Breaking News! Warga Tangkap Buaya Pemangsa di Pantai Kotabaru Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota BPPTKG: Volume Kubah Lava Merapi Masih Tergolong Kecil Sedikit Surut, Puluhan Rumah di Martapura Masih Terendam Banjir

Setiap Hari, Sekitar 100-200 Anak Positif Covid-19

- Apahabar.com Rabu, 5 Agustus 2020 - 20:46 WIB

Setiap Hari, Sekitar 100-200 Anak Positif Covid-19

Ilustrasi bayi terinfeksi virus corona. Foto-Shutterstock.com

apahabar.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan mengungkapkan, sekitar 100 hingga 200-an anak terkonfirmasi positif Covid-19 per harinya dan datanya terus berfluktuasi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, dr Fidiansjah menyebutkan, data per tanggal 2 Agustus 2020 sebanyak 8,3 persen kasus positif Covid-19 terjadi pada anak atau total 9.390 kasus positif anak usia 0-18 tahun.

“Dari sejumlah itu, 8,1 persen dirawat di rumah sakit, 8,7 persen sembuh, dan 1,9 persen meninggal dunia,” katanya melalui telekonferensi, Rabu (5/8).

Ia mengatakan, berdasarkan tren kasus positif Covid-19 yang dialami oleh anak sejak 1 Juli hingga 2 Agustus 2020, angkanya fluktuatif dengan paling rendah 101 kasus per hari dan terbanyak 213 kasus per hari.

Fidiansjah menambahkan, dampak Covid-19 tidak hanya berimplikasi langsung pada kesehatan anak, tetapi juga pada psikososialnya.

Pada masa pandemi Covid-19, anak juga memiliki risiko yang meningkat terhadap gangguan kesehatan jiwa karena dampak tidak langsung dari Covid-19 seperti efek belajar dari rumah hingga tidak mendapatkan perhatian dari orang tua.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, 47 persen anak merasa bosan tinggal di rumah, 35 persen khawatir ketinggalan pelajaran, 15 persen merasa tidak aman, 34 persen merasa takut terinfeksi virus Covid-19, 20 persen merindukan teman-temannya, dan 10 persen merasa khawatir terhadap penghasilan orang tua yang mulai berkurang.

Dari penerapan sistem pembelajaran jarak jauh tersebut, Kemenkes mencatat sebanyak 32 persen anak tidak mendapatkan program belajar dalam bentuk apapun sedangkan 68 persen anak memiliki akses.

Dalam masa pandemi di mana sistem pembelajaran dilakukan dari jarak jauh, Kemenkes mencatat, 37 persen anak tidak bisa mengatur waktu belajarnya, 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran, 21 persen anak tidak memahami instruksi dari guru.

Selain itu, Fidiansjah juga memberikan catatan, dikarenakan adanya sistem pembelajaran jarak jauh melalui daring meningkatkan kekerasan fisik terhadap anak (11 persen), dan kekerasan verbal pada anak (62 persen).

Menurut Fidiansjah, hal itu dikarenakan beban orang tua yang bertambah untuk memberikan pelajaran kepada anak sementara harus menuntaskan pekerjaan sehari-harinya.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Ganja Jadi Komoditas Binaan Tanaman Obat, Apa Maksudnya?
apahabar.com

Nasional

Haji 2019; Bawa Power Bank, Siap-Siap Bongkar Koper
apahabar.com

Nasional

Ingin Dapat BLT Desa Rp 600 Ribu per Bulan? Simak Syaratnya
Pilkada

Nasional

Target Pemilih 77,55 Persen Pilkada 2020, Analis: Ketinggian
apahabar.com

Nasional

Giliran Pengantin Baru Jadi Foto Model Jalan Rusak
Muhammadiyah

Nasional

Muhammadiyah Dorong Bank Syariah Indonesia Memihak Usaha Kecil
apahabar.com

Nasional

Duh, Ada Varian Baru Covid-19 Ditemukan, Bagaimana dengan Vaksin Sekarang?
apahabar.com

Nasional

Perawat Pasien Covid-19 Pun Rindu Pulang, Ajak Masyarakat Taat Protokol Kesehatan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com