Mengejutkan, Kakak Haji Isam Ungguli Popularitas Cuncung dan Mila Karmila di Pilbup Tanbu 2020 Kasus Covid-19 Indonesia Tembus 275.213, Letjen Doni Sebut OTG Silent Killer Buron, Suami Penggorok Istri di Kintap Tala Kuasai Medan Pelarian KDRT di Kintap Tala: Cemburu, Suami Tebas Leher Istri Link Live Streaming MotoGP Catalunya 2020, Live Trans7, Kans Rossi Podium

Setiap Hari, Sekitar 100-200 Anak Positif Covid-19

- Apahabar.com Rabu, 5 Agustus 2020 - 20:46 WIB

Setiap Hari, Sekitar 100-200 Anak Positif Covid-19

Ilustrasi bayi terinfeksi virus corona. Foto-Shutterstock.com

apahabar.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan mengungkapkan, sekitar 100 hingga 200-an anak terkonfirmasi positif Covid-19 per harinya dan datanya terus berfluktuasi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, dr Fidiansjah menyebutkan, data per tanggal 2 Agustus 2020 sebanyak 8,3 persen kasus positif Covid-19 terjadi pada anak atau total 9.390 kasus positif anak usia 0-18 tahun.

“Dari sejumlah itu, 8,1 persen dirawat di rumah sakit, 8,7 persen sembuh, dan 1,9 persen meninggal dunia,” katanya melalui telekonferensi, Rabu (5/8).

Ia mengatakan, berdasarkan tren kasus positif Covid-19 yang dialami oleh anak sejak 1 Juli hingga 2 Agustus 2020, angkanya fluktuatif dengan paling rendah 101 kasus per hari dan terbanyak 213 kasus per hari.

Baca juga :  Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Meninggal Akibat Covid-19

Fidiansjah menambahkan, dampak Covid-19 tidak hanya berimplikasi langsung pada kesehatan anak, tetapi juga pada psikososialnya.

Pada masa pandemi Covid-19, anak juga memiliki risiko yang meningkat terhadap gangguan kesehatan jiwa karena dampak tidak langsung dari Covid-19 seperti efek belajar dari rumah hingga tidak mendapatkan perhatian dari orang tua.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, 47 persen anak merasa bosan tinggal di rumah, 35 persen khawatir ketinggalan pelajaran, 15 persen merasa tidak aman, 34 persen merasa takut terinfeksi virus Covid-19, 20 persen merindukan teman-temannya, dan 10 persen merasa khawatir terhadap penghasilan orang tua yang mulai berkurang.

Dari penerapan sistem pembelajaran jarak jauh tersebut, Kemenkes mencatat sebanyak 32 persen anak tidak mendapatkan program belajar dalam bentuk apapun sedangkan 68 persen anak memiliki akses.

Baca juga :  Selama 7 Bulan, 6.248 Jenazah di Jakarta Dimakamkan dengan Protap Covid-19

Dalam masa pandemi di mana sistem pembelajaran dilakukan dari jarak jauh, Kemenkes mencatat, 37 persen anak tidak bisa mengatur waktu belajarnya, 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran, 21 persen anak tidak memahami instruksi dari guru.

Selain itu, Fidiansjah juga memberikan catatan, dikarenakan adanya sistem pembelajaran jarak jauh melalui daring meningkatkan kekerasan fisik terhadap anak (11 persen), dan kekerasan verbal pada anak (62 persen).

Menurut Fidiansjah, hal itu dikarenakan beban orang tua yang bertambah untuk memberikan pelajaran kepada anak sementara harus menuntaskan pekerjaan sehari-harinya.(Ant)

Editor: Aprianoor

Uploader - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Dirikan 8 Dapur Umum di Lokasi Terdampak Tsunami Selat Sunda
apahabar.com

Nasional

Pasca Tsunami, Kpu Diminta Data Kembali Pemilih Donggala
apahabar.com

Nasional

Presiden Jokowi Tandatangani PP Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi
apahabar.com

Nasional

Perum Bulog Siap Salurkan Beras untuk 10 Juta Keluarga Terdampak Pandemi
apahabar.com

Nasional

Deretan Kursi Kosong Warnai Paripurna DPR Pengesahan Revisi UU KPK

Nasional

Menggigil hingga Sakit Kepala, Mungkin Gejala Baru Covid-19
apahabar.com

Nasional

Lonjakan Harta Remigo Yolando Berutu, Bupati yang Terjaring OTT KPK
apahabar.com

Nasional

Jumlah Korban Jiwa Serangan Bom di Sri Lanka Capai 207
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com