semalam dengan penguatan dolar AS mungkin akan terbawa ke pasar Asia pagi ini yang bisa memberikan tekanan ke nilai tukar emerging market,” ujar Ariston.

Menurut Ariston, rupiah mungkin bisa tertekan di awal perdagangan terhadap dolar AS dan bisa saja menguat di akhir perdagangan dengan sentimen di atas.

Ariston memperkirakan rupiah berpotensi melemah di kisaran Rp14.550 per dolar AS hingga Rp14.750 per dolar AS.

Pada Kamis (27/8) lalu, rupiah ditutup menguat 18 poin atau 0,12 persen menjadi Rp14.660 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.678 per dolar AS. (Ant)

Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Pertumbuhan Inklusi di Indonesia Bagian Timur Dinilai Lambat
apahabar.com

Ekbis

Manjakan Pecinta Otomotif, Suzuki XL7 Mampu Lalui Medan Off-road
apahabar.com

Ekbis

Bank Indonesia Target 17 Juta Pedagang QRIS di 2020
apahabar.com

Ekbis

Perusahaan Korsel Niat Ikut Bikin Motor Listrik di Indonesia  
apahabar.com

Ekbis

Impor Hewan Hidup dari China Resmi Dilarang, Berikut Daftarnya
apahabar.com

Ekbis

Jelang Pelantikan Presiden, Pedagang Bingkai Mulai Jual Foto Jokowi-Ma’ruf
apahabar.com

Ekbis

Aksi Buru Saham Murah, Simak Dampaknya pada IHSG Hari Ini
apahabar.com

Ekbis

Ketua Umum Hipmi Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Berjalan Cepat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com